RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah tuntutan tugas yang kian kompleks, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan mengingatkan jajarannya agar tidak melupakan kewajiban dasar sebagai seorang muslim: salat. Pesan ini disampaikan langsung dalam kultum usai salat duhur berjamaah di Masjid Polresta Banyuwangi, Kamis (16/4).
Menariknya, Kapolresta tidak hanya memberikan tausiyah, tetapi juga bertindak sebagai imam. Momen ini menjadi simbol penegasan bahwa disiplin spiritual harus berjalan seiring dengan disiplin tugas di lapangan.
Dalam kultumnya, Rofiq menyoroti potensi konflik antara kesibukan tugas negara dan kewajiban ibadah. Ia menegaskan, keduanya tidak boleh saling mengorbankan.
“Sebagai anggota Polri, kita menjalankan tugas negara. Namun jangan sampai kewajiban kepada Allah SWT terabaikan, terutama dalam menjaga salat,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi internal di tubuh kepolisian, di tengah sorotan publik terhadap integritas aparat. Rofiq menekankan, kekuatan moral seorang anggota Polri tidak hanya dibangun dari aturan, tetapi juga dari kedisiplinan spiritual.
Selain soal salat, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesucian diri, baik secara fisik maupun batin. Menurutnya, konsep bersuci tidak hanya sebatas syarat ibadah, tetapi juga mencerminkan perilaku sehari-hari.
“Bersuci bukan hanya soal fisik, tetapi juga menjaga sikap dan perilaku, termasuk menjauhi hal-hal yang diharamkan,” ujarnya.
Ia menilai, integritas aparat penegak hukum sangat erat kaitannya dengan kondisi batin. Hati yang bersih akan memengaruhi cara berpikir, bertindak, hingga mengambil keputusan di lapangan.
Dalam konteks pelayanan publik, hal ini menjadi krusial. Rofiq menegaskan bahwa anggota Polri adalah pengayom masyarakat yang harus bekerja dengan niat tulus dan bersih dari kepentingan pribadi.
“Kita harus ingat tugas sebagai pengayom. Dengan hati yang bersih, kita bisa menjalankan amanah dan memberikan pelayanan terbaik,” katanya.
Kegiatan kultum ini merupakan bagian dari pembinaan rohani dan mental (binrohtal) yang rutin dilakukan di lingkungan Polresta Banyuwangi. Program ini diharapkan mampu memperkuat karakter personel, terutama dalam menghadapi tekanan tugas yang semakin dinamis.
Di tengah tuntutan profesionalisme dan transparansi, pendekatan spiritual seperti ini menjadi salah satu upaya membangun fondasi moral aparat. Sebab, di balik seragam dan kewenangan, integritas tetap menjadi penentu utama kepercayaan publik.
Pesan Kapolresta ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tugas negara dan tanggung jawab spiritual bukan dua hal yang saling bertentangan—melainkan harus berjalan beriringan. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin