RADARBANYUWANGI.ID – Gunung Bromo berdiri megah di tengah kaldera pasir luas yang membentang di 4 kabupaten yakni Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan.
Bagi masyarakat Suku Tengger, gunung ini bukan hanya rumah para dewa, tapi juga bagian penting dari warisan leluhur mereka.
Konon, nama Tengger berasal dari gabungan nama dua tokoh mitologi Jawa, Rara Anteng yang jelita dan Joko Seger yang sakti. Cinta mereka tak hanya menyatukan dua pribadi, tapi juga jadi akar terbentuknya masyarakat Tengger di lereng Bromo.
Rara Anteng dilamar oleh seorang sakti bernama Bajak. Ia sebenarnya tidak mau menerima.
Untuk menolak, ia memberi syarat mustahil yakni membuat lautan pasir atau danau di gunung dalam semalam.
Namun Bajak hampir berhasil! Rara Anteng pun menipu dengan menabuh lesung dan membakar jerami agar ayam berkokok lebih awal.
Kesal karena gagal, Bajak melempar batok kelapa hingga membentuk Gunung Batok.
Setelah menikah, Rara Anteng dan Joko Seger sempat tak punya anak. Hingga akhirnya, mereka bersemedi dan mendapatkan anugerah 25 anak dengan satu syarat, anak terakhir harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.
Anak bungsu itu bernama Kusuma, saat waktu pengorbanan tiba, orang tua Kusuma tak kuasa melakukannya. Tapi Kusuma justru rela dan memilih melompat demi keselamatan desa.
Sebelum itu, ia berpesan agar masyarakat memberi hasil bumi ke kawah setiap tanggal 14 bulan Kasada sebagai bentuk persembahan.
Hingga kini, masyarakat Tengger memperingati pengorbanan Kusuma lewat yang bernama Upacara Kasada.
Setiap tahun saat purnama di bulan Kasada, mereka membawa hasil bumi ke kawah Bromo sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada leluhur. (*)
- Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News