Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pesantren Kilat, Lailatul Qadar, dan Chairil Anwar

AF Ichsan Rasyid • Sabtu, 9 Juni 2018 | 13:25 WIB
pesantren-kilat-lailatul-qadar-dan-chairil-anwar
pesantren-kilat-lailatul-qadar-dan-chairil-anwar



TEMPO hari, dalam suasana bulan Ramadan, saya membaca status seorang kawan media sosial yang muncul di linimasa: ”Anakku lagi ngapain ya di Sudden Electrostatic Discharge Islamic Crash Course yang diikutinya?”


Seolah menyadari kebingungan para pembaca statusnya, kawan saya tidak lupa mencantumkan note bahwa yang dimaksudnya dengan Sudden Electrostatic Discharge Islamic Crash Course adalah pesantren petir, eh pesantren kilat.


Sudah lazim bahwa setiap Ramadan tiba, hampir seluruh pondok pesantren di penjuru Nusantara ramai-ramai menggelar pesantren kilat. Model dan ragam kitab yang dikaji dalam pesantren kilat berbeda-beda antara satu pesantren dengan pesantren lainnya. Ada yang mengkaji ulumul quran, kitab-kitab hikmah, sampai kitab-kitab ’berat’ yang mengkaji persoalan tasawuf.


Fenomena pesantren kilat ini tak lain merupakan respons dari pondok pesantren sebagai bentuk syukur dan kegembiraan mereka dalam menyambut kedatangan bulan sejuta berkah.


Penetapan kata ’kilat’ merujuk pada singkatnya waktu yang ditempuh. Jika umumnya pendidikan pesantren harus ditempuh dalam jangka waktu bertahun-tahun, khusus untuk pesantren kilat ini, alokasi waktunya sebentar saja. Hanya beberapa hari. Beberapa pesantren menyelenggarakan pesantren kilat selama 15 hari, ada juga yang sampai 25 hari atau hingga tanggal 25 Ramadan. Karena waktunya singkat, momentum pesantren kilat ini jamak diikuti oleh mereka yang tidak sempat mengikuti dan mengenyam program pendidikan pondok pesantren konvensional (baca: non-kilat) seperti mahasiswa, para pekerja, hingga mereka yang sudah berumur tua dan berkeluarga.


Singkatnya waktu ini pula yang membuat banyak orang menyebut pesantren kilat dengan istilah tabarukan. Tabarukan adalah upaya mencari keberkahan. Dalam konteks mencari berkah, yang menjadi tumpuan utama bukan soal waktu, bukan soal berapa lama waktu yang dihabiskan di pondok pesantren, namun lebih ke ranah pemaknaan.


Meski singkat, asal mampu memaknai dengan baik waktu yang dihabiskan di pondok pesantren dan mendapat keridaan kiai, bukan mustahil seseorang dapat memperoleh keberkahan melampaui mereka yang bahkan menghabiskan puluhan tahun hidupnya di pondok pesantren.


Jika ditilik, para kiai zaman dahulu sebenarnya sering menerapkan model tabarukan seperti ini dalam proses pengembaraan keilmuannya dari satu pesantren ke pesantren lain. Mereka biasanya hanya tinggal di sebuah pesantren dalam waktu singkat untuk kemudian berpindah ke pesantren lain setelah mendapatkan restu dari kiainya. Umumnya, mereka ber-khidmah kepada kiai dengan melayani segala keperluan sang kiai. Maka tak heran jika para kiai zaman dahulu memiliki banyak guru dan berbagai sanad keilmuan dari hasil pengembaraannya di beberapa pesantren untuk tabarukan.


Dalam bulan Ramadan, kita mengenal sebuah fenomena bernama lailatul qadar. Saking istimewanya lailatul qadar ini, Alquran bahkan mengabadikannya sebagai nama sebuah surat—Al Qadar. Lailatul qadar adalah malam terjadinya peristiwa agung. Di waktu inilah Allah SWT menurunkan Alquran (QS Al Qadar : 1). Alquran menyebut malam ini sebagai malam yang lebih utama ketimbang seribu bulan. Jika dikalkulasi, seribu bulan kurang lebih sepadan dengan 83 tahun.


Soal kapan terjadinya lailatul qadar, banyak hadis yang mengungkapkan tanda-tandanya. Para ulama juga tidak ketinggalan untuk merumuskan formula kemunculannya dengan mengaitkannya dengan hari awal Ramadan. Beberapa ulama berpendapat bahwa lailatul qadar terdapat di sepuluh malam terakhir, beberapa lainnya lagi berpendapat bahwa lailatul qadar bisa juga terjadi di hari-hari lain di bulan Ramadan. Apa pun upaya manusia untuk memprediksi lailatul qadar, hanya Allah SWT-lah Yang Maha Mengetahui kepastian sejatinya.


Salah satu nilai hikmah yang dapat dipetik dari fenomena lailatul qadar adalah tentang pemaknaan. Satu malam yang dilalui dengan pemaknaan yang dalam lagi, baik dalam konteks ini terhadap Alquran, lebih utama ketimbang seribu bulan. Sederhananya, jika saat lailatul qadar, kita mampu meresapi makna Alquran dan Alquran mewarnai segala laku hidup kita, tentu itu akan lebih istimewa dan lebih agung ketimbang seribu bulan lain, bahkan lebih, tanpa pemaknaan serupa.


Pemaknaan adalah esensi kehidupan. Maka ada istilah hidup mencari makna. Hidup adalah pencarian panjang tentang makna; tentang hakikat siapa kita, untuk apa kita hidup, bagaimana kita harus bersikap terhadap diri kita sendiri maupun kepada orang lain, dan berbagai penggalian terhadap beragam makna lainnya.


Perihal urgensi pemaknaan hidup, Chairil Anwar jauh-jauh hari sudah menyadarinya pula. Dalam sajak Diponegoro yang ditulis tahun 1943, secara gamblang ia menyatakan: sekali berarti, sudah itu mati.


Dalam segala aspek kehidupan, pemaknaan dan pencarian terhadap arti adalah harga mati. Bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan nyantri di pondok pesantren untuk waktu yang lama—dan hanya mampu nyantri secara kilat, tidak perlu minder dan bersikap pesimistis untuk merengkuh berkah sang kiai. Asal kita mampu memaknainya dengan baik dan benar, insya Allah keberkahan akan meliputi kita.


Ketidakbermaknaan hidup alias meaningless adalah sumber dari banyak masalah. Jika kita tidak mampu memaknai hidup, hidup kita tak lain hanyalah kehampaan dan kesia-siaan semata. Kita akan terombang-ambing dalam kegalauan hidup, tidak dapat memahami porsi dan kedudukan kita, bahkan tidak mengenal diri kita sendiri. Sikap yang tampak dari kita hanya praktik-praktik kezaliman, entah kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Korupsi, terorisme, dan segala tindakan melawan moral baik adalah hasil dari kegagalan seseorang dalam memaknai hidup. Dengan cara hidup seperti ini, bahkan kita tidak berhak mengklaim bahwa hidup yang kita jalani lebih mulia ketimbang kehidupan binatang melata sekalipun.


Bukankah hidup singkat dengan pemaknaan mendalam lagi baik –meaningful- jauh lebih berkah ketimbang hidup seribu tahun terkatung-katung tanpa makna dan menjadi sampah sosial bagi masyarakat di sekitar kita?


Maka saya tak pernah ragu bahwa hidup yang berkah adalah hidup yang dijalani dengan penuh pemaknaan yang baik dan benar. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk dapat memahami kehidupan dan memberi pemaknaan yang baik dan benar terhadapnya. Wallahu a’lam.(*)


*) Santri Ponpes Bustanul Makmur Kebunrejo, Genteng, Banyuwangi.

Editor : AF Ichsan Rasyid