Mainan meriam ini mungkin masih digunakan saat pawai Agustusan di wilayah pinggiran. Itu pun sudah jarang ditemui warga yang menggunakannya.
Ini lantaran gangguan ketertiban yang ditimbulkan. Salah satunya, suara menggelegar yang dihasilkan meriam karbit sangat keras. Suaranya bisa didengar hingga ratusan meter dari asal suara.
Mercon pendem memiliki suara menggelegar yang jauh lebih dahsyat dibandingkan mercon konvensional seperti mercon sreng dor, mercon banting, mercon renteng, dan lain sebagainya.
Cara membuat mercon pendem diawali dengan menggali lorong mendatar di tanah dengan panjang 75 sentimeter. Lorong itu kemudian ditutup dengan batu, tanah, dan ditindih batu-batuan.
Salah satu lorong diberi lubang pemicu untuk menyulut api dan lubang lainnya digunakan untuk muara ledakan.
Di dalam lorong itu dimasukkan sebuah cangkir berisi air dengan penjepit dari bambu yang di dalamnya dimasukkan bongkahan karbit.
Kurang lebih satu atau dua menit kemudian, gas akan memadati ruangan tersebut. Begitu api disulutkan ke lubang pemicu, akan terdengar suara dentuman menggelegar.
Meskipun cukup mengasyikkan bagi anak-anak pada masanya, mercon pendem sudah tidak lagi populer. Ini karena butuh tempat terbuka dan jauh dari permukiman untuk memainkannya. Karena itu, tak banyak anak zaman sekarang yang bermain meriam ini.
Hanya di beberapa daerah yang masih menggunakan mercon pendem ini sebagai tradisi menyambut Idul Fitri. Salah satunya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Warga biasanya menyalakan meriam karbit di tepi Sungai Kapuas. (gas/bay)
Editor : Niklaas Andries