Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dimainkan saat Sahur dan Jelang Berbuka

Syaifuddin Mahmud • Selasa, 12 Juni 2018 | 16:19 WIB
dimainkan-saat-sahur-dan-jelang-berbuka
dimainkan-saat-sahur-dan-jelang-berbuka


 Para pemuda Dusun Sidorejo, Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi punya cara unik untuk menunggu waktu berbuka puasa dan saat menjelang sahur. Mereka memainkan pecut atau gitikan dengan panjang mencapai empat meter.


 


 Sinar matahari sudah mulai redup. Kumandang azan panggilan salat Asar baru saja usai. Suara lantunan ayat suci Alquran merdu terdengar dari pengeras suara musala. Dari jenis suaranya, anak-anak santri Taman Pendidikan Alquran yang melaksanakan tadarus sore itu.


        Jarum jam menunjukkan pukul 16.00. Sejumlah remaja Dusun Sidorejo, Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi sudah mulai bersiap menuju tanah lapang yang berada di simpang tiga depan balai desa setempat. Mereka hendak ngabuburit. Caranya juga cukup unik. Dengan mengenakan udeng khas Banyuwangi, mereka menenteng sebuah pecut atau cemeti. Panjang cemetinya bervariasi, mulai tiga meter hingga sekitar empat meter.


        Pecut yang dibawa para remaja itu bukan lazimnya pecut yang digunakan oleh Pak Tani maupun para pemain seni jaranan. Pecut yang dibawa sekelompok remaja dan pemuda tersebut adalah pecut khusus yang dibuat untuk pertunjukan seni gitikan.


        Sesuai nama desa setempat, gitikan adalah cikal bakal sebuah nama desa tempat tinggal para remaja dan pemuda desa tersebut. Sayangnya, kini permainan gitikan tersebut boleh dibilang punah dan tak lagi pernah ditemukan atau dimainkan.


        Untuk mengingat kembali tradisi yang dulu pernah ada di desa itu, pemuda desa setempat mulai berinisiatif dengan kembali menggali informasi dari sesepuh desa. Hingga akhirnya, mereka kembali memutuskan untuk membuat pecut.


        Dedi Setiawan, 30, salah seorang pemuda desa setempat mengatakan, untuk kembali menghidupkan tradisi gitikan tersebut memang tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras. Bermula dari tekad yang bulat bersama sekelompok remaja di dusunnya. Dia mulai membuat sebuah pecut dengan bahan tali rafia yang dililit dan dilapisi kain bekas.”Untuk membuat pecutnya saja butuh waktu sekitar tiga hari, karena memang ukurannya panjang dan besar,” ungkapnya.


        Awalnya dia merangkai tali rafia yang dilapisi dengan potongan kain bekas. Permukaan besarnya pecut tersebut disesuaikan, untuk bagian pangkal atau yang dipegang terbuat dari aluminium dan dililit menggunakan tali rafia hingga mengecil di bagian ujung. Khusus pecut yang dibuatnya tersebut memiliki panjang sekitar empat hingga lima meter.


        Agar tidak membuat lecet, pada bagian pangkal atau yang dipegang dilapisi karet dan kain yang lembut yang dibungkus dengan lakban. Untuk menghasilkan kualitas suara yang keras dan cetar, saat merangkai pecut juga harus padat dan bagian ujungnya dibuat sekecil mungkin. ”Pecutnya digunakan untuk menghasilkan suara yang keras, bukan bertujuan untuk kekerasan,” katanya.


        Teknik memainkan pecut atau gitikan tersebut juga tidak mudah. Tidak sembarang orang bisa memainkan hingga mengeluarkan bunyi cetaaar. ”Kalau pemula yang baru awal latihan bisa dipastikan akan mengenai tubuh, terutama kaki. Kalau sudah terbiasa akhirnya juga tahu selanya,” terangnya


        Sulaiman, 34, salah seorang pemuda desa mengatakan, permainan gitikan tersebut mulai kembali dimainkan terutama saat menjelang waktu berbuka puasa dan saat waktu sahur. Untuk kembali memasyarakatkan tradisi permainan gitikan tersebut, kelompok pemuda desa ini memainkan di simpang tiga jalan raya desa setempat. Harapannya tak lain untuk mengundang perhatian warga, dan kembali menggugah orang tua dan pemuda desa setempat untuk bermain gitikan.


        Tak jarang, orang tua yang dulu pernah mahir memainkan gitikan juga ikut terjun dan kembali memainkan. Bahkan, karena sudah lama tak bermain, sesekali pecut juga menghantam tubuh dan kaki. ”Kami berupaya untuk kembali melestarikan tradisi gitikan ini. Karena tradisi ini merupakan awal cikal bakal nama desa. Jadi sangat miris kalau sampai tradisi ini punah dan tinggal cerita saja,” jelas Sulaiman.


        Dia berharap permainan gitikan tersebut kembali dilestarikan. Karena tidak hanya gitikan bermain pecut tersebut. Akan tetapi juga ada jenis permainan gitikan yang saling beradu dan berhadap-hadapan. ”Kami tengah berupaya kembali menggairahkan, agar remaja-remaja Desa Gitik bisa membuat dan bermain gitikan ini,” tandasnya. (aif/c1)


 


 

Editor : Syaifuddin Mahmud