WAJAH itu masih bisa menyisakan senyum. Di tengah duka dan rasa lelah yang mendera. Siapa pun tahu, dia sedang berduka karena baru saja kehilangan salah satu buah hatinya yang begitu dicinta. Semua paham, dia masih begitu lelah, belum sempat beristirahat setelah melalui perjalanan belasan jam dari Jakarta ke Pesantren Sukorejo via darat.
Namun, senyum itu tetap mampu menyeruak di tengah tangis. Senyum yang seolah ingin menguatkan bagi siapa saja yang melihatnya. Jangan rapuh. Senyum itu seperti ingin berpesan, dalam limpahan duka yang berat, siapapun harus tetap kuat.
Iya, setelah pemakaman pagi itu, masih di dalam kompleks pemakaman pendiri, pengasuh dan ahlul bait pesantren Sukorejo, Kiai Azaim tampak melangkah mendekati keluarganya. Dengan senyum teduh terhapus lah sedih di wajah. Disalami, dipeluk, dicium, dikecupnya satu-satu, bibi dan saudara-saudaranya.
Kiai Azaim memang tampak tegar. Semua dia lakukan sendiri. Memindah jenazah Lora Dhofir dari peti ke karanda. Ikut memanggul. Termasuk memindah dari keranda ke liang lahat. Diadzaninya sendiri juga. Tentu, tak mudah menata emosi dalam keadaan seperti itu. Kehilangan Lora Mohammad Dhofir, buah hati keduanya, di saat sedang tumbuh kembang lucu-lucunya.
Kiai Azaim secara tak langsung sedang ingin mengajarkan ketegaran dan keikhlasan. Tak hanya kepada santri, alumni maupun simpatisan. Tapi kepada semua mata yang tertuju padanya. Kini dia harus mencontohkan langsung dalam kehidupan nyata. Bukan hanya sebatas teori atau retorika sebagaimana saat sering disampaikan dalam ceramah-ceramahnya tentang keikhlasan.
Saat diundang dalam acara pernikahan atau acara Aqiqah, Kiai Azaim sering memberikan wejangan bahwa anak yang hadir dalam sebuah pernikahan, hakikatnya bukanlah milik ayah dan ibunya. Dia milik Allah yang dianugerahkan kepada sang ayah dan ibu. Sehingga, kapan saja diberi atau diambil oleh Sang Maha Pemilik, manusia harus selalu siap. Dan, inilah yang sedang dibuktikan oleh Kiai Azaim saat ini.
Siapa yang tak eman pada Lora Dhofir ? Bocah tampan dan periang yang saat ditanya cita-citanya, selalu menjawab ingin menjadi polisi Allah. Lora Dhofir tentu bukan hanya harapan Kiai Azaim dan Ning Sari. Dia juga harapan semua orang, bagaimana bisa menjadi penerus perjuangan pendahulunya di Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo di masa yang akan datang. Namun, asa itu kini harus terhenti karena Pemilik Kehidupan menghendaki lain. Dan, Kiai Azaim sangat rela dengan keadaaan itu semua. (*)
*) Kepala Biro Jawa Pos Radar Situbondo
Editor : Ali Sodiqin