Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Situbondo Kota Santri hingga Kota Kerapu, Warisan Budaya dan Potensi Wisata Religi yang Terus Berkembang

Ali Sodiqin • Jumat, 16 Januari 2026 | 09:30 WIB

Salah satu sudut Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. (Sukorejo.com)
Salah satu sudut Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. (Sukorejo.com)

Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, sejak lama dikenal dengan sebutan Kota Santri. Julukan ini bukan tanpa alasan.

Di sepanjang wilayah dari ujung timur yang berbatasan dengan Banyuwangi hingga ujung barat berbatasan dengan Probolinggo, berdiri ratusan pondok pesantren dengan ribuan santri yang menuntut ilmu agama.

Selain Kota Santri, Situbondo juga kerap disebut sebagai Bumi Shalawat Nariyah, mencerminkan kuatnya tradisi keagamaan dan spiritualitas masyarakatnya.

Belakangan, muncul pula julukan baru, yakni Kota Kerapu, seiring berkembangnya sektor perikanan budidaya yang menopang ekonomi masyarakat pesisir.

Jejak Sejarah dan Akulturasi Budaya

Berdasarkan sejarahnya, Situbondo—yang dahulu dikenal sebagai Panarukan—dirancang oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai kawasan metropolis dan industrial.

Perencanaan ini menjadikan Situbondo sebagai titik pertemuan berbagai etnik dan latar belakang budaya.

Dampaknya masih terasa hingga kini. Secara kultural, Situbondo memiliki kekayaan ekspresi budaya hasil interaksi panjang antar-etnik.

Akulturasi budaya tersebut melahirkan berbagai kesenian khas, seperti perpaduan Jawa–Madura dalam pertunjukan mamaca dan wayang topeng.

Ada pula pengaruh Madura–Arab dalam bentuk syi’ir Madura, hadrah, gambus, serta drama Al-Badar. Interaksi Madura–Tionghoa pernah melahirkan kesenian Bâjâng Titi pada era 1980-an.

Tak ketinggalan, Madura–India dalam bentuk dangdut Madura, Madura–Barat lewat musik strèkan, hingga Jawa–Tionghoa yang tercermin dalam dialek bahasa Jawa ala Situbondo.

“Situbondo itu unik. Budayanya campur, tapi justru di situlah kekuatannya. Kita bisa lihat di acara hajatan, pengajian, sampai kesenian rakyat,” ujar Abdul Hadi, warga Kecamatan Asembagus.

Pesantren dan Identitas Masyarakat

Sebagian besar masyarakat Situbondo tinggal di wilayah pesisir dan dikenal sangat religius.

Ketaatan terhadap kiai dan pengasuh pondok pesantren menjadi ciri kuat kehidupan sosial masyarakat.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan asli Situbondo telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat lokal.

Namun, di tengah arus modernisasi dan berkembangnya industri pariwisata, pesantren juga dihadapkan pada tantangan baru.

“Pesantren di Situbondo itu kuat tradisinya. Tapi sekarang juga dituntut bisa menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri,” tutur Ustz Mustofa, pengasuh salah satu pesantren di Situbondo.

Pesantren salaf yang mayoritas ada di Situbondo sangat lekat dengan tradisi. Hal ini sejalan dengan karakter masyarakat setempat yang teguh memegang adat.

Kesamaan tersebut menciptakan hubungan harmonis antara santri dan masyarakat sekitar.

Peluang Wisata Religi

Fenomena ini sejatinya dapat dimaksimalkan oleh pemerintah daerah melalui pengembangan wisata religi.

Wisata religi kini semakin diminati masyarakat, terbukti dari tingginya antusiasme ziarah ke makam para wali, ulama, dan kiai yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual.

Kabupaten Situbondo memiliki banyak makam ulama dan masjid bersejarah yang berpotensi menjadi destinasi wisata religi unggulan.

Ziarah tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan spiritual, tetapi juga sarana refleksi diri dan pelepas kejenuhan.

“Kalau ziarah ke makam kiai, rasanya hati lebih tenang. Capek kerja hilang, semangat kembali,” kata Siti Aminah, peziarah asal Bondowoso yang rutin berkunjung ke Situbondo.

Berbeda dengan wisata hiburan yang bersifat sementara, wisata religi menawarkan ketenangan batin dan energi positif.

Aktivitas ini bisa dilakukan secara pribadi, bersama keluarga, maupun dalam rombongan pengajian.

Strategi Pengembangan Pariwisata

Pengembangan sektor pariwisata untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) harus berpijak pada kearifan lokal.

Namun, sektor pariwisata Situbondo masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari infrastruktur hingga promosi.

Merujuk pada pendapat Nyoman S. Pendit dalam Ilmu Pariwisata (2004), potensi wisata adalah segala sesuatu yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Untuk itu, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan.

Pertama, pengembangan objek wisata, baik wisata religi, alam, maupun budaya, dengan memperbaiki sarana dan prasarana pendukung.

Kedua, promosi wisata melalui media cetak dan elektronik, serta keikutsertaan dalam agenda promosi daerah.

Ketiga, pembinaan usaha pariwisata, dengan menyediakan fasilitas transportasi, akomodasi, kuliner, hingga cenderamata.

Keempat, dukungan masyarakat, yang menjadi faktor utama keberhasilan pengembangan pariwisata.

“Masyarakat harus dilibatkan. Kalau warga merasa memiliki, wisata pasti maju,” ujar Budi Santoso, pelaku usaha kuliner lokal.

Harapan ke Depan

Dengan kekayaan budaya, kuatnya tradisi pesantren, serta potensi wisata religi yang besar, Situbondo memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai destinasi wisata berbasis kearifan lokal.

Sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat diharapkan mampu mendorong pertumbuhan pariwisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Situbondo bukan hanya Kota Santri atau Kota Kerapu, tetapi juga rumah bagi warisan budaya dan spiritual yang patut dijaga dan dikembangkan untuk generasi mendatang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #budaya #kota santri #kota kerapu #wisata religi