RADARBANYUWANGI.ID – Di balik derasnya aliran air bersih yang menghidupi ribuan warga Banyuwangi, ada sosok sederhana yang selama lebih dari satu dekade memilih setia menjaga alam tanpa banyak sorotan. Dialah Slamet Hariyanto, 52, penjaga Sumber Air Gedor di Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.
Selama 11 tahun terakhir, Slamet menjadi orang pertama yang memastikan sumber mata air tetap terjaga, hutan tetap lestari, dan pasokan air bersih tetap mengalir ke rumah-rumah warga. Setiap hari, ia keluar masuk kawasan hutan seluas 15 hektare demi memantau debit air hingga kondisi lingkungan sekitar.
Menariknya, meski kerap menyusuri area hutan seorang diri, Slamet mengaku belum pernah mengalami gangguan mistis atau bertemu makhluk halus selama menjalankan tugasnya.
“Alhamdulillah selama keluar masuk hutan di Sumber Gedor tidak pernah diganggu makhluk halus, walaupun saya yakin hal seperti itu pasti ada,” ujar Slamet sambil tersenyum.
Menjaga Sumber Air yang Menjadi Penopang Kehidupan Warga Banyuwangi
Suasana kawasan Sumber Gedor memang masih sangat alami. Gemericik air terdengar berpadu dengan rindangnya pepohonan besar yang menutupi sebagian besar area sumber mata air.
Di tengah kesejukan udara pegunungan itulah Slamet menghabiskan hampir seluruh hidupnya selama belasan tahun terakhir.
Sebagai pegawai Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi, tugas Slamet tidak sekadar menjaga bangunan sumber air. Ia juga harus memastikan ekosistem hutan tetap sehat agar debit air tidak menurun.
“Tugas saya di sini membersihkan sumber, mengecek aliran air, sekaligus mengontrol hutan di area Sumber Gedor yang luasnya sekitar 15 hektare,” katanya.
Setiap kali ada laporan aliran air mengecil dari wilayah Kalipuro maupun Penataban, Slamet harus segera bergerak mengecek kondisi sumber air hingga masuk jauh ke dalam kawasan hutan.
Dari tiga titik sumber mata air yang ada, dua di antaranya berada cukup jauh di area hutan sehingga memaksanya berjalan kaki menyusuri jalur setapak setiap hari.
Dulu Kumuh dan Tidak Terawat, Kini Jadi Kawasan Edukasi Alam
Slamet mulai mendapat amanah menjaga Sumber Gedor sejak 2015. Saat pertama kali datang, kondisi kawasan tersebut disebutnya masih kurang terawat.
“Saya menjaga Sumber Gedor sudah 11 tahun. Dulu kondisinya masih kotor, banyak daun berguguran tidak dibersihkan hingga belum ada pagar yang melindungi bangunan sumber,” ungkapnya.
Perlahan, ia mulai membenahi kawasan tersebut bersama dukungan PUDAM Banyuwangi. Area sumber air dibersihkan, jalur ditata, dan penghijauan dilakukan secara bertahap.
Berbagai jenis tanaman penyerap air seperti bambu, manggis, sukun, hingga tanaman keras lainnya ditanam untuk menjaga cadangan air tanah tetap stabil.
Kini kawasan Sumber Gedor berubah menjadi area hijau yang asri sekaligus menjadi lokasi edukasi lingkungan bagi pelajar.
Setiap hari Rabu, kawasan tersebut rutin digunakan dalam program Wis Esa Sik Adi (Wisata Edukasi Sejak Usia Dini). Puluhan siswa datang untuk belajar langsung tentang pentingnya menjaga sumber mata air dan kelestarian hutan.
Tinggal di Pos Jaga Bersama Keluarga
Dedikasi Slamet terhadap Sumber Gedor tidak main-main. Bersama istri dan dua anaknya, ia tinggal di rumah pos jaga yang berada tepat di kawasan sumber air.
Dari rumah sederhana itulah Slamet mengawasi kawasan hutan sekaligus menjaga aliran air tetap aman selama 24 jam penuh.
Baginya, Sumber Gedor bukan sekadar tempat kerja. Kawasan tersebut sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Setelah bekerja saya mulai dari membersihkan area sumber hingga melakukan penghijauan dengan menanam berbagai jenis pohon,” ujarnya.
Kedekatannya dengan alam membuat Slamet sangat memahami perubahan kondisi hutan, termasuk perilaku satwa liar yang hidup di dalamnya.
Sering Diganggu Monyet Liar Saat Menanam Pohon
Di kawasan Sumber Gedor hidup berbagai satwa liar seperti monyet, ular, hingga aneka burung kicau. Namun bagi Slamet, keberadaan satwa tersebut justru menjadi tanda bahwa ekosistem hutan masih terjaga dengan baik.
Meski begitu, ada satu gangguan kecil yang cukup sering ia alami saat melakukan penghijauan.
“Biasanya pohon yang baru ditanam dicabut sama monyet yang sering disebut ketek oleh masyarakat Gombengsari,” katanya sambil tertawa kecil.
Namun hal tersebut tidak pernah membuatnya menyerah. Ia tetap rutin melakukan penanaman pohon demi menjaga kelestarian sumber mata air.
Pernah Jadi Penyelam, Kini Memilih Hidup Dekat Keluarga
Sebelum menjadi penjaga sumber air, Slamet ternyata memiliki profesi berbeda yang cukup ekstrem. Ia pernah bekerja sebagai penyelam di PT Bumi Kawin Nusantara selama enam tahun.
Pekerjaan itu membuatnya lebih banyak berada jauh dari keluarga. Hingga akhirnya ia memutuskan berhenti dan memilih pekerjaan yang memungkinkan dirinya lebih dekat dengan istri dan anak-anak.
“Alasan saya meninggalkan pekerjaan sebagai penyelam karena ingin kerja di darat serta yang lebih penting lebih dekat dengan keluarga,” katanya.
Pengalaman masa kecil di Dusun Selogiri, Desa Ketapang, juga membuat Slamet tidak asing dengan kehidupan hutan. Sejak kecil ia terbiasa bermain dan menjelajah kawasan pepohonan sehingga tidak pernah merasa takut berada di tengah hutan seorang diri.
Jadi Sosok Penting di Balik Pasokan Air Bersih Banyuwangi
Kini, di usia 52 tahun, Slamet Hariyanto tetap menjadi sosok penting di balik terjaganya salah satu sumber air utama Banyuwangi.
Di tengah minimnya sorotan, ia memilih terus bekerja menjaga alam agar air bersih tetap mengalir untuk masyarakat.
“Saya sekarang bersyukur bisa bekerja menjaga Sumber Gedor sekaligus bisa menghidupi keluarga dan punya waktu lebih dekat dengan istri dan anak saya,” pungkasnya. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin