
Dari dalam bongkahan kisah berabad-abad silam, terdengar lagi gema suara yang telah ratusan tahun mengembarai semesta. Kemarau memijar tanah Cangkring hingga retak-retak seperti guratan luka. Tanaman layu, air sumur menipis, dan burung-burung pun enggan berkicau.
Dalam derita itu, satu nama tetap berdiri tegar: Demang Sayekti. Ia bukan pejabat resmi, hanya keponakan jauh dari Demang tua yang tak lagi perkasa berdiri. Namun, bagi rakyat Kademangan Cangkring, dialah pelindung sejati. Selalu di depan saat pencuri datang, saat gerombolan rampok menyatroni desa, atau ketika warga berselisih.
“Demang Sayekti bukan cuma pemimpin. Ia tameng kami,” kata Kiai Banjar, sesepuh dari barat dusun, suatu malam di langgar kecil. Di sisi lain duduk Kiai Cakra dan Kiai Tanggal, tiga pengayom ruhani Cangkring.
“Karena beliau murid dari Almarhum Kyai Mijil, ulama besar dari lereng Gunung Sumbing,” sambung Kiai Tanggal. “Ilmu Sayekti bukan sekadar tenaga, tapi juga cahaya batin.”
Namun, ibarat padepokan ilmu, suatu hari ujian pun tiba. Seorang utusan kerajaan datang membawa titah: Cangkring diminta segera mengirim upeti meskipun rakyat sedang kelaparan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




