GLENMORE, Jawa Pos Radar Genteng - Memasuki musim kemarau, debit air sungai di beberapa wilayah mulai menurun. Ini berdampak pada pengaturan penggunaan air untuk persawahan warga. Seperti di daerah aliran sungai (DAS) di bawah naungan Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Glenmore, Minggu (20/8)
Petani yang biasa menanam padi, saat musim kemarau ini banyak yang beralih menanam palawija. “Saat ini petani harusnya menanam palawija, bukan padi,” kata Korsda Glenmore, Bambang Sutejo pada Jawa Pos Radar Genteng.
Bambang menyebut, debit air sungai di wilayah aliran Korsda Glenmore, kini hanya tercatat sebesar 1.300 liter per detik. Debit air itu, tidak cukup untuk mengaliri seluruh sawah milik petani di wilayahnya. “Korsda Glenmore melayani sawah sekitar 3.515 hektare, itu meliputi Kecamatan Gambiran, Genteng, Tegalsari, dan Glenmore,” ujarnya.
Menurut Korsda, petani yang tetap menanam padi, harus gantian dalam menggunakan air. Dan itu, sudah disosialisasikan kepada para petani saat melakukan rapat bersama Himpunan Petani Pengguna Air (HIPPA). “Kita sudah bertemu petani, mereka diminta mengatur penggunaan air (gentian),” ungkapnya.
Pada musim kemarau ini, Bambang mengaku tidak mengarahkan petani untuk menanam palawija, yang tidak membutuhkan air banyak. “Programnya di kemarau seperti ini harusnya ya menanam palawija,” ujarnya.
Salah satu petani, Muskar, 51, asal Dusun Jenisari, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, mengaku sudah memprediksi menurunnya debit air. Ia memutuskan untuk menanam cabai. “Sebelumnya padi, tapi setelah panen kemarin, saya olah tanah lagi untuk menanam cabai,” ungkapnya.
Menurutnya, peralihan itu tidak banyak dilakukan petani lain di daerahnya. Tidak banyak petani yang biasa menanam komoditas selain padi. “Banyak yang sudah kebiasaan menanam padi, jadi enggan beralih,” ungkapnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi