RADAR BANYUWANGI - Pasokan elpiji tabung 3 kilogram (kg) di wilayah selatan Banyuwangi tak kunjung normal.
Bahan bakar rumah tangga yang juga dikenal dengan gas melon tersebut masih sulit didapat di beberapa kecamatan, termasuk Kecamatan Genteng dan Sempu, beberapa pekan terakhir.
Kondisi kelangkaan tersebut dirasakan langsung oleh para pedagang eceran.
Stok yang terbatas membuat pasokan gas melon di tingkat pengecer merosot drastis dibanding kondisi normal.
"Biasanya seminggu bisa dapat jatah sampai 20 tabung dari pangkalan. Sekarang paling banyak cuma dikirim separonya, 10 tabung saja,” ujar Rahmat, 42, salah seorang pemilik toko kelontong di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.
Rahmat menyebut pengurangan jatah tersebut sangat memberatkan, terutama bagi pelanggan setia dari kalangan rumah tangga dan pedagang kecil.
“Kasihan pedagang makanan jadi, sulit cari gas. Apalagi, jadwal pengirimannya sering terlambat, tidak teratur seperti biasanya. Warga sampai banyak yang bolak-balik ke toko menanyakan ketersediaan elpiji melon,” katanya.
Hal senada diungkapkan Sutiah, 50, pemilik Warung Madura di Desa Gentenglulon, Kecamatan Genteng.
Ia menuturkan bahwa keterbatasan pasokan elpiji melon membuat banyak pembeli khawatir kehabisan stok.
“Kondisinya sudah sejak beberapa pekan lalu. Jatah kiriman dipangkas separo, mungkin dibagi ke toko lain juga,” tuturnya.
Begitu barang turun dari pikap pengangkut, warga biasanya langsung berdatangan dan rebutan. Tidak sampai dua jam stok di toko kerap langsung ludes.
“Semoga segera teratasi supaya tidak sampai langka,” katanya.
Kelangkaan gas melon di tingkat pengecer tersebut tidak berdiri sendiri.
Tersendatnya pasokan ditengarai kuat akibat terganggunya jalur distribusi utama elpiji di Banyuwangi sejak beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, rantai pasok sempat mengalami gangguan parah setelah akses menuju Terminal Elpiji Bosowa di Bulusan, Kecamatan Kalipuro, terhambat aksi unjuk rasa warga.
Kondisi tersebut membuat armada kendaraan pengangkut elpiji tidak dapat keluar-masuk terminal secara normal, sehingga memicu efek domino keterlambatan pasokan hingga ke pelosok desa.
Editor : Lugas Rumpakaadi