RADARBANYUWANGI.ID - Di balik wajah menggemaskan kucing, siapa sangka hewan ini ternyata punya sisi mistis yang melegenda di kalangan masyarakat Jawa. Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah pesugihan kucing, mitos lama yang menghubungkan kucing dengan kekayaan gaib.
Konon, pesugihan kucing diyakini mampu membantu pemiliknya mendatangkan harta secara supranatural. Mitos ini lahir dari perpaduan kepercayaan animisme, primbon Jawa, hingga praktik ritual yang diwariskan turun-temurun di beberapa daerah.
Tidak semua kucing dianggap sakti. Di dalam cerita-cerita rakyat, kucing yang diyakini sebagai media pesugihan biasanya punya ciri khusus.
Salah satunya adalah kucing kembang telon kucing berwarna belang tiga (tricolor/calico). Kepercayaan Jawa menganggap kucing jenis ini, apalagi yang jantan (karena sangat langka secara genetik), membawa hoki luar biasa.
Selain itu, ada pula mitos tentang kucing bisu atau tuli yang disebut ‘wisnutapa’. Kucing semacam ini diyakini punya ‘kemampuan’ untuk memanggil rezeki karena konon punya garis gaib yang tersambung dengan khodam penjaga kekayaan.
Bagaimana Ritual Pesugihan Kucing Dilakukan?
Ritual pesugihan kucing tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurut cerita yang beredar, pemilik kucing harus menyiapkan sesaji khusus setiap hari. Biasanya berupa kemenyan, bunga kantil, minyak kelapa, bahkan lampu penerangan tradisional yang dinyalakan semalaman di ruang tertutup.
Ruang tersebut dipercaya sebagai ‘ruang semedi’ bagi kucing. Pemilik tidak boleh mengganggu kucing saat ia berkeliaran di dalam ruangan itu. Bahkan dalam beberapa versi, pemilik justru dilarang keras tinggal seatap dengan keluarga untuk menjaga energi gaib tetap utuh.
Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa kucing pesugihan hanya mau mendatangi pemilik yang ‘bersih’ dari keraguan. Jika ritual sesaji terlewat satu malam saja, dipercaya rezeki yang dikumpulkan akan lenyap seketika.
Tumbal dan Tulang Kucing
Mitos pesugihan kucing juga lekat dengan cerita gelap tentang tumbal. Ada kepercayaan kuno bahwa sebagian orang mempraktikkan ilmu hitam dengan tulang kucing, terutama kucing hitam. Tulang kucing ini konon dijadikan jimat untuk ilmu menghilang atau ilmu pesugihan tertentu.
Untuk mendapatkannya, orang yang ‘ilmu hitamnya tinggi’ akan sengaja mengubur kucing secara ritual lalu menggali kembali kerangkanya. Tindakan ini diyakini bisa membuka jalur komunikasi dengan makhluk gaib penjaga kekayaan.
Dalam beberapa versi, kucing yang sudah ‘selesai’ membantu pesugihan bisa hilang begitu saja tanpa jejak—seolah-olah pergi ke alam lain. Sebagian orang percaya, kucing itu pulang ke dunia gaib setelah tujuannya tercapai.
Seiring perkembangan zaman, kepercayaan pada pesugihan kucing perlahan memudar. Banyak kalangan muda menganggapnya sekadar takhayul, sedangkan sebagian lagi melihatnya sebagai warisan spiritual yang menimbulkan konflik batin.
Dalam pandangan spiritual Jawa, praktik semacam ini memang erat dengan unsur syirik. Sebagian ulama dan tokoh adat pun mengecam praktik pesugihan kucing karena menyalahi ajaran agama dan nilai moral.
Di sisi lain, ada pula yang menilai pesugihan kucing hanyalah simbol sugesti, karena orang yang yakin sepenuh hati pada satu hal bisa saja bekerja lebih keras dan tak sadar rezekinya datang dari usahanya sendiri, bukan kucing.
Terkadang, cerita pesugihan kucing lebih sering dijadikan bahan obrolan di warung kopi, forum horor, atau konten misteri di media sosial.
Sebagian orang masih mencari kucing kembang telon untuk peliharaan dan bukan untuk pesugihan.
Namun pada akhirnya, mitos tetaplah mitos. Percaya atau tidak, semua berpulang pada hati masing-masing.
Disclaimer: Artikel ini disusun semata-mata untuk tujuan pengetahuan budaya dan cerita rakyat Nusantara. Penulis tidak bermaksud menganjurkan, membenarkan, atau mendukung praktik pesugihan, ritual syirik, atau aktivitas sejenis yang bertentangan dengan ajaran agama maupun norma hukum.
Pembaca diimbau untuk menyikapi informasi ini dengan bijak dan tidak menirunya. Segala bentuk kepercayaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing.
Editor : Agung Sedana