alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Masyarakat Umum Bisa Miliki Aset di Agrowisata Golden Hills

LICIN, Jawa Pos Radar BanyuwangiGround Breaking pembangunan agrowisata Banyuwangi Golden Hills di Desa Gumuk, Kecamatan Licin, Banyuwangi, dimulai, Jumat (22/7). Tak hanya sebagai tempat edukasi berbasis alam, agrowisata yang menempati lahan seluas 45 hektare itu rencananya akan dibuka untuk masyarakat yang ingin berinvestasi di tempat wisata.

Direktur Utama PT Hasana Agro Nusantara Rika Chova menjelaskan, tahap pembangunan akan mengolah 10 hektare lahan untuk dikembangkan sebagai lokasi agrowisata. Ke depan akan ada penambahan beberapa tempat seperti wahana wisata, ritel, vila semipermanen, hingga kafe untuk melengkapi Banyuwangi Golden Hills.

”Konsepnya membangun kawasan wisata berbasis agro. Nanti akan kita bangun agropark, edupark, farmpark, dan wahana permainan yang digunakan untuk menarik masyarakat,” jelas Rika.

Baca Juga :  Kasus Baru Melandai, Angka Kesembuhan Meningkat

Yang membedakan Banyuwangi Golden Hills dengan agrowisata lainnya adalah konsep kepemilikan properti yang bisa diakses oleh masyarakat Banyuwangi secara umum dan masyarakat Indonesia secara luas. Masyarakat bisa membeli kavling-kavling produktif di kawasan Banyuwangi Golden Hills. Baik berupa perkebunan agrowisata, peternakan, taman edukasi, kafe, vila, maupun ritel.

(Foto: Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

”Masyarakat yang membeli kavling bisa ikut mendapatkan pemasukan dari agrowisata yang kita kelola. Tidak hanya kavling yang mereka beli, dari penjualan tiket masuk akan ada pembagian pendapatan bagi para owner di agrowisata,” imbuhnya.

Konsep yang ditawarkan Banyuwangi Golden Hills, menurut Rika, terinspirasi dari Dreamland Cicalengka di Jawa Barat dan Dreamland Malang. Di mana konsep penjualan properti di tempat wisata dilakukan secara terbuka. Owner atau pemilik properti tak perlu kesulitan mengelola karena sudah ada manajemen pariwisata yang akan mengurus semuanya.

Baca Juga :  Bed Set Ruang ICU Dilengkapi Pemantau Kondisi Vital

”Kavling yang kita sediakan bisa menjadi pasif income bagi para pemiliknya. Itu yang kita tawarkan. Bisnis ini terbukti cukup stabil meski di saat pandemi Covid-19 seperti kemarin,” kata Rika.

Nama Banyuwangi Golden Hills, imbuh Rika, diambil karena melihat lokasi perbukitan yang menjadi tempat agrowisata. Nantinya, Banyuwangi Golden Hills diharapkan akan menjadi ”tanah emas” yang bisa memberikan banyak keuntungan bagi para investor. ”Langkah awal kita kembangkan agrowisatanya dulu, peternakan, dan perkebunan. Nantinya, owner akan mendapatkan perkebunan dengan tanaman durian jenis musang king dan pisang cavendis. Untuk peternakan kita siapkan domba,” tandas Rika. (fre/aif/c1)

LICIN, Jawa Pos Radar BanyuwangiGround Breaking pembangunan agrowisata Banyuwangi Golden Hills di Desa Gumuk, Kecamatan Licin, Banyuwangi, dimulai, Jumat (22/7). Tak hanya sebagai tempat edukasi berbasis alam, agrowisata yang menempati lahan seluas 45 hektare itu rencananya akan dibuka untuk masyarakat yang ingin berinvestasi di tempat wisata.

Direktur Utama PT Hasana Agro Nusantara Rika Chova menjelaskan, tahap pembangunan akan mengolah 10 hektare lahan untuk dikembangkan sebagai lokasi agrowisata. Ke depan akan ada penambahan beberapa tempat seperti wahana wisata, ritel, vila semipermanen, hingga kafe untuk melengkapi Banyuwangi Golden Hills.

”Konsepnya membangun kawasan wisata berbasis agro. Nanti akan kita bangun agropark, edupark, farmpark, dan wahana permainan yang digunakan untuk menarik masyarakat,” jelas Rika.

Baca Juga :  PKB Menyatu Dengan Masyarakat

Yang membedakan Banyuwangi Golden Hills dengan agrowisata lainnya adalah konsep kepemilikan properti yang bisa diakses oleh masyarakat Banyuwangi secara umum dan masyarakat Indonesia secara luas. Masyarakat bisa membeli kavling-kavling produktif di kawasan Banyuwangi Golden Hills. Baik berupa perkebunan agrowisata, peternakan, taman edukasi, kafe, vila, maupun ritel.

(Foto: Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

”Masyarakat yang membeli kavling bisa ikut mendapatkan pemasukan dari agrowisata yang kita kelola. Tidak hanya kavling yang mereka beli, dari penjualan tiket masuk akan ada pembagian pendapatan bagi para owner di agrowisata,” imbuhnya.

Konsep yang ditawarkan Banyuwangi Golden Hills, menurut Rika, terinspirasi dari Dreamland Cicalengka di Jawa Barat dan Dreamland Malang. Di mana konsep penjualan properti di tempat wisata dilakukan secara terbuka. Owner atau pemilik properti tak perlu kesulitan mengelola karena sudah ada manajemen pariwisata yang akan mengurus semuanya.

Baca Juga :  Dalami Motif Pembunuhan Wongsorejo, Penyidik Libatkan Psikolog

”Kavling yang kita sediakan bisa menjadi pasif income bagi para pemiliknya. Itu yang kita tawarkan. Bisnis ini terbukti cukup stabil meski di saat pandemi Covid-19 seperti kemarin,” kata Rika.

Nama Banyuwangi Golden Hills, imbuh Rika, diambil karena melihat lokasi perbukitan yang menjadi tempat agrowisata. Nantinya, Banyuwangi Golden Hills diharapkan akan menjadi ”tanah emas” yang bisa memberikan banyak keuntungan bagi para investor. ”Langkah awal kita kembangkan agrowisatanya dulu, peternakan, dan perkebunan. Nantinya, owner akan mendapatkan perkebunan dengan tanaman durian jenis musang king dan pisang cavendis. Untuk peternakan kita siapkan domba,” tandas Rika. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/