Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nurul Imam, Barista Tuna Netra Banyuwangi yang Hafal Jenis Kopi dari Aromanya

Fredy Rizki Manunggal • Jumat, 29 Mei 2026 | 07:30 WIB
BARISTA TUNA NETRA: Nurul Imam meracik kopi di kedai milkinya Asyifa Coffe di Perumahan Villa Ijen, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BARISTA TUNA NETRA: Nurul Imam meracik kopi di kedai milkinya Asyifa Coffe di Perumahan Villa Ijen, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Dari Musik ke Dunia Kopi, Penyandang Disabilitas Ini Bangun Asyifa Coffee dan Inspirasi Anak Berkebutuhan Khusus

RADARBANYUWANGI.ID – Aroma kopi menyeruak kuat dari sebuah rumah di Perumahan Villa Ijen, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Deretan toples berisi biji kopi tertata rapi di atas meja. Di sudut ruangan, seorang pria tampak sibuk menyalakan kompor kecil sambil menyiapkan teko.

Tangannya perlahan mengambil salah satu toples. Tutupnya dibuka, lalu ia menghirup aromanya dalam-dalam. Tanpa melihat, pria itu langsung mengenali jenis kopi di dalamnya.

“Kalau dibuka aromanya beda. Robusta, Arabika, sampai Excelsa itu punya ciri khas sendiri,” ujar Nurul Imam sambil tersenyum.

Pria berusia 38 tahun itu merupakan penyandang tuna netra yang kini dikenal luas di kalangan penikmat kopi Banyuwangi. Namanya kerap muncul di berbagai event kopi dan bazar UMKM. Di balik keterbatasan penglihatannya, Imam justru menjelma menjadi barista sekaligus peracik kopi andal yang mampu mengenali jenis kopi hanya dari aromanya.

Imam adalah pemilik Asyifa Coffee, usaha kopi yang dia rintis sejak 2020. Tidak sekadar menyeduh kopi, dia juga piawai me-roasting biji kopi, menggiling, menakar bubuk, hingga mengoperasikan mesin espresso secara mandiri.

Keahliannya itu membuat banyak orang takjub. Sebab, semua dilakukan tanpa kemampuan melihat sejak lahir.

Bagi Imam, kopi bukan hanya minuman. Dunia kopi menjadi jalan hidup baru yang membawanya keluar dari keterbatasan sekaligus membuka peluang usaha yang terus berkembang.

Awalnya, Imam dikenal sebagai musisi. Namun pandemi Covid-19 mengubah jalan hidupnya. Aktivitas bermusik berhenti total dan membuatnya mulai mencari peluang lain agar tetap produktif.

“Waktu pandemi saya berhenti bermain musik. Dari situ mulai iseng belajar kopi,” katanya.

Dari sekadar mencoba, ketertarikannya terhadap dunia kopi semakin besar. Imam belajar secara otodidak sambil banyak berdiskusi dengan teman-temannya, salah satunya Novian, pemilik usaha Mobile Caffe (Moca).

Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami karakter kopi, teknik roasting, hingga cara menghasilkan rasa terbaik dari setiap seduhan.

Kepekaan indra penciumannya menjadi modal utama. Aroma kopi yang berbeda mampu dikenali Imam dengan sangat detail. Dari sanalah dia mulai percaya diri menekuni bisnis kopi secara serius.

Tak berhenti pada kopi seduh, Imam kemudian memperluas usahanya dengan menjual kopi kemasan melalui media sosial. Menariknya, seluruh akun dan administrasi usaha dikelola sendiri olehnya.

“Kemasan bisa beli lewat TikTok Asyifa Coffee. Di profil ada nomor saya. Adminnya saya sendiri,” ujarnya.

Kesibukan Imam kini semakin padat. Selain melayani pesanan kopi dari rumah, ia juga rutin mengikuti berbagai event UMKM dan festival kopi di Banyuwangi.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mengikuti event Senja di Agro Wisata Tamansuruh (AWT). Dalam tiga hari berjualan, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp 2 juta.

“Hari pertama dan kedua penjualannya cukup signifikan. Sampai hari ketiga total omzet sekitar Rp 2 juta,” katanya.

Bagi Imam, usaha kopi bukan sekadar bisnis sampingan. Dia mulai menata usaha tersebut sebagai sumber passive income jangka panjang.

Tidak hanya menjual kopi siap minum, Imam juga memasarkan biji kopi roasting dan bubuk kopi kemasan yang kini mulai memiliki pelanggan tetap.

“Alhamdulillah semua berjalan. Saya punya target sebelum usia 40 tahun bisa punya passive income yang stabil,” ungkapnya.

Meski sibuk mengembangkan usaha kopi, Imam tetap fokus menjalankan profesinya sebagai guru agama Islam di SDLB A Banyuwangi. Bahkan sejak 2025, ia tercatat sebagai guru PPPK penuh waktu.

Di sekolah, Imam tidak hanya mengajar. Dia juga menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar tetap percaya diri dan mandiri menghadapi kehidupan.

Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Karena itu, ia selalu menanamkan semangat kepada murid-muridnya agar terus kreatif dan tidak bergantung pada orang lain.

“Banyak anak-anak difabel yang masih berkutat dengan keterbatasannya. Saya selalu bilang jangan manja. Ini keadaan yang harus kita terima dan kita harus tetap kreatif,” tuturnya.

Imam bahkan sering membuka kelas kopi sederhana untuk siswa berkebutuhan khusus. Dia ingin para siswa memiliki keterampilan tambahan yang bisa menjadi bekal hidup mandiri di masa depan.

Baginya, dunia kopi bukan hanya soal bisnis dan keuntungan. Kopi menjadi ruang untuk membangun relasi, memperluas pengalaman, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi seseorang untuk berkarya.

Kini, nama Nurul Imam bukan hanya dikenal sebagai penyandang tuna netra. Dia telah menjadi simbol semangat, kemandirian, dan inspirasi bagi banyak orang di Banyuwangi. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Nurul Imam #Asyifa Coffee Banyuwangi #barista tuna netra #penyandang disabilitas inspiratif #Kopi Banyuwangi