Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kemarau Panjang Sebabkan Debit Air Sungai Menurun, Petani di Banyuwangi Mulai Berebut Air Irigasi

Fredy Rizki Manunggal • Kamis, 19 Oktober 2023 | 20:00 WIB
KERUK LUMPUR: Petugas pengairan, petani, dan berbagai elemen masyarakat kerja bakti membersihkan lumpur di sepanjang sungai dekat Dam Karangdoro, Banyuwangi, belum lama ini.
KERUK LUMPUR: Petugas pengairan, petani, dan berbagai elemen masyarakat kerja bakti membersihkan lumpur di sepanjang sungai dekat Dam Karangdoro, Banyuwangi, belum lama ini.

Jawa Pos Radar Banyuwangi – Kemarau panjang berdampak pada debit air sungai. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi mencatat, terjadi penurunan debit air sampai 37 persen.

Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo mengatakan, penurunan debit air ini terjadi dalam waktu yang cukup singkat. Dia mengambil contoh di Dam Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.

Pada pekan lalu (6/10) debit air bendungan yang mengairi delapan kecamatan memiliki debit air 8.000 liter per detik. Sedangkan saat ini debitnya turun menjadi 5.000 liter per detik.

Penurunan debit air tak hanya terjadi di satu dam saja. Beberapa dam lain mengalami kondisi serupa dengan persentase penurunan debit air yang nyaris sama.

”Semua dam mengalami penyusutan debit air, presentasenya nyaris sama. Penyebab utamanya evaporasi (penguapan air) akibat suhu panas sehingga berdampak kepada air yang cepat menguap dan tanah yang cepat menyerap,” papar Guntur.

Dampak dari menurunnya debit air, banyak petani mulai kebingungan. Mereka berebut mendapatkan air yang debitnya semakin menurun.

PU Pengairan memprioritaskan penggunaan air untuk tanaman padi yang memang sudah masuk masa tanam ketiga dan akan panen. Baru kemudian untuk tanaman palawija yang memasuki masa panen.

Guntur meminta petani tidak buru-buru memulai masa tanam baru, terutama untuk tanaman selingan.

Saat ini Pemkab Banyuwangi masih fokus menyelamatkan sekitar 13 ribu hektare tanaman padi yang memasuki waktu panen di musim tanam ketiga.

”Dalam rencana tata global kita, ada 7.000 hektare tanaman padi yang mau panen dan 6.000 hektare baru tanam. Kita coba selamatkan semuanya,” jelas Guntur.

Kondisi seperti ini masih akan berlangsung hingga akhir tahun. Guntur berharap, petani bisa menyesuaikan diri dengan tidak terburu-buru memulai masa tanam karena debit air sungai masih minim.

”Ini menjadi dilema sebenarnya, petani bisa tidak mendapatkan air. HIPPA bisa tidak menyetujui pemberian air karena jatahnya untuk tanam musim ketiga,” tandasnya. (fre/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Petani #lumpur #dam #tanaman padi #debit air #Sungai #banyuwangi