RADARBANYUWANGI.ID - Kompetisi UEFA Europa League dan pendahulunya, UEFA Cup, telah melahirkan banyak rekor luar biasa sepanjang sejarah. Sejak format final satu pertandingan di tempat netral mulai diterapkan pada musim 1997-1998, turnamen kasta kedua Eropa itu menghadirkan drama, hujan gol, hingga penampilan individu yang legendaris.
Berikut deretan rekor paling menarik dalam sejarah final UEFA Cup dan Europa League.
Sevilla Paling Dominan di Final Europa League
Baca Juga: USP SD Banyuwangi 2026 Dimulai, Ribuan Siswa Kelas VI Jalani Ujian Penentu Kelulusan
Sevilla FC tercatat sebagai klub tersukses dalam sejarah kompetisi ini dengan koleksi tujuh gelar juara.
Klub asal Spanyol tersebut menjuarai turnamen pada 2006, 2007, 2014, 2015, 2016, 2020, dan 2023.
Selain itu, Sevilla juga menjadi klub dengan jumlah final terbanyak, yakni tujuh partai final.
Baca Juga: RSUD Blambangan Hadirkan Pijat Oksitosin untuk Ibu Nifas, Bantu ASI Lancar dan Kurangi Kecemasan
Di bawah Sevilla terdapat Inter Milan yang telah tampil dalam lima final.
Final Paling Subur: Liverpool vs Alavés
Final UEFA Cup 2001 antara Liverpool F.C. dan Deportivo Alaves masih menjadi pertandingan final paling produktif sepanjang sejarah kompetisi.
Liverpool menang dramatis 5-4 setelah perpanjangan waktu dalam laga yang menghasilkan sembilan gol.
Gol bunuh diri Delfí Geli pada menit ke-116 memastikan kemenangan The Reds melalui aturan golden goal yang kala itu masih berlaku.
Dalam laga tersebut, Markus Babbel juga mencatat sejarah lewat gol tercepat final Europa League, yakni hanya dalam tiga menit pertandingan.
Final dengan Kemenangan Terbesar
Sevilla juga memegang rekor kemenangan terbesar di final setelah menghancurkan Middlesbrough dengan skor 4-0 pada final 2006. Dominasi klub Andalusia itu menjadi awal era kejayaan mereka di Eropa.
Ademola Lookman Ukir Hat-trick Bersejarah
Ademola Lookman mencatat sejarah pada final 2024 ketika membawa Atalanta BC mengalahkan Bayer 04 Leverkusen 3-0.
Ia menjadi pemain pertama yang mencetak hat-trick di final era Europa League satu pertandingan.
Sebelumnya, catatan trigol di final hanya pernah dibuat Jupp Heynckes bersama Borussia Monchengladbach pada final dua leg tahun 1975.
Pemain Tertua dan Termuda di Final
Gary McAllister menjadi pencetak gol tertua di final saat membawa Liverpool menghadapi Alavés pada usia 36 tahun 142 hari.
Sementara gelar pemain tertua yang tampil di final menjadi milik Allan McGregor saat membela Rangers F.C. melawan Eintracht Frankfurt pada 2022 di usia 40 tahun 107 hari.
Di sisi lain, Matthijs de Ligt menjadi pemain termuda yang tampil di final ketika membela AFC Ajax melawan Manchester United pada usia 17 tahun 285 hari.
Baca Juga: Pasar Murah Pemkab Banyuwangi Diserbu Warga, Beras hingga Minyakita Ludes dalam Dua Jam
Sedangkan pemain termuda yang berhasil menjadi juara adalah Yeremy Pino bersama Villarreal CF pada 2021.
Final yang Ditentukan Adu Penalti
Sebanyak enam final harus ditentukan lewat adu penalti sejak format satu laga diterapkan.
Baca Juga: Rumah Kosong di Tegalsari Banyuwangi Dibobol Maling, Uang Tunai hingga Kompresor Kulkas Digondol
Salah satu yang paling dramatis terjadi pada 2021 ketika Villarreal CF mengalahkan Manchester United F.C. 11-10 dalam adu penalti setelah bermain imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu.
Sementara pada 2023, Sevilla kembali menunjukkan mental juara dengan menaklukkan AS Roma lewat skor penalti 4-1.
Pelatih dan Pemain Tersukses
Unai Emery menjadi pelatih tersukses dalam sejarah kompetisi dengan empat gelar juara, tiga bersama Sevilla dan satu bersama Villarreal.
Sementara legenda Sevilla, Jose Antonio Reyes, menjadi pemain dengan koleksi trofi terbanyak, yakni lima gelar.
Rekor unik lainnya dicatat Jesús Navas yang memiliki rentang gelar terpanjang, yakni 13 tahun, sejak membawa Sevilla juara pada 2006 hingga kembali mengangkat trofi pada 2023.
Final Tanpa Gol Tetap Berakhir Dramatis
Meski banyak final dipenuhi hujan gol, dua final justru berakhir tanpa gol selama 120 menit sebelum ditentukan lewat adu penalti.
Dua laga tersebut adalah final 2000 antara Galatasaray S.K. melawan Arsenal F.C. serta final 2014 antara Sevilla kontra S.L. Benfica.
Kedua pertandingan itu membuktikan bahwa drama final Europa League tidak selalu harus dihiasi pesta gol. (*)
Editor : Niklaas Andries