Delegasi ASEAN-ID Blue Pelajari Praktik Ekonomi Biru Berbasis Komunitas di Banyuwangi

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:07 WIB
Praktik ekonomi biru Banyuwangi menarik perhatian dunia. (Banyuwangikab.go.id)
Praktik ekonomi biru Banyuwangi menarik perhatian dunia. (Banyuwangikab.go.id)

RADARBANYUWANGI.ID - Upaya Kabupaten Banyuwangi mengembangkan sektor kelautan secara berkelanjutan kembali mendapat perhatian dunia internasional. Rombongan delegasi forum ASEAN-ID Blue melakukan kunjungan lapangan ke Banyuwangi, Rabu (22/7/2026), untuk mempelajari secara langsung praktik pengembangan ekonomi biru (blue economy) berbasis komunitas yang diterapkan di daerah tersebut.

Dalam kunjungan itu, para delegasi menyambangi dua lokasi yang menjadi penggerak ekonomi pesisir Banyuwangi, yakni Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng dan kawasan konservasi laut Bangsring Underwater.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat Banyuwangi untuk menunjukkan bahwa pelestarian ekosistem laut dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan warga pesisir.

"Kunjungan lapangan ini menjadi kesempatan berharga bagi para delegasi untuk melihat langsung praktik nyata ekonomi biru yang dikembangkan masyarakat. Di KNMP Lateng, mereka mempelajari hilirisasi sektor perikanan berbasis koperasi, termasuk pembuatan produk bernilai tambah yang menopang ekonomi pesisir," ujar Ipuk, dikutip Antara.

Di KNMP Lateng, para peserta melihat bagaimana hasil tangkapan nelayan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah melalui sistem koperasi. Model tersebut dinilai mampu memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan lokal.

Selain meninjau sektor pengolahan hasil laut, delegasi juga mengunjungi Bangsring Underwater untuk melihat upaya rehabilitasi ekosistem laut yang dilakukan masyarakat. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai lokasi penangkapan ikan secara destruktif itu kini telah bertransformasi menjadi pusat konservasi terumbu karang sekaligus destinasi ekowisata bahari yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Keberhasilan transformasi tersebut menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi biru yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

Forum ASEAN-ID Blue sendiri merupakan inisiatif strategis yang digagas Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Ministry of Foreign Affairs and Trade (MFAT) Selandia Baru.

Forum tersebut mempertemukan perwakilan negara-negara anggota ASEAN, East Asia Summit (EAS), hingga Pacific Islands Forum (PIF) untuk berbagi praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan.

Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, Zelda Wulan Kartika, mengapresiasi capaian Banyuwangi dalam mengembangkan ekonomi laut berbasis masyarakat. Menurut dia, masa depan ekonomi biru di kawasan ASEAN sangat ditentukan oleh implementasi nyata di tingkat lokal.

"Masa depan ekonomi biru ASEAN akan sangat ditentukan oleh praktik-praktik di tingkat akar rumput seperti di Banyuwangi. Peran koperasi nelayan, UMKM, hingga kelompok masyarakat konservasi sangat vital untuk menerjemahkan komitmen diplomasi antarnegara menjadi manfaat konkret yang dirasakan langsung oleh warga," tegas Zelda.

Transformasi kawasan pesisir Banyuwangi, mulai dari penguatan hilirisasi produk perikanan melalui KNMP Lateng hingga keberhasilan pemulihan ekosistem laut di Bangsring Underwater, menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan fondasi utama dalam mewujudkan ekonomi biru yang berkelanjutan. Model tersebut kini tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga menjadi rujukan bagi negara-negara di kawasan dalam mengembangkan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
ASEAN ID Blue bangsring underwater banyuwangi