alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Olahraga Tembak Reaksi Bikin Percaya Diri

BANYUWANGI – Olahraga menembak belum begitu populer di kalangan wanita. Namun, tidak demikian dengan Shela Sabrina, 18, atlet menembak kelas tembak reaksi asal Banyuwangi. Bungsu dari dua bersaudara itu sudah delapan tahun lebih menekuni olahraga menembak.

Wanita yang akrab disapa Eca itu awalnya hanya sebagai penonton ketika ada atlet berlatih menembak. Kebetulan ayahnya, Mohamad Dimyati, aktif di kepengurusan Perbakin kala itu. Setelah tertarik dengan olahraga menembak, Eca mulai mencoba memegang gagang senjata.

Ayahnya beberapa kali memperkenalkan cara menggunakan tembak jenis air riffle yang saat itu digunakan para atlet. Termasuk cara merawat dan keamanan memegang senjata. Sejak saat itu, Eca mulai tertarik berlatih menembak. Siswi kelas XII SMAN 1 Giri Taruna Bangsa itu mulai berani turun ke lapangan tembak. Dia mulai ikut berlatih dan mengikuti perlombaan menembak.

”Awalnya karena penasaran, sekaligus ingin olahraga. Ternyata orang-orangnya juga baik. Ada rasa kekeluargaan juga yang membuat saya tertarik menekuni olahraga menembak,” ungkap Eca.

Tahun 2016, Eca mulai mengubah jenis olahraga menembak yang ditekuni. Ketika olahraga tembak reaksi mulai tumbuh di Banyuwangi, Eca mencoba kelas olahraga menembak itu. Tembak reaksi menggunakan senjata jenis air softgun yang memerlukan kecepatan dan ketepatan dalam menembak. Merasa menemukan tantangan baru, alumnus SMPN 1 Banyuwangi itu akhirnya beralih ke tembak reaksi.

Selama tahun 2020, Eca sudah mempersembahkan dua medali dari kejuaraan terbuka seperti Perbakin Jatim Open dan Surabaya Shooting Tournament AAIPSC. Di Perbakin Jateng dia meraih medali perak dan di Surabaya Shooting Tournament berhasil mendapat medali perunggu dari kelas standar Ladies. ”Saya akhirnya lebih suka ke tembak reaksi. Pada kategori ini ada larinya juga, tidak hanya diam menembak. Jadi olahraganya lebih terasa,” kata Eca.

Untuk menjaga performanya, Eca mengaku selalu meluangkan waktu berlatih minimal dua kali seminggu. Hari yang dipilih Sabtu dan Minggu pagi. Khusus Minggu pagi, Eca nyaris tak pernah absen latihan. Bahkan, dia rela membatalkan semua agendanya agar tetap punya waktu untuk berlatih menembak.

Selain menembak, Eca yang sejak SMP menekuni olahraga atletik, bisa memaksimalkan potensinya dalam olahraga tembak reaksi. ”Jarang ada perempuan yang mau menekuni olahraga menembak. Ini yang membuat saya ingin terus menekuni, olahraga ini cukup elegan,” katanya. 

Selain mendapat manfaat kesehatan, olahraga menembak bisa melatih konsentrasi. Hal itu juga berpengaruh untuk dirinya yang masih berstatus pelajar. ”Yang penting untuk menguasai olahraga menembak harus konsisten berlatih. Ini bisa membangkitkan kepercayaan diri,” tandasnya.

BANYUWANGI – Olahraga menembak belum begitu populer di kalangan wanita. Namun, tidak demikian dengan Shela Sabrina, 18, atlet menembak kelas tembak reaksi asal Banyuwangi. Bungsu dari dua bersaudara itu sudah delapan tahun lebih menekuni olahraga menembak.

Wanita yang akrab disapa Eca itu awalnya hanya sebagai penonton ketika ada atlet berlatih menembak. Kebetulan ayahnya, Mohamad Dimyati, aktif di kepengurusan Perbakin kala itu. Setelah tertarik dengan olahraga menembak, Eca mulai mencoba memegang gagang senjata.

Ayahnya beberapa kali memperkenalkan cara menggunakan tembak jenis air riffle yang saat itu digunakan para atlet. Termasuk cara merawat dan keamanan memegang senjata. Sejak saat itu, Eca mulai tertarik berlatih menembak. Siswi kelas XII SMAN 1 Giri Taruna Bangsa itu mulai berani turun ke lapangan tembak. Dia mulai ikut berlatih dan mengikuti perlombaan menembak.

”Awalnya karena penasaran, sekaligus ingin olahraga. Ternyata orang-orangnya juga baik. Ada rasa kekeluargaan juga yang membuat saya tertarik menekuni olahraga menembak,” ungkap Eca.

Tahun 2016, Eca mulai mengubah jenis olahraga menembak yang ditekuni. Ketika olahraga tembak reaksi mulai tumbuh di Banyuwangi, Eca mencoba kelas olahraga menembak itu. Tembak reaksi menggunakan senjata jenis air softgun yang memerlukan kecepatan dan ketepatan dalam menembak. Merasa menemukan tantangan baru, alumnus SMPN 1 Banyuwangi itu akhirnya beralih ke tembak reaksi.

Selama tahun 2020, Eca sudah mempersembahkan dua medali dari kejuaraan terbuka seperti Perbakin Jatim Open dan Surabaya Shooting Tournament AAIPSC. Di Perbakin Jateng dia meraih medali perak dan di Surabaya Shooting Tournament berhasil mendapat medali perunggu dari kelas standar Ladies. ”Saya akhirnya lebih suka ke tembak reaksi. Pada kategori ini ada larinya juga, tidak hanya diam menembak. Jadi olahraganya lebih terasa,” kata Eca.

Untuk menjaga performanya, Eca mengaku selalu meluangkan waktu berlatih minimal dua kali seminggu. Hari yang dipilih Sabtu dan Minggu pagi. Khusus Minggu pagi, Eca nyaris tak pernah absen latihan. Bahkan, dia rela membatalkan semua agendanya agar tetap punya waktu untuk berlatih menembak.

Selain menembak, Eca yang sejak SMP menekuni olahraga atletik, bisa memaksimalkan potensinya dalam olahraga tembak reaksi. ”Jarang ada perempuan yang mau menekuni olahraga menembak. Ini yang membuat saya ingin terus menekuni, olahraga ini cukup elegan,” katanya. 

Selain mendapat manfaat kesehatan, olahraga menembak bisa melatih konsentrasi. Hal itu juga berpengaruh untuk dirinya yang masih berstatus pelajar. ”Yang penting untuk menguasai olahraga menembak harus konsisten berlatih. Ini bisa membangkitkan kepercayaan diri,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/