Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Suparto, Puluhan Tahun Mengabdi Jadi Tukang Kebun SD, Sudah Berkali-Kali Ikut Tes PNS Tak Pernah Lolos

Iwan Feriyanto • Senin, 28 Agustus 2023 | 18:00 WIB
BERSIH-BERSIH: Suparto menyapu halaman sekolah SDN 3 Kilensari, Kecamatan Panarukan, Minggu (27/8).
BERSIH-BERSIH: Suparto menyapu halaman sekolah SDN 3 Kilensari, Kecamatan Panarukan, Minggu (27/8).

Radar Situbondo – Suparto, warga Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, mulai resah ketika usianya sudah tak muda lagi.

Kehidupannya yang selama puluhan tahun mengabdi sebagai tukang kebun dan penjaga keamanan di lembaga pendidikan dasar yang ada di Desa Kilensari itu sudah menyentuh kepala lima. Dirinya khawatir tidak bisa bekerja kembali karena faktor usia.

Pria 59 tahun itu sudah mulai ditugaskan menjadi tukang kebun dan kemanan sekolah sejak tahun 1998 di SDN 3 Kilensari.

Dirinya tidak meminta untuk dijadikan pegawai, namun diminta oleh pihak sekolah karena jasanya mampu menjaga kemanan dan kebersihan lingkungan pendidikan.

“Saat itu saya dipanggil sama Almarhum Pak Parko (Kepala Sekolah SD 3 Kilensari) sore-sore. Saya diberi uang, terus besoknya disuruh menjadi tukang kebun di sekolah. Saat itu pertama saya kerja tahun 1998,” ujarnya, Minggu (27/8).

Kata dia, kepala sekolah tersebut tertarik kepada dirinya setelah rutin setiap sore hari membersihkan sampah dan merawat tanaman yang ada di halaman sekolah. Pasalnya, sejak aktivitas yang dilakukan dirinya itu, area sekolah menjadi lebih terawat.

“Apa yang saya lakukan seperti bersih-bersih dan merawat tanaman itu inisiatif sendiri tidak ada yang menyuruh. Saya suka saja jagain tanaman-tanaman. Nah, karena itulah Pak Parko menarik saya jadi PTT (Pegawai Tidak Tetap),” jelasnya.

Selain itu, Suparto menjelaskan, selama puluhan tahun menjadi tukang kebun itu, tugasnya terus bertambah. Namun honor yang diperoleh masih minim.

“Jadi tukang kebun, terus menjaga sekolah kalau malam hari. Khawatir terjadi apa-apa juga. Lalu, tahun 2020 tugas saya bertambah. Bukan hanya mengurusi satu sekolah saja, tapi dua sekolah sekaligus atas permintaan pihak sekolah. Yaitu SDN 3 Kilensari dan SDN 5 Kilensari,” ungkapnya.

Suparto mengatakan, sejak pertama kali menjadi PTT, honor yang diterima memang tidak besar. Sehingga, dirinya berupaya untuk bisa menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Ini dilakukan agar uang didapatkan bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

Pasalnya, sejak tahun 1998 menerima honor sebesar Rp 50 ribu dan tahun ini menerima honor sebesar Rp 300 setiap bulan.

“Karena honor jadi PTT minim, waktu itu saya berupaya untuk bisa jadi PNS. Kalau tidak salah pada saat zamannya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) jadi presiden itu saya sudah ikut tes berkali-kali, tapi tidak pernah lolos. Hasil tesnya saat itu juga saya tidak tahu,” jelasnya.

Kata dia, meski tidak pernah lolos menjadi PNS dirinya sebenarnya tidak mempermaslahkan. Meskipun saat ini masih menjadi PTT. “Saya tidak tahu kenapa tidak diangkat-angkat. Padahal teman saya itu sudah diangkat jadi PNS,” ungkapnya.

Sementara itu, Suparto mengaku khawatir di usianya yang sudah menginjak 60 tahun,  sekolah tidak lagi membutuhkan tenaganya.

“Bulan depan (September) usia saya pas 60 tahun. Kalau bekerja mengikuti aturan pegawai, usia 60 tahun itu seharusnya pensiun. Maka, kalau saya pensiun kebingungan juga,” jelasnya.

Suparto berharap, ada kebijakan yang menguntungkan dirinya. Sebab, selama ini dirinya hidup bergantung pada penghasilan sebagai tukang kebun.

“Kalau misalnya harus pensiun juga tidak apa-apa. Mungkin sudah waktunya. Tapi kalau masih diberi kesempatan, pastinya saya mau,” pungkasnya. (wan/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#honor #pegawai tidak tetap #tes pns #Tukang Kebun #kebersihan