Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tak Hanya Pandai Banyol, Main Musik Tradisional Juga Oke

Gerda Sukarno Prayudha • Rabu, 12 April 2023 | 21:12 WIB
PERGI UNTUK SELAMANNYA: Pelawak Ganjur saat berfoto bersama dengan istri Kepala Desa Kebaman Alif Burhanudin beberapa waktu lalu. Ganjur meninggal dunia pukul 05.00 Selasa pagi (11/4) di kediamannya Dusun Sukomukti, Desa Kebaman. (Deddy Jumhardiyanto/Rada
PERGI UNTUK SELAMANNYA: Pelawak Ganjur saat berfoto bersama dengan istri Kepala Desa Kebaman Alif Burhanudin beberapa waktu lalu. Ganjur meninggal dunia pukul 05.00 Selasa pagi (11/4) di kediamannya Dusun Sukomukti, Desa Kebaman. (Deddy Jumhardiyanto/Rada
SRONO, Jawa Pos Radar Banyuwani - Bagi penggemar kesenian janger, sudah tak asing dengan sosok pelawak senior bernama Ganjur. Perawakan tubuhnya yang tinggi dan kurus menjadi ciri khas pelawak asal Dusun Sukomukti, Desa Kebaman, Kecamatan Srono tersebut. Tidak hanya dikenal pandai melawak, bapak tiga anak ini juga mahir bermain musik tradisional.

Pria kelahiran 12 Maret 1954 itu dikenal cukup humoris saat berada di atas panggung. Siapa saja yang menonton, bisa dipastikan akan tertawa. Pria dengan nama asli Sujito ini memang tak banyak bicara. Namun, sekali bicara bakal mengundang gelak tawa orang yang melihat dan mendengarkannya.

Sepak terjang Ganjur di dunia hiburan janger sudah tak diragukan. Banyolannya sangat khas, tidak saja menggunakan bahasa Oseng, melainkan juga bahasa Jawa. ”Kang Ganjur ini orang yang serba bisa, tidak saja pandai melawak, tapi juga pandai menari wayang orang dan bermain musik tradisional,” ujar Juwono, salah seorang wiyaga janger.

Juwono mengaku sudah mengenal Ganjur di era tahun 1980-an. Kala itu, nama Ganjur memang belum setenar sekarang. Makin akrab setelah tahun 1990 saat bergabung bersama di grup janger Budi Utomo dari Desa Lemahbang. Kala itu, Ganjur sebagai pemain lawak bersama Glenter dan Kang Juli dari Kedaleman.

”Kalau sudah di atas pentas, sebelum melawak tariannya itu khas. Hafal dengan jenis-jenis tarian yang dibawakan. Apalagi jika membawakan tarian wayang orang, cocok dengan karakter orangnya yang tinggi, kurus,” ungkap Juwono.

Dalam perjalanan bersama grup janger Budi Utomo inilah, Ganjur mulai menemukan teman pelawak yang klop dan sepadan, yakni Bodos. Lawakan keduanya selalu ditunggu oleh penggemar kesenian janger. Tema lawakan yang dibawakan juga menyesuaikan perkembangan zaman. ”Kalau melawak, Ganjur selalu memberikan pesan-pesan moral kepada penontonnya,” jelas Juwono yang dulu sebagai penabuh kendang.

Karir Ganjur di dunia lawak mengalami masa keemasan di era tahun 2000-an. Kala itu dia bergabung dengan grup pelawak Oseng (Pelos) bersama Memet dan (alm) Bodos. Kehadiran Pelos menjadi magnet yang cukup tinggi untuk menyedot perhatian pengunjung. Setiap kali Pelos tampil, penonton dibuat terpingkal-pingkal melihat adegan kocak di atas panggung.

”Pernah beberapa kali Pelos menelurkan album lagu Banyuwangi dan beberapa kali lawakan Banyuwangi dalam bentuk video compact disc (VCD),” terang pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi ini

Selama satu panggung, Ganjur tak mudah marah dan tersinggung. Dia sangat humoris dan tidak pernah membeda-bedakan teman. ”Orangnya supel dan enak diajak ngomong. Disapa mesti menyenangkan hati dan tidak pernah menyinggung perasaan orang lain,” kenang Juwono.

Kepala Desa Kebaman Alif Burhanudin mengaku terkejut mendengar kabar Sujito alias Ganjur meninggal dunia. Betapa tidak, sepekan lalu saat berjalan bersama sang istri, dia sempat berhenti sejenak dan berbincang dengan Ganjur. Kala itu Ganjur mengenakan pakaian setelan jas berpeci putih.

”Ganjur sempat ngomong ke saya kalau job lagi sepi selama Ramadan. Lagi pula teman setelan ngelawak sudah habis. Sudah meninggal dunia semua. Saya terkejut, dengar kabar beliau meninggal dunia,” ujar Alif.

Kesempatan berbincang sepekan lalu, kata Alif, seolah  mengisyaratkan pesan terakhir Ganjur kepadanya. Dia sudah tidak bekerja karena teman-temanya melawak sudah lebih dulu berpulang. Sebut saja Suwarso alias Bodos dan Giman Darkepo yang meninggal dunia pada 12 Maret 2023 lalu.”Saat berbincang itu napasnya memang kelihatan ngos-ngosan, tapi beliau tidak sakit,” katanya.

Sujito alias Ganjur meninggal dunia sekira pukul 05.00 Selasa pagi (11/4) di kediamannya Dusun Sukomukti, Desa Kebaman, Kecamatan Srono. Semasa hidup, Ganjur memiliki tiga orang anak dan dua orang cucu. ”Beliau orang baik, supel, humoris, dan menyenangkan,” kenang Alif. (aif/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#budaya #pelawak #seni #dkb #Ludruk #Seniman #Ganjur #banyuwangi #janger