alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Rela Jatuh karena Kadung Cinta

MENAKLUKKAN kuda bukan perkara mudah. Jika tak paham selanya, penunggang kuda bisa terpental. Namun, kuda tampaknya sudah menjadi bagian keseharian atlet berkuda perempuan asal Banyuwangi, Jaziila Yasmin,18.

Kuda tak ubahnya kucing bagi atlet pacuan kuda asal Lingkungan Gentengan, Kelurahan Giri itu. Di luar kesehariannya sebagai mahasiswi, Jaziila selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kuda-kuda tunggangannya yang ada di Baba Stable, Desa Glagah. Jaziila sesekali tampak menyisir rambut kuda dan memijat mereka sambil sesekali mengajak ngobrol kuda-kuda itu.

”Saya suka kuda sejak kecil. Dulu tidak mau makan kalau belum naik dokar, jadi memang sudah lama suka dengan kuda,” kata Jaziila.

Ketika duduk di kelas 2 SD, Jaziila mulai bersentuhan dengan kuda. Orang tuanya membawa Jaziila untuk menunggangi kuda di Pantai Boom. Jaziila kecil pun kegirangan, kegiatan itu kemudian menjadi rutinitas setiap akhir pekan hingga dirinya duduk di bangku SMP.

”Biasanya anak kecil naik kuda dituntun, kalau saya mulai kecil sudah tanpa pendamping. Karena memang sudah seneng,” ungkap Jaziila.

Ketika duduk di bangku kelas 2 SMP, Jaziila mulai mencoba berlatih menunggangi kuda pacu di Arya Bima Stable. Berulang kali dia jatuh, tapi hal itu tak jadi kendala karena menunggangi kuda sudah menjadi salah satu motivasinya.

Hobi menunggang kuda Jaziila semakin serius setelah duduk di bangku SMA. Jaziila bergabung dengan Baba Stable, dan semakin menekuni hobi menjadi atlet berkuda. Tahun 2020, putri pasangan Cuk Sucipto dan Kukuh Tri Lestari itu mulai turun ke lapangan pacu. Wanita yang akrab disapa Ayak itu memang tampak lembut saat berbicara. Namun, jika sudah di atas lintasan berkuda, Jaziila menjadi sosok yang berbeda.

Baca Juga :  TNI AU Jajal Paralayang di Kalibaru

Jiwa Jaziila seakan sudah menyatu dengan kuda, adrenalin berpacu bersama dengan hentakan kaki kuda di lintasan. ”Awalnya cuma latihan-latihan biasa. Karena untuk kelas joki kuda pacu perempuan memang jarang. Terkadang kalau bertanding, ya bertemu joki laki-laki,” ungkapnya.

Setiap kuda, menurut Jaziila, memiliki karakter yang berbeda. Salah satu kuda pertama yang menjadi tunggangannya di dunia kuda pacu adalah kuda hitam bernama Caterine. Kuda milik Baba Stable itu menurutnya sangat lembut. Jika Jaziila jatuh, Caterine akan berhenti menunggui dirinya sampai bisa berdiri dan menungganginya lagi.

Berbeda lagi dengan kuda Albino bernama Michael yang menjadi tunggangannya saat ini. Michael lebih agresif dan terkadang susah dikendalikan. Jaziila pernah jatuh hingga cedera saat menaiki Michael. Berbeda dengan Caterine, Michael justru meninggalkannya dan terus berlari setelah tahu jokinya terjatuh. ”Setiap joki harus memiliki chemistry dengan tunggangannya. Itu mempermudah saat sudah ditunggangi. Harus ada ikatan emosionalnya,” jelasnya.

Sayangnya, kuda bernama Caterine itu mati pada tahun 2020 lalu setelah terserang tetanus. Jaziila sempat menunggui kuda kesayangannya hingga kuda itu meninggal.

Akibat peristiwa itu, Jaziila sempat tak mau datang ke Stable hampir dua bulan lamanya, karena masih susah melupakan kepergian Caterine. ”Butuh waktu antara tiga sampai enam bulan untuk mengenal kuda tunggangan. Tetapi setelah itu, perasaannya akan semakin kuat. Saya sempat menangis ketika Caterine meninggal,” ceritanya.

Baca Juga :  Skor Panahan Tertinggi, Takraw Terendah

Sepeninggal Caterine, Jaziila masih terus aktif berlatih. Dia juga berganti tunggangan menggunakan Michael untuk turun di beberapa perlombaan kuda pacu. Kecintaannya kepada kuda, membuatnya tak bisa lepas dari semua hal yang berkaitan dengan hewan tersebut. ”Kehidupan joki kuda di pertandingan keras sekali sebenarnya. Sering kali di pertandingan ada senggolan, sehingga membuat joki lain terjatuh,” paparnya.

Kehidupan joki kuda pacu yang keras, akhirnya membuat Jaziila mengaku ingin fokus ke kelas berkuda yang berbeda. Ada dua kelas yaitu dressage (keserasian) dan jumping yang menurutnya membuatnya merasa memiliki tantangan baru. Apalagi, setelah dia mengalami cedera.

Namun, Jaziila mengaku tak ingin jauh-jauh dari kehidupan berkuda. Dia pun berharap masih bisa terus memupuk karirnya di dua kelas pertandingan berkuda itu. ”Masih ingin terus berkuda, meskipun sampai nikah nanti,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Pordasi Banyuwangi Selamet Riyadi menambahkan, Jaziila cukup berani menjadi seorang joki wanita. Di Jatim hanya ada sedikit joki berkuda wanita yang eksis. Jaziila adalah salah satunya. ”Dia salah satu joki potensial di Provinsi Jatim. Satu lagi lainnya, ada joki dari Malang,” pungkasnya. 

MENAKLUKKAN kuda bukan perkara mudah. Jika tak paham selanya, penunggang kuda bisa terpental. Namun, kuda tampaknya sudah menjadi bagian keseharian atlet berkuda perempuan asal Banyuwangi, Jaziila Yasmin,18.

Kuda tak ubahnya kucing bagi atlet pacuan kuda asal Lingkungan Gentengan, Kelurahan Giri itu. Di luar kesehariannya sebagai mahasiswi, Jaziila selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kuda-kuda tunggangannya yang ada di Baba Stable, Desa Glagah. Jaziila sesekali tampak menyisir rambut kuda dan memijat mereka sambil sesekali mengajak ngobrol kuda-kuda itu.

”Saya suka kuda sejak kecil. Dulu tidak mau makan kalau belum naik dokar, jadi memang sudah lama suka dengan kuda,” kata Jaziila.

Ketika duduk di kelas 2 SD, Jaziila mulai bersentuhan dengan kuda. Orang tuanya membawa Jaziila untuk menunggangi kuda di Pantai Boom. Jaziila kecil pun kegirangan, kegiatan itu kemudian menjadi rutinitas setiap akhir pekan hingga dirinya duduk di bangku SMP.

”Biasanya anak kecil naik kuda dituntun, kalau saya mulai kecil sudah tanpa pendamping. Karena memang sudah seneng,” ungkap Jaziila.

Ketika duduk di bangku kelas 2 SMP, Jaziila mulai mencoba berlatih menunggangi kuda pacu di Arya Bima Stable. Berulang kali dia jatuh, tapi hal itu tak jadi kendala karena menunggangi kuda sudah menjadi salah satu motivasinya.

Hobi menunggang kuda Jaziila semakin serius setelah duduk di bangku SMA. Jaziila bergabung dengan Baba Stable, dan semakin menekuni hobi menjadi atlet berkuda. Tahun 2020, putri pasangan Cuk Sucipto dan Kukuh Tri Lestari itu mulai turun ke lapangan pacu. Wanita yang akrab disapa Ayak itu memang tampak lembut saat berbicara. Namun, jika sudah di atas lintasan berkuda, Jaziila menjadi sosok yang berbeda.

Baca Juga :  Gelar Kejuaraan, Penentuan Atlet Renang Masih Bisa Berubah

Jiwa Jaziila seakan sudah menyatu dengan kuda, adrenalin berpacu bersama dengan hentakan kaki kuda di lintasan. ”Awalnya cuma latihan-latihan biasa. Karena untuk kelas joki kuda pacu perempuan memang jarang. Terkadang kalau bertanding, ya bertemu joki laki-laki,” ungkapnya.

Setiap kuda, menurut Jaziila, memiliki karakter yang berbeda. Salah satu kuda pertama yang menjadi tunggangannya di dunia kuda pacu adalah kuda hitam bernama Caterine. Kuda milik Baba Stable itu menurutnya sangat lembut. Jika Jaziila jatuh, Caterine akan berhenti menunggui dirinya sampai bisa berdiri dan menungganginya lagi.

Berbeda lagi dengan kuda Albino bernama Michael yang menjadi tunggangannya saat ini. Michael lebih agresif dan terkadang susah dikendalikan. Jaziila pernah jatuh hingga cedera saat menaiki Michael. Berbeda dengan Caterine, Michael justru meninggalkannya dan terus berlari setelah tahu jokinya terjatuh. ”Setiap joki harus memiliki chemistry dengan tunggangannya. Itu mempermudah saat sudah ditunggangi. Harus ada ikatan emosionalnya,” jelasnya.

Sayangnya, kuda bernama Caterine itu mati pada tahun 2020 lalu setelah terserang tetanus. Jaziila sempat menunggui kuda kesayangannya hingga kuda itu meninggal.

Akibat peristiwa itu, Jaziila sempat tak mau datang ke Stable hampir dua bulan lamanya, karena masih susah melupakan kepergian Caterine. ”Butuh waktu antara tiga sampai enam bulan untuk mengenal kuda tunggangan. Tetapi setelah itu, perasaannya akan semakin kuat. Saya sempat menangis ketika Caterine meninggal,” ceritanya.

Baca Juga :  Gelar Turnamen Kasti

Sepeninggal Caterine, Jaziila masih terus aktif berlatih. Dia juga berganti tunggangan menggunakan Michael untuk turun di beberapa perlombaan kuda pacu. Kecintaannya kepada kuda, membuatnya tak bisa lepas dari semua hal yang berkaitan dengan hewan tersebut. ”Kehidupan joki kuda di pertandingan keras sekali sebenarnya. Sering kali di pertandingan ada senggolan, sehingga membuat joki lain terjatuh,” paparnya.

Kehidupan joki kuda pacu yang keras, akhirnya membuat Jaziila mengaku ingin fokus ke kelas berkuda yang berbeda. Ada dua kelas yaitu dressage (keserasian) dan jumping yang menurutnya membuatnya merasa memiliki tantangan baru. Apalagi, setelah dia mengalami cedera.

Namun, Jaziila mengaku tak ingin jauh-jauh dari kehidupan berkuda. Dia pun berharap masih bisa terus memupuk karirnya di dua kelas pertandingan berkuda itu. ”Masih ingin terus berkuda, meskipun sampai nikah nanti,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Pordasi Banyuwangi Selamet Riyadi menambahkan, Jaziila cukup berani menjadi seorang joki wanita. Di Jatim hanya ada sedikit joki berkuda wanita yang eksis. Jaziila adalah salah satunya. ”Dia salah satu joki potensial di Provinsi Jatim. Satu lagi lainnya, ada joki dari Malang,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/