Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cara Thomas Tuchel Meredam Lionel Messi, Ini Cetak Biru Inggris ke Final Piala Dunia 2026

Niklaas Andries • Senin, 13 Juli 2026 | 04:45 WIB
STRATEGI KHUSUS; Thomas Tuchel diharapkan mampu redam Messi saat Inggris bersua Argentina di Piala Dunia 2026
STRATEGI KHUSUS; Thomas Tuchel diharapkan mampu redam Messi saat Inggris bersua Argentina di Piala Dunia 2026

RADARBANYUWANGI.ID – Selama lebih dari dua dekade berkarier di level internasional, Lionel Messi telah menghadapi hampir seluruh kekuatan besar sepak bola dunia. Namun ada satu negara elite yang belum pernah menjadi lawannya di level senior, yakni Inggris.

Catatan itu akhirnya berakhir pada Rabu malam (16/7) ketika Timnas Inggris besutan Thomas Tuchel berhadapan dengan Argentina asuhan Lionel Scaloni dalam semifinal Piala Dunia 2026.

Laga ini bukan sekadar duel dua raksasa sepak bola dunia. Pertandingan juga menjadi panggung pertarungan taktik antara pelatih sekaligus ujian terbesar bagi Inggris untuk menghentikan pemain yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah.

Kedua tim datang dengan modal yang sama-sama menguras tenaga. Inggris harus bekerja keras menundukkan Norwegia 2-1 lewat babak tambahan pada perempat final. Di sisi lain, Argentina juga membutuhkan 120 menit untuk mengalahkan Swiss 3-1 setelah bermain imbang pada waktu normal. Kini fokus utama publik Inggris tertuju pada satu nama: Lionel Messi.

Pengalaman Pemain Inggris Menghadapi Messi

Skuad Inggris sebenarnya tidak sepenuhnya buta menghadapi Messi. Beberapa pemain senior pernah merasakan langsung bagaimana sulitnya menghentikan megabintang Argentina tersebut di level klub.

Kapten Harry Kane menjadi salah satunya. Saat masih memperkuat Tottenham Hotspur, Kane dua kali menghadapi Barcelona pada fase grup Liga Champions musim 2018–2019.

Pada pertemuan pertama di Wembley, Kane dan Messi sama-sama mencetak gol. Namun Messi tampil luar biasa dengan dua gol yang membawa Barcelona menang 4-2.

Pertemuan kedua di Camp Nou menghasilkan cerita berbeda. Tottenham berhasil mencuri hasil imbang yang memastikan tiket ke babak 16 besar berkat gol telat Lucas Moura. Pengalaman itu memberi Kane gambaran bahwa Messi memang bisa dibatasi apabila sebuah tim bermain disiplin. Bek tengah John Stones bahkan lebih sering berjumpa Messi ketika membela Manchester City.

Musim 2016–2017 menjadi pengalaman pahit sekaligus berharga. City dihancurkan Barcelona 0-4 di Camp Nou lewat hattrick Messi sebelum membalas kemenangan 3-1 pada laga kedua di Etihad Stadium. Tak heran apabila Stones pernah menyebut Messi sebagai lawan tersulit sepanjang karier profesionalnya.

Nama lain yang memiliki kenangan manis adalah Jordan Henderson.

Sebagai kapten Liverpool, Henderson menjadi bagian dari salah satu comeback terbesar Liga Champions saat membalikkan kekalahan agregat 0-3 menjadi kemenangan fenomenal 4-0 atas Barcelona pada semifinal musim 2018–2019.

Kala itu Messi memang mencetak dua gol pada leg pertama, termasuk tendangan bebas spektakuler. Namun di Anfield, Liverpool sukses mematikan kreativitas Barcelona sebelum akhirnya mengangkat trofi Liga Champions.

Pengalaman tersebut menjadi modal psikologis penting bagi Henderson menjelang duel melawan Argentina.

Swiss Memberikan Contoh Cara Menghentikan Messi

Jika ada tim yang berhasil memberikan petunjuk bagaimana meredam Messi di Piala Dunia 2026, maka Swiss adalah jawabannya.

Sebelum semifinal, Messi tampil luar biasa dengan delapan gol dari enam pertandingan. Catatan tersebut membuatnya sejajar dengan Kylian Mbappe di puncak daftar pencetak gol terbanyak turnamen.

Namun Swiss menjadi tim pertama yang berhasil mencegah Messi mencetak gol sepanjang turnamen.

