Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Galang Gerak Budaya Tapal Kuda Dapat Sambutan Meriah dari Masyarakat Lojejer Jember

Ali Sodiqin • Sabtu, 18 November 2023 | 23:09 WIB
Photo
Photo

JEMBER, RadarBanyuwangi.id – Masyarakat Desa Lojejer dan sekitarnya di Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember menyambut pelaksanaan Galang Gerak Budaya Tapal Kuda.

Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 16 dan 17 November 2023 mendapatkan dukungan dari Pemerintah Desa Lojejer, tokoh masyarakat setempat hingga seluruh warga di Desa Lojejer, bukan itu saja beberapa sanggar seni dari luar Desa Lojejer turut tampil pada kegiatan GGBTK ini.

Salah satu pusat perhatian dalam kegiatan GGBTK di Desa Lojejer ini adalah Grebeg Bhumi Watangan, 17/11/23, mempersembahkan arak-arakan gunungan hasil pertanian warga yang mengambil titik berangkat dari Lapangan Desa Lojejer menuju Balai Desa Lojejer. 

Ratusan peserta grebeg yang terdiri dari perangkat desa, guru, penari sanggar, dan warga masyarakat dipimpin langsung oleh Kepala Desa beserta istri.

“Grebeg ini merupakan bentuk syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Baik, karena menganugerahkan bumi Watangan yang sangat subur, sehingga dari era nenek moyang sampai dengan hari ini, warga Lojejer dan Wuluhan tetap hidup tanpa kekurangan. Maka, sudah semestinya kita terus  mempertahankan Gunung Watangan agar terus memberikan kebaikan, termasuk buat anak cucu,” tutur Mohamad Sholeh, Kades Lojejer dalam sambutannya sebelum memberangkatkan kirab grebeg.

Selain para perangkat desa, dalam kirab juga turut serta para penari sanggar dan para guru PAUD-TK yang berpakaian adat.

Mereka menyimbolkan para “Dewi Watangan” yang turun menyapa warga masyarakat. Warga desa yang berjajar di pinggir jalan cukup antusias menyambut iring-iringan para dewi tersebut.

Menurut Ikwan Setiawan, Koordinator Pusakajaya UNEJ, kehadiran para dewi secara simbolis menyampaikan makna bahwa kesuburan, kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan akan terus mengalir sebagai wujud “kesetiaan” Watangan ketika warga terus menjaga ekosistemnya.

“Namun, ketika warga sudah acuh tak acuh atau membiarkan orang-orang rakus merusaknya atas nama pertambangan, misalnya, maka Watangan tentu tidak akan mempertahankan ‘kesetiaannya’ lagi. Saat wujud Watangan hancur dan hilang karena ditambang, ancaman tsunami dari Samudra Indonesia semakin nyata. Inilah pentingnya melakukan kegiatan kultural untuk mengajak warga terus menjaga Watangan,” ujarnya di sela-sela menonton kirab bersama warga.

Sesampai di depan Balai Desa Lojejer, setelah didoakan oleh beberapa tokoh agama, gunungan hasil pertanian menjadi rebutan para warga.

Tidak sampai setengah jam, gunungan tersebut tinggal menyisakan kerangka kayu. Antusiasme warga untuk mendapatkan aneka sayur dan hasil pertanian tidak harus dibaca sebagai bentuk syirik.

Alih-alih, itu merupakan upaya mereka untuk mensyukuri semua karunia Tuhan dan mengharapkan kebaikan dari hasil pertanian yang sudah didoakan oleh tokoh agama.

Selain itu, apresiasi warga terhadap hasil pertanian dari kawasan Watangan menghadirkan makna tentang pentingnya usaha-usaha strategis untuk menjaga kedaulatan pangan.

Ragam tanaman pangan harus dipertahankan, agar warga masyarakat tidak bergantung sepenuhnya kepada padi.

Meskipun tanaman padi tumbuh subur di Lojejer dan sekitarnya, ragam pilihan bahan pangan seperti singkong, ubi jalar, ubi rambat, cakul (sorgum), dan yang lain harus terus diusahakan agar ketika terjadi krisis beras warga bisa bertahan.

Dari kegiatan slametan dan grebeg di Lojejer, setidaknya, kita bisa menangkap pesan kultural berdimensi ekologis yang perlu terus-menerus digaungkan, bahwa menghormati “kesetiaan” alam bisa dilakukan melalui tafsir dan karya kreatif.

Menciptakan ritual baru berbasis tradisi yang sudah ada sebelumnya merupakan wujud tafsir dan karya kreatif yang berusaha menyentuh aspek emosional warga masyarakat.

Keterlibatan para penari sanggar dan para guru PAUD-TK diharapkan bisa melipatgandakan kesadaran kreatif dalam wujud-wujud karya kultural yang lebih baru dan menarik.

Harapannya, kegiatan kultural untuk kepentingan rawat lingkungan alam akan terus berlangsung serta mampu mengajak generasi Z dan anak-anak, sehingga akan terus dampak positif bagi keberlanjutan hidup warga.

Berbagai bentuk dukungan dari masyarakat dalam GGBTK seolah memperlihatkan semangat masyarakat untuk terus melestarikan tradisi.

Kegiatan GGBTK diharapkan mampu mengajak kembali masyarakat untuk semakin peduli dalam memajukan kebudayaan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya #tapal kuda #nenek moyang #penari #grebek #jember #Sanggar