Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Solar Langka di Banyuwangi Selatan, Sopir Truk Tebu Terpaksa Cari BBM hingga Glenmore

Salis Ali Muhyidin • Jumat, 26 Juni 2026 | 02:00 WIB
STOK KOSONG: Nozzle SPBU di Dusun Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng kosong, Kamis (25/6). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
STOK KOSONG: Nozzle SPBU di Dusun Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng kosong, Kamis (25/6). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi mulai menimbulkan keresahan di wilayah Banyuwangi Selatan. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dilaporkan kehabisan stok dalam beberapa hari terakhir.

Situasi semakin rumit setelah salah satu fasilitas penyaluran solar di SPBU Gentengwetan, Kecamatan Genteng, disegel aparat kepolisian dalam proses penyelidikan dugaan penyalahgunaan distribusi BBM subsidi.

Akibatnya, pasokan solar yang sebelumnya menjadi andalan kendaraan angkutan dan sektor logistik terganggu. Dampak paling terasa dirasakan para sopir truk, khususnya armada pengangkut tebu yang saat ini memasuki masa padat aktivitas menjelang musim giling.

Sejak Senin (22/6), kendaraan yang hendak mengisi solar di SPBU Gentengwetan harus pulang dengan tangan kosong. Penyegelan pompa solar membuat distribusi terhenti total dan memicu efek domino ke sejumlah SPBU lain di wilayah sekitar.

Efek Domino ke SPBU Sekitar

Gangguan pasokan di Gentengwetan membuat lonjakan permintaan terjadi di SPBU lain yang masih melayani pembelian solar.

Salah satunya terjadi di SPBU Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng. Namun, tingginya permintaan membuat stok solar di lokasi tersebut juga cepat habis.

Seorang pekerja SPBU Curahketangi yang enggan disebutkan namanya membenarkan kondisi tersebut. Menurut dia, banyak kendaraan beralih mengisi solar ke tempatnya setelah stok di SPBU lain kosong.

“Karena di Kembiritan kemarin kosong, banyak yang beli ke sini,” ujarnya.

Akibatnya, pelayanan untuk kendaraan berbahan bakar solar di SPBU tersebut praktis ikut terhenti karena stok yang tersedia tidak mampu memenuhi lonjakan kebutuhan.

Sopir Truk Tebu Kelimpungan

Kelangkaan solar menjadi persoalan serius bagi para sopir angkutan barang yang menggantungkan operasional kendaraannya pada BBM subsidi tersebut.

Matrawi, sopir truk pengangkut tebu asal Desa Setail, Kecamatan Genteng, mengaku kesulitan mendapatkan solar dalam beberapa hari terakhir.

“Solar langka ini memang sedang jadi perbincangan kawan-kawan. Semua sedang kebingungan,” ujarnya.

Menurut dia, keterbatasan pasokan memaksa para sopir mencari BBM hingga ke wilayah lain yang jaraknya jauh dari rute kerja mereka.

“Mau tidak mau harus cari ke Glenmore yang jaraknya lebih jauh. Kalau di Kalibaru, kabarnya solar juga belum ada karena pom bensin di sana informasinya sedang kena sanksi,” ungkap Matrawi.

Kondisi tersebut tidak hanya menambah biaya operasional, tetapi juga mengurangi efisiensi waktu distribusi barang dan hasil pertanian.

Solar Juga Kosong di Sempu

Fenomena serupa juga terjadi di SPBU Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu.

Beberapa pengguna kendaraan mengaku kesulitan memperoleh solar karena stok di SPBU tersebut kerap kosong dalam beberapa hari terakhir.

Para sopir berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah untuk menormalkan distribusi BBM subsidi agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu lebih jauh.

“Kami berharap pihak berwenang dan Pertamina segera ada solusi. Dampaknya khususnya sektor angkutan, jangan sampai lumpuh total,” kata Matrawi.

Kelangkaan Tidak Hanya Terjadi di Banyuwangi

Menurut informasi yang dihimpun dari komunitas pengemudi lintas daerah, kelangkaan solar subsidi bukan hanya terjadi di Banyuwangi.

Matrawi yang juga anggota komunitas Satu Keluarga Besar Driver Indonesia (SKBDI) menyebut kondisi serupa dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Jawa Timur.

“Di Jember, Lumajang, Surabaya ke barat juga langka. Ini informasi dari rekan-rekan sopir. Justru Banyuwangi dan Situbondo terbilang cukup aman,” ujarnya.

Meski demikian, penyegelan fasilitas penyalur solar di SPBU Gentengwetan membuat tekanan terhadap pasokan BBM subsidi di Banyuwangi Selatan semakin terasa.

Menunggu Normalisasi Pasokan

Hingga kini, masyarakat dan pelaku usaha transportasi masih menunggu kepastian normalisasi distribusi solar subsidi.

Sementara penyelidikan dugaan penyalahgunaan distribusi BBM di SPBU Gentengwetan masih berlangsung, kebutuhan solar bagi sektor logistik, pertanian, dan transportasi tetap harus terpenuhi.

Jika kondisi kelangkaan berlangsung lebih lama, bukan hanya aktivitas angkutan barang yang terdampak, tetapi juga distribusi hasil pertanian dan roda perekonomian masyarakat di wilayah Banyuwangi Selatan. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#SPBU Gentengwetan #BBM Subsidi #sopir truk #banyuwangi selatan #solar langka