RADARBANYUWANGI.ID - Sejumlah pemudik pada musim Lebaran 2026 mulai beralih menggunakan transportasi kereta api untuk kembali ke kampung halaman. Pilihan ini dinilai lebih efisien dan nyaman, terutama untuk menghindari kemacetan panjang yang kerap terjadi di jalur darat.
Salah satu pemudik, Andri, warga Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, mengaku untuk pertama kalinya memilih kereta api sebagai moda transportasi mudik. Ia sebelumnya selalu menggunakan kendaraan pribadi.
“Kalau naik kereta paling lima jam. Tapi kalau naik kendaraan pribadi pengalaman tahun sebelumnya bisa mencapai 18 jam,” ujar Andri di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Menurut Andri, pengalaman perjalanan panjang dan melelahkan saat mudik dengan mobil pribadi menjadi pertimbangan utama. Apalagi, tahun ini ia membawa anak kecil sehingga membutuhkan perjalanan yang lebih nyaman.
“Apalagi saat ini saya bawa anak kecil, jadi lebih pilih menggunakan kereta api,” katanya.
Ia juga menyebut telah memesan tiket jauh-jauh hari untuk memastikan ketersediaan kursi, baik untuk perjalanan mudik maupun arus balik.
Hal serupa diungkapkan Yuni, pemudik asal Solo, Jawa Tengah, yang mengaku telah terbiasa menggunakan kereta api setiap musim Lebaran. Ia menilai moda transportasi ini lebih nyaman dan bebas dari kemacetan.
“Tapi memang harus lebih ekstra untuk mendapatkan tiketnya, karena harus dipesan jauh-jauh hari,” ujarnya.
Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat tingginya minat masyarakat menggunakan kereta api selama periode Angkutan Lebaran tahun ini.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, mengungkapkan hingga Senin (16/3) siang, total penumpang yang berangkat dari berbagai stasiun di wilayah Daop 1 Jakarta mencapai 51.584 orang, sementara jumlah kedatangan tercatat sebanyak 23.939 penumpang.
Meski demikian, angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya, dengan keberangkatan 52.008 penumpang dan kedatangan 26.935 penumpang.
Selama periode Angkutan Lebaran yang berlangsung pada 11 Maret hingga 1 April 2026, KAI menyediakan total kapasitas 1.076.196 kursi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 719.988 tiket telah terjual, dengan tingkat okupansi sementara mencapai sekitar 67 persen.
Franoto juga menyebut bahwa periode penjualan tertinggi terjadi pada 11 hingga 20 Maret, dengan total 468.795 tiket terjual. Puncak penjualan harian tercatat pada 15 Maret dengan 52.008 tiket, disusul 14 Maret sebanyak 51.128 tiket dan 16 Maret sebanyak 51.584 tiket.
Tren ini menunjukkan bahwa kereta api semakin menjadi pilihan utama masyarakat untuk mudik, terutama karena keunggulannya dalam hal ketepatan waktu, kenyamanan, dan bebas dari kemacetan.
Editor : Lugas Rumpakaadi