Salah satu yang didatangi tim Susuka adalah Curah Ma’at atau Curah Bu Inah yang berada di perbatasan wilayah HGU Perkebunan Lidjen dan Perhutani. Curah ini harus ditempuh dengan berjalan kaki. Dari jalan raya Ijen, tim harus berjalan kurang lebih 3 kilometer sampai ke titik curah. Melewati hamparan tanaman tebu, jahe gajah, dan cabai yang ditanam di kawasan tersebut.
Dulu di atas lahan tersebut tumbuh tanaman keras yang sedikit banyak membantu penyerapan air ketika hujan. Sekarang kondisi di Gantasan berubah. Hutannya gundul, berubah menjadi hamparan tanaman tebu, jahe, lombok, dan tanaman berakar ringan.
Lokasi curah berada di tengah area pepohonan hutan. Di sisi utara, ada deretan tanaman pinus yang memanjang dari kaki Ijen hingga ke bawah. Sedangkan di sisi selatan, hanya ada sejumlah varietas tanaman. Seperti durian, bambu, dan pisang. Yang langsung berbatasan dengan ladang tebu sampai ke area tengah perekebunan. Di sekitar area tanaman tebu tampak galian tanah yang tampaknya berfungsi sebagai pengalir air hujan yang langsung mengarah ke Curah Ma’at.
”Sungai ini kering, tapi jika hujan, airnya sangat banyak, melewati Kalibendo. Ini alirannya ada yang ke Sungai Gulung yang mengalir ke Sobo. Ada juga yang mengalir ke Kalilele lalu ke Kalilo,” ujar Juru Pengairan Kabat di wilayah Licin Suwarso.
Untuk melihat bagaimana besarnya aliran air yang dibawa oleh Curah Ma’at, menurut Suwarso, harus dilakukan saat hujan lebat. Namun, dari penuturan warga, jika hujan lebat curah tak lagi bisa dilewati karena tingginya debit air.
Dari hasil penelusuran tim Susuka di Gantasan, Plt Kasi Pengelolaan dan Pemanfaatan Aset Dinas PU Pengairan Anwar Nuris menyimpulkan bahwa sungai kering di sekitar area Perkebunan Lidjen dan tanah Perhutani menjadi salah satu penyebab meningkatnya debit air sungai di kawasan hilir. Meski bukan satu-satunya penyebab banjir, Curah Ma’at atau Bu Inah membawa cukup banyak air yang berasal dari area tanah sekitarnya.
Kawasan HGU yang dikelola PT Lidjen sebagian menjadi kawasan ladang terbuka. Ada yang menjadi ladang tebu, ladang jahe, tanaman cabai, dan bahkan tanpa tanaman. Jika dilihat dari kemiringan tanah, Anwar menyebut saat terjadi hujan lebat, air dari area ladang akan jatuh ke area curah yang ada di bawahnya. ”Jika melihat curahnya memang kecil, tapi tepinya cukup lebar. Jadi, kita bisa bayangkan berapa luasan air yang dialirkan,” jelasnya. (fre/aif/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha