Instalasi seni berbentuk kurva yang terbuat dari bambu tersebut berlokasi di Jalan Diponegoro, depan Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan.
Kepala Bidang (Kabid) Penataan Ruang Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (PU-CKPP) Bayu Hadiyanto mengatakan, lorong bambu tersebut kini dalam masa perbaikan.
Pembongkaran lorong bambu merupakan bagian dari pemeliharaan untuk memperbaiki dan memperkuat konstruksi.
”Sebelumnya seluruh rangka atas terowongan yang terbuat dari bambu telah rapuh. Maka, kami ganti dengan pipa besi lengkung yang dicat dan disamarkan dengan dibentuk ruas sehingga menyerupai bambu agar lebih kokoh,” ujarnya pada Minggu (2/6).
Sedangkan, untuk bagian konstruksi bawah, menurut Bayu, hingga saat ini masih cukup kuat. Dengan demikian, yang perlu diperbaiki hanya konstruksi lengkung di bagian atas.
Bayu menambahkan, penggantian bambu dengan besi tersebut perlu dilakukan karena jika kembali menggunakan bambu, maka instalasi seni itu diperkirakan tidak akan bertahan lama alias mudah lapuk.
Hal itu berpotensi membahayakan pengunjung. ”Ini bagian pemeliharaan yang dianggarkan tahun 2024. Pengerjaan kali ini hanya penguatan konstruksi, tidak sampai ke pemasangan membran,” tuturnya.
Bayu menargetkan, proyek perbaikan tersebut akan selesai dalam kurun satu bulan. Hingga kemarin progres pengerjaan mencapai kurang lebih 90 persen.
”Sudah mulai pemasangan reng-reng bambu dan besi lengkung. Setelah selesai pengerjaan penguatan konstruksi, nanti akan dipasang lampu-lampu. Secepatnya kami kembalikan ke fungsi awalnya dan akan segera dibuka untuk destinasi wisata kota,” pungkasnya. (tar/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries