alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Balapan Sepi, Pembalap Eko Setiawan Banting Setir Jadi Tour Rider

RadarBanyuwangi.id – Dunia balap sepeda di Banyuwangi semakin populer dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini yang akhirnya membuat Eko Setiawan, 33, pembalap road bike asal Bumi Blambangan yang berkarir di Bali, memilih pulang ke tanah kelahirannya.

Eko adalah bagian dari Tim Banyuwangi Road Cycling Community (BRCC). Sebelumnya, pria asal Desa Kalirejo, Kecamatan Kabat itu telah 10 tahun berkiprah di Pulau Dewata. Bahkan, dia pernah beberapa kali membela Kabupaten Jembrana, Kota Denpasar, hingga Provinsi Bali di ajang Porprov dan PON.

Suami Dewi Puspitasi ini sudah menekuni balap sepeda sejak tahun 2005. Awalnya, Eko adalah penghobi sepeda BMX. Kecintaannya kepada balap sepeda diawali dari kemenangnya di event Fun Bike di Banyuwangi tahun 2003.

Masa kecil Eko tergolong anak yang bandel. Dia kerap merokok meski masih duduk di bangku SD. Eko kemudian diarahkan orang tuanya untuk mengikuti event Fun Bike. Saat itu dia memang sudah menyukai sepeda BMX.

Di event pertama, Eko kalah. Hasil itu justru membuatnya semakin penasaran. Setelah kekalahan itu dia berjuang agar bisa memenangkan event yang digelar tiga bulan kemudian. Di event selanjutnya, Eko tampil sebagai juara pertama.

Sejak saat itu, kebiasaan buruknya merokok mulai hilang. Eko semakin fokus untuk melatih kemampuanya mengayuh sepeda. ”Setelah itu saya mulai ikut event-event. Tahun 2005 saya beli road bike tua. Jadi mulai ikut balapan,” ungkapnya.

Pada tahun 2006, Eko berangkat ke Bali untuk mengikuti event balapan di Denpasar. Keberuntungan kembali bergelayut kepada pria lulusan MAN 1 Banyuwangi itu. Eko menjadi juara 3. Setelah itu, dia mulai berkenalan dengan beberapa orang yang berkecimpung di dunia balap sepeda di Bali.

Di tahun yang sama, Eko ditawari pindah domisili ke Kabupaten Jembrana. Tawaran itu pun tak disia-siakan. Eko akhirnya menjadi bagian dari balap sepeda Kabupaten Jembrana. Dia sempat turun di event Porprov Bali tahun 2007 dan membawa pulang 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu.

Eko juga kembali membawa Jembrana memperoleh dua emas di event Porprov Bali tahun 2011 dan 2013. Lalu, dia sempat berpindah ke Kota Denpasar dan kembali membawa emas untuk kota yang dibelanya di Porprov Bali tahun 2015 dan 2017. ”Waktu itu penawarannya menggiurkan. Satu emas dihargai Rp 10 juta, belum reward-reward lainnya,” imbuh pria yang akrab disapa Eko J itu.

Pembalap dengan spesialisasi climber itu pernah merasakan dua kali event PON, yaitu PON Riau 2012 dan PON Bandung 2016. Sayangnya, Eko belum beruntung di dua multievent olahraga nasional itu. ”Di Bali sendiri saat itu sebenarnya atletnya banyak orang Jawa. Termasuk pelatihnya juga. Jadi nyaman-nyaman saja di sana. Sedangkan di Banyuwangi saat itu balap sepeda belum seperti sekarang,” imbuhnya.

Setelah kepengurusan ISSI Banyuwangi dipegang oleh Guntur Priambodo dan event sekelas Tour de Ijen mulai digarap, Eko akhirnya pulang ke Banyuwangi. Dia ikut memperkuat tim balap sepeda asal Banyuwangi, BRCC. Dia juga ikut turun di beberapa seri Tour de Ijen.

Di setiap edisi balapan, pria yang kini bekerja sebagai tenaga harian lepas (THL) di Dinas PU Pengairan itu selalu menjadi andalan di etape yang melalui tanjakan Ijen. ”Sebenarnya saya bisa menetap di Bali. Waktu itu ditawari menjadi sopir salah satu camat di Bali, tapi saya memilih pulang. Di sini (Banyuwangi) balap sepeda sudah berkembang. Saya berharap bisa menjadi bagian di sini,” ujarnya.

Kini, setelah pandemi menghantam, Eko masih tetap eksis di dunia balap sepeda. Meski usianya tak lagi masuk usia atlet pembinaan, Eko kerap turun di event-event balapan di kelas master. Selain itu, Eko juga menjadi tour rider bagi para pembalap atau penghobi balap sepeda yang datang ke Banyuwangi. Selain menjadi destinasi wisata, banyak pegowes dari luar kota yang sengaja mengunjungi Banyuwangi untuk bermain sepeda.

Kesempatan itu diambil Eko dengan menjadi tour rider. Tak hanya mendampingi para tamu untuk berkeliling, dia juga ikut menjelaskan lokasi-lokasi yang menjadi bagian dari jalur bersepeda. Eko menunjukan spot-spot gowes dan wisata yang menarik kepada para tamu yang datang. ”Ya Alhamdulillah, bisa untuk pemasukan. Rata-rata tamu membayar antara Rp 300 ribu sampai Rp 2 juta untuk ditemani bersepeda keliling Banyuwangi,” ucapnya tersenyum.

Ke depannya, pria bertubuh ramping itu berharap punya kesempatan untuk ikut membina atlet di Banyuwangi. Meski saat ini kerap menjadi pendamping para atlet, Eko berharap bisa menjadi pelatih. Dia mengaku sangat betah dengan iklim sepeda di Banyuwangi yang dipenuhi banyak klub dan penghobi. ”Cuma saya belum punya lisensi, jadi hanya bisa mendampingi. Ingin sebenarnya menjadi pelatih supaya bisa menularkan ilmu di sini,” pungkas pria yang memiliki hobi mancing itu. (fre/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Dunia balap sepeda di Banyuwangi semakin populer dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini yang akhirnya membuat Eko Setiawan, 33, pembalap road bike asal Bumi Blambangan yang berkarir di Bali, memilih pulang ke tanah kelahirannya.

Eko adalah bagian dari Tim Banyuwangi Road Cycling Community (BRCC). Sebelumnya, pria asal Desa Kalirejo, Kecamatan Kabat itu telah 10 tahun berkiprah di Pulau Dewata. Bahkan, dia pernah beberapa kali membela Kabupaten Jembrana, Kota Denpasar, hingga Provinsi Bali di ajang Porprov dan PON.

Suami Dewi Puspitasi ini sudah menekuni balap sepeda sejak tahun 2005. Awalnya, Eko adalah penghobi sepeda BMX. Kecintaannya kepada balap sepeda diawali dari kemenangnya di event Fun Bike di Banyuwangi tahun 2003.

Masa kecil Eko tergolong anak yang bandel. Dia kerap merokok meski masih duduk di bangku SD. Eko kemudian diarahkan orang tuanya untuk mengikuti event Fun Bike. Saat itu dia memang sudah menyukai sepeda BMX.

Di event pertama, Eko kalah. Hasil itu justru membuatnya semakin penasaran. Setelah kekalahan itu dia berjuang agar bisa memenangkan event yang digelar tiga bulan kemudian. Di event selanjutnya, Eko tampil sebagai juara pertama.

Sejak saat itu, kebiasaan buruknya merokok mulai hilang. Eko semakin fokus untuk melatih kemampuanya mengayuh sepeda. ”Setelah itu saya mulai ikut event-event. Tahun 2005 saya beli road bike tua. Jadi mulai ikut balapan,” ungkapnya.

Pada tahun 2006, Eko berangkat ke Bali untuk mengikuti event balapan di Denpasar. Keberuntungan kembali bergelayut kepada pria lulusan MAN 1 Banyuwangi itu. Eko menjadi juara 3. Setelah itu, dia mulai berkenalan dengan beberapa orang yang berkecimpung di dunia balap sepeda di Bali.

Di tahun yang sama, Eko ditawari pindah domisili ke Kabupaten Jembrana. Tawaran itu pun tak disia-siakan. Eko akhirnya menjadi bagian dari balap sepeda Kabupaten Jembrana. Dia sempat turun di event Porprov Bali tahun 2007 dan membawa pulang 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu.

Eko juga kembali membawa Jembrana memperoleh dua emas di event Porprov Bali tahun 2011 dan 2013. Lalu, dia sempat berpindah ke Kota Denpasar dan kembali membawa emas untuk kota yang dibelanya di Porprov Bali tahun 2015 dan 2017. ”Waktu itu penawarannya menggiurkan. Satu emas dihargai Rp 10 juta, belum reward-reward lainnya,” imbuh pria yang akrab disapa Eko J itu.

Pembalap dengan spesialisasi climber itu pernah merasakan dua kali event PON, yaitu PON Riau 2012 dan PON Bandung 2016. Sayangnya, Eko belum beruntung di dua multievent olahraga nasional itu. ”Di Bali sendiri saat itu sebenarnya atletnya banyak orang Jawa. Termasuk pelatihnya juga. Jadi nyaman-nyaman saja di sana. Sedangkan di Banyuwangi saat itu balap sepeda belum seperti sekarang,” imbuhnya.

Setelah kepengurusan ISSI Banyuwangi dipegang oleh Guntur Priambodo dan event sekelas Tour de Ijen mulai digarap, Eko akhirnya pulang ke Banyuwangi. Dia ikut memperkuat tim balap sepeda asal Banyuwangi, BRCC. Dia juga ikut turun di beberapa seri Tour de Ijen.

Di setiap edisi balapan, pria yang kini bekerja sebagai tenaga harian lepas (THL) di Dinas PU Pengairan itu selalu menjadi andalan di etape yang melalui tanjakan Ijen. ”Sebenarnya saya bisa menetap di Bali. Waktu itu ditawari menjadi sopir salah satu camat di Bali, tapi saya memilih pulang. Di sini (Banyuwangi) balap sepeda sudah berkembang. Saya berharap bisa menjadi bagian di sini,” ujarnya.

Kini, setelah pandemi menghantam, Eko masih tetap eksis di dunia balap sepeda. Meski usianya tak lagi masuk usia atlet pembinaan, Eko kerap turun di event-event balapan di kelas master. Selain itu, Eko juga menjadi tour rider bagi para pembalap atau penghobi balap sepeda yang datang ke Banyuwangi. Selain menjadi destinasi wisata, banyak pegowes dari luar kota yang sengaja mengunjungi Banyuwangi untuk bermain sepeda.

Kesempatan itu diambil Eko dengan menjadi tour rider. Tak hanya mendampingi para tamu untuk berkeliling, dia juga ikut menjelaskan lokasi-lokasi yang menjadi bagian dari jalur bersepeda. Eko menunjukan spot-spot gowes dan wisata yang menarik kepada para tamu yang datang. ”Ya Alhamdulillah, bisa untuk pemasukan. Rata-rata tamu membayar antara Rp 300 ribu sampai Rp 2 juta untuk ditemani bersepeda keliling Banyuwangi,” ucapnya tersenyum.

Ke depannya, pria bertubuh ramping itu berharap punya kesempatan untuk ikut membina atlet di Banyuwangi. Meski saat ini kerap menjadi pendamping para atlet, Eko berharap bisa menjadi pelatih. Dia mengaku sangat betah dengan iklim sepeda di Banyuwangi yang dipenuhi banyak klub dan penghobi. ”Cuma saya belum punya lisensi, jadi hanya bisa mendampingi. Ingin sebenarnya menjadi pelatih supaya bisa menularkan ilmu di sini,” pungkas pria yang memiliki hobi mancing itu. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/