Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kematian Dipenuhi Ketidakwajaran, Ayah Kandung Tak Masalah Jika Kuburan Anaknya Dibongkar

Humaidi. • Senin, 17 Juli 2023 | 17:00 WIB
SAMPAIKAN KECURIGAAN: Suhaddam Ayah Kandung Sugi Mukti, 17, warga Dusun Tanjung Banun, Desa/Kecamatan Mangaran, Situbondo.
SAMPAIKAN KECURIGAAN: Suhaddam Ayah Kandung Sugi Mukti, 17, warga Dusun Tanjung Banun, Desa/Kecamatan Mangaran, Situbondo.

RADAR SITUBONDO – Suhaddam, 52, warga Tanjung Banun, Desa Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, Situbondo, angkat bicara, Minggu (16/7). Ayah kandung Sugi Mukti yang ditemukan tewas gantung diri ini, meminta hasil otopsi atas kematian anaknya yang tidak wajar.

Suhaddam mengatakan, paska Sugi Mukti meninggal, hatinya tidak pernah tenang. Dia merasa ada hal yang janggal dalam kematian anaknya. Apalagi, anaknya adalah penyandang disabilitas yang tidak mungkin mengalami depresi hingga nekat gantung diri.

“Tidak mungkin anak saya gantung diri jika tidak memiliki masalah besar. Tapi anak saya juga tidak mungkin melakukan gantung diri karena kehendaknya sendiri. ini masih ada kejanggalan yang belum saya terima,” ungkap Suhaddam.

Kata dia, dirinya tidak memiliki dugaan buruk kepada ibu kandungnya maupun kepada ayah tirinya. Apalagi, dia tidak melihat secara langsung pada saat anaknya meninggal gantung diri. Saat itu, dia hanya tahu anaknya sudah terbaring tak bernyawa.

“Saat itu saya sudah tidak memikirkan apa-apa, karena saya tidak tega melihat anak saya yang meninggal,” ujarnya.

Usai anaknya dimakamkan, dia hanya diminta untuk menandatangani sebuah surat yang tidak diketahui tujuannya. Sehingga tanpa pikir panjang dia langusung menandatangani surat tersebut. Bahkan, dia juga mengaku tidak mendapatkan pemahaman tentang surat yang ditandatangani.

“Saya disuruh tanda tangan ya tanda tangan. Sekarang baru tahu, kalau tanda tangan tersebut adalah tanda terima jika anak saya meninggal benar-benar karena gantung diri. Biasanya kan diberi tahu, surat itu untuk apa dan fungsinya apa,” kata Suhaddam.

Apalagi dia sudah mendengar cerita dari beberapa orang yang sudah memandikan Sugi. Bahwa di sekujur tubuh sugi ditemukan beberapa bekas lebam berwarna ungu. Sehingga dia semakin tidak tenang dan terus bertanya-tanya penyebab kematian Sugi yang sebenarnya.

“Sekarang saya hanya ingin tahu kenapa anak saya gantung diri. Apakah memang benar gantung diri atau karena dianiaya oleh orang. Sekarang saya hanya ingin anak say diotopsi. Kalaupun harus bongkar kubur tidak masalah. Yang penting sudah jelas buktinya anak saya mati karena apa,” ucap Suhaddam.

Tidak hanya itu, dia juga ingin melaporkan kematian anaknya ke Mapolres Situbondo. tujuannya untuk meminta bantuan polisi agar mengungkap kasus yang sebenarnya.

“Besok (hari ini) insyallah saya akan laporan, saya mau minta tolong sama polisi agar kematian anak saya dipastikan. Apakah benar bunuh diri atau dianiaya orang,” tegas Suhaddam.

Diberitakan sebelumnya, pada Rabu (12/7) lalu, Faridah selaku ibu kandung dan ayah tiri korban Marsito, dipanggil ke Mapolsek Mangaran untuk dimintai keterangan. Saat itu, Faridah sempat menyatakan jika kematian anaknya ditemukan pertama kali olehnya.

Kala itu, Sugi berada di dalam WC dan mengunci pintu WC dari dalam. Karena panik, dia langsung mendobrak pintu WC dan menemukan Sugi dalam keadaan gantung diri. Sedangkan mulutnya menggigit kain. (hum/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#depresi #otopsi #gantung diri #disabilitas