KALIPURO – Kondisi penyeberangan di perairan Selat Bali patut diwaspadai. Gara-gara arus laut yang cukup deras, KMP Tunu Pratama Jaya 3888 gagal docking, pukul 08.30 kemarin. Kapal tersebut malah terseret ke arah selatan, tepatnya di belakang pabrik semen Bosowa.
Kapal bercat putih dan merah itu terpaksa harus diseret ke pinggir oleh kapal lain menuju Pantai Bulusan. Penyebab terseretnya kapal tersebut diduga mesinnya mati. Pukul 11.15 barulah beberapa orang teknisi tampak mendekati kapal dengan menggunakan perahu karet.
Pelaksana Harian KUPP Kelas III Tanjungwangi Widodo mengatakan.KMP Tunu Pratama Jaya memang sudah mengalami kendala sejak awal. Karena itu ketika hendak membawa muatan dari pelabuhan LCM Ketapang, pihaknya melarang kapal tersebut.
Sehingga seluruh muatan langsung diturunkan saat itu juga. Selanjutnya KMP Tunu pun diminta melakukan perbaikan dan docking di Pantai Banyuwangi Beach. Namun, di tengah lautan, kapal tersebut malah mengalami mati mesin.
“Mungkin karena mesinya hanya satu jadi ketika mati langsung berhenti di tengah lautan. Tapi langsung ada kapal KMP Tunu Patama Jaya yang datang membantu. Sengaja dibawa ke Pantai Bulusan karena di Banyuwangi Beach sedang penuh. Masih ada Labitra Adinda juga yang sedang diselidiki KNKT,” ujar Widodo.
Terkait penyebab kematian mesin KMP Tunu, Widodo mengaku belum memprediksi detail. Namun jika melihat kronologis kejadian, KMP Tunu sempat terseret arus hingga ke arah selatan ketika berusaha melakukan docking di Pantai Banyuwangi Beach. “Arusnya cukup kencang. Mungkin karena itu akhirnya mesinya tidak kuat dan mati. Tapi dari awal kapal memang sudah kosong, jadi langsung kita minta perbaikan,” ujarnya
Sementara itu, sebelumnya Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Ketapang Eka Cakrawala mengatakan untuk sementara transportasi laut yang melalui Selat Bali, baik dari Pelabuhan ASDP Ketapang maupun Tanjungwangi masih tetap bisa beroperasi. Akan tetapi statusnya adalah waspada, karena fluktuasi dari gelombang air laut sedang tidak menentu. Jadi sewaktu-waktu bisa saja muncul perintah penghentian operasi.
“Sementara masih aman. Tapi kita himbau tetap waspada, kita tidak bisa memprediksi kapan ada potensi ditutup, kita terus berkordinasi dengan BMKG,” imbuhnya.
Namun, untuk transportasi laut di wilayah Banyuwangi Selatan, pihaknya sudah melakukan pelarangan. Salah satunya kapal cepat yang beroperasi di Pantai Blimbingsari. ”Angin kencang dan ombak tinggi yang diperairan itu cukup berbahaya untuk transportasi laut,’’ kata Eka.
Editor : Rahman Bayu Saksono