RadarBanyuwangi.id – Senin (18/12) menjadi momen penting bagi masyarakat Bumi Blambangan. Semua memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-252. Mengapa dipilih tanggal tersebut?
Kabupaten berjuluk the Sunrise of Java ini sudah berusia 252 tahun. Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri mengungkapkan bahwa pemilihan tanggal 18 Desember sebagai Harjaba telah melalui sejarah panjang.
”Waktu itu masih keterbatasan media. Pada akhirnya, dulu dapat dokumen dengan bahasa Belanda. Kemudian, ada diskusi dalam kurun waktu cukup panjang untuk pelaksanaan seminar nasional penentuan Harjaba,” ujar Hasan.
Pada tahun 1991, seminar penentuan Harjaba diselenggarakan di kantor DPRD Banyuwangi. Seminar itu dihadiri oleh berbagai pemakalah dari universitas lain.
Seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, dan beberapa perguruan tinggi lainnya.
Setelah melalui perdebatan dalam seminar itu, akhirnya dipilih tanggal 18 Desember sebagai Harjaba.
Ada sejumlah pernyataan yang sempat dikemukakan dalam seminar tersebut.
Seperti argumen berdasar Babad Buleleng. Tapi kelemahannya, tidak ditemukan tanggal pada Babad Buleleng.
”Jadi, hanya disebutkan Panji Sakti mendarat di Pesisir Toyoarum (Banyuwangi). Dalam babad tersebut tidak bisa ditemukan tanggalnya,” jelas Hasan.
Sementara itu, tanggal 18 Desember terpilih menjadi peringatan Harjaba berdasar sejarah Perang Puputan Bayu. Di mana pasukan Blambangan memperoleh kemenangan pada 18 Desember 1771.
Kala itu masyarakat Blambangan berhasil memukul mundur pasukan Vereenigde Oost-indische Compagnie (VOC) yang menyerang dari dua arah berbeda. Dari sisi kanan dan kiri di Benteng Bayu di Kecamatan Songgon.
”Padahal dari segi persenjataan, orang Blambangan sangat jauh. Karena VOC telah menggunakan meriam dorong. Sedangkan pasukan Blambangan kebanyakan hanya menggunakan tulup (semprong),” ucap Hasan.
Pada waktu itu, lanjut Hasan, orang Blambangan menggunakan taktik perang gerilya. Yakni dengan membuat jebakan yang disebut dengan sungga.
Jebakan berupa sumur dengan kedalaman tiga meter hingga empat meter, yang di dalamnya diberi bambu lancip dan dilumuri racun di ujungnya. Saat ini kawasan itu sendiri dikenal dengan sebutan Dusun Sumuran.
Dipilihnya tanggal 18 Desember sebagai Harjaba juga menjadi simbol pengorbanan, heroisme, dan kecintaan pada negara yang berdaulat.
Tepatnya, masyarakat Bumi Blambangan yang menjunjung tinggi nilai kemerdekaan dan harkat martabat sebagai penduduk lokal.
”Diharapkan dengan memilih tanggal itu (18 Desember, Red), generasi muda penerus bangsa di Banyuwangi menjadi bangga terhadap perjalanan sejarah leluhurnya,” pungkas Hasan. (rei/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin