Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Asal Usul Bondowoso Terungkap: Dari Kisah Raden Bagus Asra hingga Lahir 17 Agustus 1819

Ali Sodiqin • Selasa, 5 Mei 2026 | 23:30 WIB
BERSEJARAH: Monumen Gerbong Maut di Alun-Alun Bondowoso. (Dok Ali Sodiqin/Radar Banyuwangi)
BERSEJARAH: Monumen Gerbong Maut di Alun-Alun Bondowoso. (Dok Ali Sodiqin/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Nama Bondowoso kerap terdengar familiar di Jawa Timur. Namun, tak banyak yang benar-benar memahami asal-usul dan sejarah panjang di balik berdirinya kabupaten yang dikenal sebagai satu-satunya daerah tanpa garis pantai di kawasan tapal kuda itu.

Terletak di jalur strategis penghubung Besuki, Situbondo, hingga Jember, Bondowoso memiliki cerita historis yang berakar dari perjalanan panjang seorang tokoh bernama Raden Bagus Asra.

Asal Nama Bondowoso

Konon, kisah bermula dari sebuah kerajaan di Pulau Madura yang dipimpin Raden Bagus Asra. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin visioner yang berambisi memperluas wilayah kekuasaan hingga ke daratan Jawa Timur.

Dalam perjalanannya, ia menyeberangi Selat Madura dan pertama kali singgah di wilayah Besuki. Dari sana, ekspedisi berlanjut ke arah selatan, membuka hutan dan menjelajahi perbukitan hingga perkampungan yang dihuni para petani dan peternak.

Di salah satu wilayah subur yang ia temui, terdapat seorang tuan tanah kaya yang memiliki pengaruh besar. Dari kondisi itulah lahir nama “Bondowoso”.

Secara etimologi, Bondowoso berasal dari dua kata: “Bondo” yang berarti modal, dan “Woso” yang berarti kuasa. Makna ini menggambarkan seseorang yang memiliki modal sehingga mampu berkuasa.

Jejak Sejarah dan Perebutan Kekuasaan

Sejarah Bondowoso juga tak lepas dari dinamika politik di Madura pada abad ke-18. Raden Bagus Asra merupakan keturunan Demang Walikromo, yang memiliki garis hubungan dengan tokoh bangsawan Madura.

Pada 1743, terjadi pemberontakan besar oleh Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat. Konflik ini memicu pergolakan kekuasaan hingga menewaskan sejumlah tokoh penting.

Situasi baru mulai stabil sekitar tahun 1750 setelah pemberontakan berhasil dipadamkan. Dalam masa pemulihan itu, terjadi pergantian kepemimpinan dan penataan ulang kekuasaan di wilayah Madura dan sekitarnya.

Demi keselamatan, Raden Bagus Asra kecil kemudian dibawa ke wilayah Besuki oleh neneknya. Di sana, ia diasuh oleh Ki Patih Alus, seorang pejabat penting yang mendidiknya dalam ilmu agama dan bela diri.

Dari Pengembara Menjadi Penguasa

Memasuki usia 17 tahun, Raden Bagus Asra diangkat sebagai Mentri Anom. Kariernya terus menanjak hingga pada 1789 ia mendapat tugas memperluas wilayah ke arah selatan.

Sebelum menjalankan misi tersebut, ia menikah dengan Roro Sadiyah, putri Bupati Probolinggo. Perjalanan ekspansi kemudian dimulai dengan menembus hutan belantara, melewati sejumlah wilayah seperti Wringin, Kupang, hingga Mandiro.

Ekspedisi itu berakhir di sebuah kawasan lapang yang kini dikenal sebagai alun-alun Bondowoso. Di lokasi tersebut, Raden Bagus Asra diangkat sebagai pemimpin wilayah dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno.

Penetapan Hari Lahir Bondowoso

Salah satu momen penting dalam sejarah Bondowoso terjadi saat Raden Bagus Asra menjalani tirakat puasa selama 41 hari. Dari hasil spiritual tersebut, ia mendapatkan petunjuk mengenai tanggal berdirinya wilayah yang dipimpinnya.

Tanggal 17 Agustus 1819 kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Bondowoso.

Sejak saat itu, Bondowoso berkembang menjadi wilayah mandiri yang terlepas dari Besuki. Raden Bagus Asra diangkat sebagai pemimpin dengan gelar Ronggo I, ditandai dengan penyerahan pusaka Tombak Tunggul Wulung.

Akhir Perjalanan Sang Tokoh

Raden Bagus Asra memimpin wilayah Bondowoso dan sekitarnya hingga sekitar tahun 1830. Di masa kepemimpinannya, wilayah ini terus berkembang sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat.

Pada 1854, kondisi kesehatannya menurun dan ia dipulangkan ke Bondowoso. Tak lama berselang, pada 11 Desember 1854, tokoh yang dikenal juga sebagai Ki Ronggo itu wafat.

Ia dimakamkan di Asta Tinggi, Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel—yang hingga kini masih menjadi salah satu situs bersejarah di Bondowoso.

Warisan Sejarah

Kisah panjang Bondowoso menunjukkan bahwa daerah ini tidak lahir secara instan. Ada perjalanan panjang, konflik, hingga perjuangan membuka wilayah yang menjadi fondasi berdirinya kabupaten tersebut.

Di balik nama yang bermakna “modal dan kuasa”, tersimpan filosofi tentang kepemimpinan, perjuangan, dan kemampuan membangun peradaban dari nol.

Kini, Bondowoso bukan hanya dikenal sebagai daerah agraris di Jawa Timur, tetapi juga sebagai wilayah dengan warisan sejarah yang kuat dan terus hidup dalam identitas masyarakatnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#asal usul Bondowoso #sejarah Bondowoso #Raden Bagus Asra #arti Bondowoso #hari jadi Bondowoso