Dalam laga perempat final, Argentina memang akhirnya menang 3-1 setelah babak tambahan. Akan tetapi selama 90 menit pertandingan berakhir imbang 1-1.

Messi masih sempat menciptakan assist pada menit ke-10, tetapi setelah itu pengaruhnya jauh berkurang.

Sepanjang 120 menit, kapten Argentina tersebut hanya mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran. Kiper Swiss Gregor Kobel bahkan menjadi penjaga gawang pertama di Piala Dunia 2026 yang mampu membuat Messi gagal mencetak gol.

Keberhasilan Swiss bukan karena melakukan penjagaan individu secara ketat, melainkan menjaga organisasi permainan tetap rapat.

Tim asuhan Murat Yakin nyaris tidak pernah memberi ruang kepada Messi untuk menerima bola di area sentral. Setiap kali sang kapten Argentina berusaha bergerak di antara lini tengah dan pertahanan, selalu ada dua hingga tiga pemain Swiss yang langsung menutup ruang geraknya.

Strategi tersebut membuat ritme permainan Argentina beberapa kali terputus sebelum akhirnya mereka menang berkat gol Julian Alvarez dan Lautaro Martinez pada babak tambahan.

Cetak Biru Thomas Tuchel untuk Menjinakkan Messi

Pendekatan Swiss kemungkinan besar menjadi referensi utama Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman itu diprediksi tidak akan menerapkan penjagaan satu lawan satu terhadap Messi. Sebaliknya, ia lebih mungkin menginstruksikan blok pertahanan yang kompak agar ruang gerak pemain berusia 39 tahun tersebut semakin sempit.

Peran Declan Rice diperkirakan menjadi sangat vital.

Jika tampil sejak menit pertama, gelandang Arsenal itu akan bertugas menjaga keseimbangan lini tengah sekaligus mencegah Messi menerima bola dengan posisi menghadap gawang Inggris. Tuchel juga harus menentukan seberapa agresif timnya melakukan tekanan.

Bertahan terlalu dalam memang bisa membatasi ruang Messi, tetapi strategi itu juga berisiko memberi Argentina kesempatan mendominasi penguasaan bola.

Sebaliknya, tekanan tinggi membuka ruang di belakang lini pertahanan yang sangat berbahaya ketika Argentina memiliki pemain-pemain cepat seperti Julian Alvarez maupun Lautaro Martinez.

Inggris Juga Harus Menyerang

Satu hal yang tidak boleh dilupakan Inggris adalah Messi bukan satu-satunya ancaman Argentina.

Terlalu fokus menghentikan peraih delapan Ballon d'Or tersebut justru dapat membuka ruang bagi pemain-pemain lain untuk menentukan pertandingan. Di sisi lain, Inggris juga memiliki peluang mengeksploitasi kelemahan Messi ketika Argentina kehilangan bola.

Pada usia 39 tahun, intensitas bertahan Messi tidak lagi setinggi masa mudanya. Ia lebih banyak menghemat energi untuk membangun serangan.

Kondisi tersebut bisa dimanfaatkan pemain-pemain sayap Inggris dengan melakukan serangan cepat melalui sisi lapangan. Semakin sering Messi dipaksa turun membantu pertahanan, semakin besar pula peluang Inggris mengurangi efektivitasnya saat menyerang.

Pertarungan Taktik Menentukan Tiket Final

Semifinal ini tidak akan ditentukan hanya oleh aksi individu Messi maupun ketajaman Harry Kane. Laga kemungkinan besar dimenangkan oleh tim yang paling disiplin menjalankan rencana taktik selama 90 hingga 120 menit.

Thomas Tuchel harus menemukan keseimbangan antara menghormati kualitas Messi tanpa kehilangan identitas permainan Inggris. Swiss sudah membuktikan bahwa Messi dapat dibatasi melalui organisasi pertahanan yang rapi, bukan sekadar penjagaan individu.

Apabila Inggris mampu menutup ruang di lini tengah, memaksa Argentina bermain melebar, sekaligus memanfaatkan transisi cepat ketika Messi tidak ikut bertahan, peluang Three Lions mencapai final Piala Dunia pertama sejak 1966 akan terbuka lebar.

Sebaliknya, satu kelengahan saja sudah cukup bagi Lionel Messi untuk kembali menunjukkan mengapa ia masih menjadi pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#semifinal piala dunia 2026 #inggris vs argentina #Lionel Messi #thomas tuchel #Timnas Inggris