Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ini yang Disebut-sebut Pemicu Banjir Kota Banyuwangi

Gerda Sukarno Prayudha • Sabtu, 25 Maret 2023 | 17:08 WIB
TAK ADA POHON BESAR: Lahan di puncak Gantasan terlihat gundul. Di atas lahan tersebut kini ditanami tebu, jahe, cabai, dan tanaman lainnya. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)
TAK ADA POHON BESAR: Lahan di puncak Gantasan terlihat gundul. Di atas lahan tersebut kini ditanami tebu, jahe, cabai, dan tanaman lainnya. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)
LICIN, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Kalilo memiliki wilayah hulu yang boleh dibilang cukup kompleks. Ada banyak anak sungai yang ikut menyumbang air hingga muara Kalilo. Termasuk ”curah” atau sungai kering yang jalurnya berasal dari wilayah kaki Gunung Ijen.

Salah satu yang didatangi tim Susuka adalah Curah Ma’at atau Curah Bu Inah yang berada di perbatasan wilayah HGU Perkebunan Lidjen dan Perhutani. Curah ini harus ditempuh dengan berjalan kaki. Dari jalan raya Ijen, tim harus berjalan kurang lebih 3 kilometer sampai ke titik curah. Melewati hamparan tanaman tebu, jahe gajah, dan cabai yang ditanam di kawasan tersebut.

Photo
Photo
TANPA PENAHAN : Tanaman keras hampir dipastikan tidak ada disekitar Gantasan. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Dulu di atas lahan tersebut tumbuh tanaman keras yang sedikit banyak membantu penyerapan air ketika hujan. Sekarang kondisi di Gantasan berubah. Hutannya gundul, berubah menjadi hamparan tanaman tebu, jahe, lombok, dan tanaman berakar ringan.

Lokasi curah berada di tengah area pepohonan hutan. Di sisi utara, ada deretan tanaman pinus yang memanjang dari kaki Ijen hingga ke bawah. Sedangkan di sisi selatan, hanya ada sejumlah varietas tanaman. Seperti durian, bambu, dan pisang. Yang langsung berbatasan dengan ladang tebu sampai ke area tengah perekebunan. Di sekitar area tanaman tebu tampak galian tanah yang tampaknya berfungsi sebagai pengalir air hujan yang langsung mengarah ke Curah Ma’at.

Photo
Photo
JALAN KAKI: Tim Susuka berhenti di atas jembatan tak jauh dari jalan raya dekat Gantasan, Desa Tamansari, Licin Rabu lalu (22/3). (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

”Sungai ini kering, tapi jika hujan, airnya sangat banyak, melewati Kalibendo. Ini alirannya ada yang ke Sungai Gulung yang mengalir ke Sobo. Ada juga yang mengalir ke Kalilele lalu ke Kalilo,” ujar Juru Pengairan Kabat di wilayah Licin Suwarso.

Untuk melihat bagaimana besarnya aliran air yang dibawa oleh Curah Ma’at, menurut Suwarso, harus dilakukan saat hujan lebat. Namun, dari penuturan warga, jika hujan lebat curah tak lagi bisa dilewati karena tingginya debit air.

 

Photo
Photo
TIM Susur Sungai Kalilo (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Dari hasil penelusuran tim Susuka di Gantasan, Plt Kasi Pengelolaan dan Pemanfaatan Aset Dinas PU Pengairan Anwar Nuris menyimpulkan bahwa sungai kering di sekitar area Perkebunan Lidjen dan tanah Perhutani menjadi salah satu penyebab meningkatnya debit air sungai di kawasan hilir. Meski bukan satu-satunya penyebab banjir, Curah Ma’at atau Bu Inah membawa cukup banyak air yang berasal dari area tanah sekitarnya.

Kawasan HGU yang dikelola PT Lidjen sebagian menjadi kawasan ladang terbuka. Ada yang menjadi ladang tebu, ladang jahe, tanaman cabai, dan bahkan tanpa tanaman. Jika dilihat dari kemiringan tanah, Anwar menyebut saat terjadi hujan lebat, air dari area ladang akan jatuh ke area curah yang ada di bawahnya. ”Jika melihat curahnya memang kecil, tapi tepinya cukup lebar. Jadi, kita bisa bayangkan berapa luasan air yang dialirkan,” jelasnya. (fre/aif/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#Susuka #banjir #susur sungai #gantasan #kailo