Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengurangi Perilaku Membuang Sampah di Sungai

Ali Sodiqin • Jumat, 31 Maret 2023 | 22:30 WIB
Ketrine Febisia Ananda
Ketrine Febisia Ananda
MANUSIA makhluk yang produktif dan konsumtif. Manusia dapat memproduksi serta mengonsumsi berbagai hal. Semua kegiatan produksi dan konsumsi, pasti meninggalkan bekas yaitu sampah. Sampah berdampak besar dalam kehidupan. Dan, banyak pula manusia yang membuang sampah di sungai, dengan penuh kesadaran.

Indonesia diketahui menjadi salah satu negara dengan sungai terbanyak. Sayangnya, sebagian besar warga di dekat area sungai masih kerap membuang sampah sembarangan. Sungai sebagai sumber daya alam (SDA) berperan penting dalam keberlangsungan siklus air bagi kehidupan makhluk hidup. Namun, sungai yang tercemar akan berpengaruh besar terhadap kondisi lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya.

Pencemaran di sungai disebabkan banyak faktor. Bukan hanya dari limbah yang dihasilkan masyarakat sekitar, melainkan juga dari aktivitas pertanian, limbah industri, dan peternakan.

Yang termasuk sampah ialah semua benda yang sudah tidak terpakai, baik dari rumah maupun sisa proses kegiatan industri lainnya. Limbah industri yang mengandung bahan kimia seperti seng, tembaga, sianida, dan merkuri yang beracun, banyak ditemukan di sungai. Selain itu, limbah rumah tangga seperti deterjen yang mengandung zat kimia serta asam tinggi, juga mencemari sungai.

Masyarakat sering menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah, hingga menghambat jalannya air dan merusak lingkungan, bahkan mengakibatkan banjir. Sampah organik hingga non-organik, semua bisa mengotori lingkungan. Karena itu, diperlukan upaya agar kondisi sungai dapat terjaga dengan baik.

Selain banjir, banyaknya sampah juga akan mengakibatkan rusaknya ekosistem di sungai. Air sungai menjadi keruh sehingga menyebabkan sinar matahari tidak dapat masuk dalam air. Hal tersebut membuat kadar oksigen dalam sungai kian menipis.

Selain merusak lingkungan, pencemaran akibat sampah yang tidak dikelola dengan baik, dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan kita. Bisa timbul berbagai penyakit. Pencemaran lingkungan tak hanya berdampak bagi manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Sampah yang menumpuk dan membusuk mengundang banyak penyakit dari bakteri dan virus. Seperti diare, tifus, disentri, jamur, kolera, dan berbagai macam penyakit kulit.

Kesadaran masyarakat tentang membuang sampah di tempatnya sangat kurang. Hal itu terbukti dengan banyaknya sampah di sungai-sungai Indonesia. Hal ini membuat beberapa daerah di Indonesia sering dilanda bencana banjir. Dampak lain menumpuknya sampah di sungai adalah tercemarnya air, yang berdampak pada ekosistem sungai. Proses pembersihan sampah di sungai tidak bisa dilakukan sekaligus. Itu disebabkan volume sampah yang tinggi.

Volume sampah pada sungai sangat bervariasi. Pada musim hujan, volume sampah akan tinggi. Sebaliknya, saat musim kemarau, volume sampah berkurang.  Ini membuat petugas harus mengatur strategi untuk mengurangi sampah di sungai. Saat debit meningkat, terkadang petugas harus membuka pintu air sungai dan membiarkan sampah tersebut mengalir ke laut .

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi sungai adalah memilah limbah rumah tangga secara tepat dan tidak membuang ke saluran air. Masyarakat harus turut serta membantu membersihkan sungai. Dinas terkait bisa mengadakan penyuluhan kepada masyarakat agar warga daerah aliran sungai (DAS) mengerti pentingnya menjaga sungai agar tidak tercemar. Dan yang terpenting, tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

Alangkah baiknya membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Serta lebih bijak untuk belajar mengelola dan mengolah sampah dengan benar. Sebab jika tidak, sampah akan menimbulkan penyakit, merusak pemandangan, dan dampak negatif lainnya.

Sebagai contoh untuk mengurangi sampah yaitu dengan mendaur ulang sampah. Baik organik maupun anorganik. Sampah tersebut bisa didaur ulang menjadi pupuk, kerajinan tangan, hingga pembangkit listrik. Karena itu, mengelola sampah dengan cara daur ulang mesti dilakukan secara optimal.

Kita sebagai manusia memiliki derajat tertinggi dan memiliki kesadaran penuh di antara makhluk hidup lain. Sudah seharusnya manusia memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Kita tidak boleh membuang sampah sembarangan. Karena itu membawa dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan lingkungan bersih, maka hidup kita juga tentu akan lebih nyaman. (*)

*) Siswa MAN 2 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #refleksi #Sampah #Sungai #opini #persfektif