HUT ke-81 RI di Sempu Meriah, Legenda Seni hingga Pesilat Tampil Satu Arena

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 03:30 WIB
SEMARAK: Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Sempu, Senin (17/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
SEMARAK: Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Sempu, Senin (17/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Lapangan Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Senin (17/8), tak sekadar menjadi lokasi upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ribuan pasang mata terpukau menyaksikan parade budaya khas Banyuwangi, penampilan dua maestro seni legendaris, hingga aksi empat perguruan pencak silat yang tampil berdampingan dalam satu arena.

Semarak peringatan kemerdekaan itu berlangsung sejak upacara pengibaran bendera pada pagi hari hingga penurunan Sang Merah Putih pada sore hari. Rangkaian pertunjukan seni dan budaya sengaja dikemas untuk menghadirkan perayaan yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada generasi muda.

Sebagai pembuka, parade seni lintas kebudayaan bertajuk Ponco Warno menyapa peserta upacara. Lima kesenian khas Banyuwangi ditampilkan secara beruntun, mulai tari Gandrung, Seblang, Jaranan, Barong Kumbo, hingga Tari Jakripah.

Penampilan tersebut membuat suasana Lapangan Temuasri semakin hidup. Para peserta upacara, tamu undangan, hingga masyarakat yang memadati area pinggir lapangan larut dalam suguhan budaya yang menjadi identitas Bumi Blambangan.

Mbok Temuk dan Sumiati Jadi Magnet

Atmosfer semakin bergelora ketika dua legenda seni Banyuwangi turut hadir. Maestro Gandrung Mbok Temuk dan maestro Kendang Kempul Sumiati tampil di hadapan masyarakat Sempu.

Kehadiran dua ikon seni Banyuwangi itu langsung memancing riuh tepuk tangan. Tak sedikit warga yang sengaja mendekat untuk menyaksikan langsung sosok-sosok yang selama ini dikenal sebagai bagian penting perjalanan seni dan budaya Banyuwangi.

Camat Sempu Mujito mengatakan, konsep pertunjukan budaya tersebut mengadaptasi semangat opening Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Konsep itu sengaja dihadirkan dalam peringatan HUT ke-81 RI agar kekayaan budaya Banyuwangi semakin dikenal, terutama oleh generasi muda dan para pelajar.

“Kami ingin HUT RI ini dirayakan dengan semarak bersama masyarakat,” katanya.

Menurut Mujito, peringatan kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni pengibaran dan penurunan bendera. Momentum tersebut juga harus menjadi ruang untuk memperkuat persatuan sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas daerah.

“Lewat peringatan HUT ke-81 RI ini kami berharap semangat kemerdekaan tak sekadar jadi seremonial, tetapi menjadi pelecut untuk memperkuat persatuan, melestarikan warisan budaya, serta membawa masyarakat Sempu kian sejahtera dan berdikari. Semoga generasi muda kita semakin bangga akan identitas daerahnya,” harapnya.

Empat Perguruan Silat Tampil Berdampingan

Kejutan tak berhenti pada rangkaian upacara pagi. Saat upacara penurunan bendera pada sore hari, Lapangan Desa Temuasri kembali menjadi pusat perhatian.

Kali ini, empat perguruan silat besar tampil menunjukkan jurus terbaik mereka. PSHT, PSHW, Pagar Nusa, dan IKSPI Kera Sakti tampil dalam satu arena.

Penampilan empat perguruan silat tersebut menjadi salah satu momen yang paling menarik perhatian masyarakat. Mereka tampil berdampingan dan harmonis, menunjukkan bahwa perbedaan perguruan tidak menghalangi semangat persaudaraan.

“Keempatnya tampil berdampingan dan harmonis dalam satu arena. Ini sebagai simbol persaudaraan serta komitmen menjaga kondusivitas wilayah Kecamatan Sempu,” cetus Mujito.

Bagi masyarakat Sempu, aksi bersama empat perguruan tersebut bukan hanya tontonan. Penampilan itu menjadi pesan simbolis tentang pentingnya kebersamaan dalam menjaga keamanan dan keharmonisan wilayah.

UMKM dan PKL Ikut Panen Rezeki

Semarak HUT ke-81 RI di Kecamatan Sempu juga membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar. Ratusan masyarakat yang datang ke Lapangan Desa Temuasri turut menggerakkan aktivitas perdagangan lokal.

Puluhan pelaku UMKM dan pedagang kaki lima memanfaatkan ramainya pengunjung untuk menjajakan berbagai produk dan makanan.

Ketua Panitia HUT ke-81 RI Kecamatan Sempu, Pete, mengatakan kemeriahan acara memang dirancang agar masyarakat dapat menikmati peringatan kemerdekaan secara bersama-sama. Di sisi lain, keramaian pengunjung juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi warga.

“Tujuannya tentu perayaan kemerdekaan kali ini agar lebih semarak. Kedua, dampak ekonominya, di mana puluhan pedagang UMKM dan PKL panen rezeki karena jualan mereka laris manis diserbu pengunjung,” pungkasnya.

Perpaduan seni, budaya, pencak silat, dan geliat ekonomi warga membuat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Sempu terasa lebih dari sekadar upacara tahunan. Di Lapangan Desa Temuasri, semangat kemerdekaan dirayakan melalui kebanggaan terhadap budaya, persaudaraan antarperguruan, serta berkah ekonomi yang ikut dirasakan masyarakat. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
budaya banyuwangi HUT RI Sempu Mbok Temuk UMKM Sempu pencak silat