Banyuwangi Masuk Sentra Kopi Utama, Khofifah Dorong Hilirisasi agar Produk Jatim Mendunia

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 11:20 WIB
Gubernur Khofifah optimistis kopi dan kakao Jawa Timur mampu menembus pasar global melalui hilirisasi, sertifikasi, inovasi, dan kolaborasi. (Antara)
Gubernur Khofifah optimistis kopi dan kakao Jawa Timur mampu menembus pasar global melalui hilirisasi, sertifikasi, inovasi, dan kolaborasi. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa optimistis komoditas kopi dan kakao asal Jawa Timur memiliki peluang besar memperluas pasar internasional. Optimisme tersebut didorong melalui strategi hilirisasi, penguatan ekosistem agroindustri, serta kolaborasi lintas sektor yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus kesejahteraan petani.

Menurut Khofifah, kekuatan kopi Jawa Timur tidak hanya terletak pada besarnya produksi, tetapi juga keragaman cita rasa yang lahir dari karakter geografis masing-masing daerah. Karena itu, pengembangan sektor perkebunan tidak cukup hanya berorientasi pada produksi, melainkan juga harus menyentuh aspek hilirisasi, pengolahan hasil, penguatan merek, sertifikasi, hingga perluasan akses ke pasar global.

"Jawa Timur memiliki kekuatan tidak hanya dari sisi volume produksi, tetapi juga keragaman cita rasa kopi yang berasal dari karakter geografis masing-masing daerah. Karena itu pengembangan sektor perkebunan harus diarahkan pada hilirisasi, pengolahan, penguatan merek, sertifikasi, dan perluasan akses pasar internasional," ujar Khofifah, Senin (20/7/2026), dikutip Antara.

Ia menilai perubahan tren konsumsi masyarakat dunia yang kini semakin mengutamakan produk berkelanjutan dan bercita rasa premium menjadi peluang besar bagi Jawa Timur untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra kopi unggulan nasional.

Indonesia sendiri masih menempati posisi empat besar produsen kopi dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia dengan kontribusi sekitar tujuh persen terhadap produksi kopi global. Di tingkat nasional, Jawa Timur masuk dalam lima besar provinsi penghasil kopi dengan produksi mencapai 80.895 ton.

Produksi tersebut ditopang sejumlah daerah sentra, di antaranya Kabupaten Malang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Sementara luas perkebunan kopi rakyat di Jawa Timur mencapai 123.720 hektare yang tersebar di Malang, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, serta Situbondo.

Selain kopi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga terus memperkuat pengembangan komoditas kakao melalui sistem klasterisasi di sejumlah daerah, seperti Blitar, Madiun, Trenggalek, hingga Pacitan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi sektor perkebunan.

Khofifah menegaskan kopi dan kakao merupakan dua komoditas strategis yang memiliki prospek besar untuk terus ditingkatkan daya saingnya. Upaya tersebut harus diiringi peningkatan produktivitas, perbaikan kualitas, standardisasi, sertifikasi, inovasi pengolahan, hingga penguatan pemasaran digital agar mampu bersaing di pasar internasional.

Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengapresiasi dukungan Bank Indonesia, khususnya Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, yang selama ini dinilai konsisten mendorong korporatisasi petani, digitalisasi sistem pembayaran, penguatan pembiayaan, hingga pembukaan akses ekspor melalui penyelenggaraan Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026.

Menurutnya, JCFF tidak sekadar menjadi ajang promosi produk, tetapi juga wadah kolaborasi yang mempertemukan petani, pelaku UMKM, dunia usaha, perbankan, akademisi, hingga pembeli dari dalam maupun luar negeri untuk memperkuat ekosistem kopi dan kakao Jawa Timur.

"Saya menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia yang terus menjadi mitra strategis dalam memperkuat ekosistem kopi dan kakao Jawa Timur. Sinergi seperti inilah yang harus terus diperkuat agar petani memperoleh nilai tambah yang semakin besar," katanya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan tema "From Local Flavors to Global Horizon" yang diusung dalam JCFF 2026 mencerminkan komitmen bersama untuk membawa komoditas unggulan Indonesia menembus pasar dunia melalui peningkatan kualitas, inovasi, dan kolaborasi.

Ia menyebut produksi kopi, kakao, dan teh di Pulau Jawa pada 2024 berada pada kisaran 220 ribu hingga 250 ribu ton. Dalam capaian tersebut, Jawa Timur menjadi salah satu sentra utama produksi kopi dan kakao di Pulau Jawa.

Filianingsih berharap penyelenggaraan JCFF dapat terus memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku UMKM sekaligus memperkuat kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
kopi Jawa Timur kakao Jawa Timur Java Coffee and Flavor Festival 2026 Khofifah Indar Parawansa banyuwangi