Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Pembelajaran Berdiferensiasi vs Program Sistem Kredit Semester di SMA

Oleh: Syaiful Bahri*

14 September 2021, 12: 45: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Pembelajaran Berdiferensiasi vs Program Sistem Kredit Semester di SMA

Share this          

TIDAK sedikit orang yang gagal di pendidikan formal, namun sukses dalam mencapai tujuan hidupnya. Boleh kita sedikit melihat beberapa tokoh dan bahkan kepala negara yang dimaksudkan. Katakan Steve Jobs, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg contoh miliarder sukses yang meninggalkan bangku kuliah sebelum mereka lulus. Begitu juga halnya dengan Presiden Amerika Abraham Lincoln hanya memiliki sekitar satu tahun sekolah formal dalam bentuk apa pun.

Ini artinya, mereka yang gagal di pendidikan formal, bukan berarti mereka adalah orang-orang yang tidak mencapai tujuan belajar sebagaimana yang diinginkan oleh guru/pengajarnya. Namun jauh dari kesimpulan itu semua, ternyata mereka bukanlah orang-orang dalam kategori di bawah rata-rata. Melainkan hanya mereka tidak mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan mereka secara individu. Sehingga mereka mencari dan mendapatkan kebutuhannya sendiri di luar pendidikan formal.

Sebagai seorang guru di alam seperti sekarang ini, perlu kiranya kita sebagai seorang pengajar plus pendidik dan atau dosen di suatu lembaga memahami apa yang terjadi pada narasi di atas. Narasi yang diangkat dari fakta tersebut mencerminkan bahwa ada yang salah, baik dalam proses melaksanakan pembelajaran dan dalam melakukan penilaian, pada anak-anak didik kita.

Baca juga: Seleksi Kompetensi PPPK Guru Dimulai

Oleh karena itu, ”pembelajaran berdiferensiasi” sebagai jawabannya. Pada pembelajaran berdiferensiasi ini kata kuncinya adalah ”kebutuhan murid” (learner’s necessity).  Yakni bagaimana melayani kebutuhan murid-murid yang berbeda ini. Bukan berarti seorang guru harus mengajar setiap siswanya dengan cara berbeda.

Seorang ahli, Tomlison mendefinisikan pembelajaran berdiferensiasi adalah sebagai suatu usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

Dalam Permendikbud No158 tahun 2014 juga disebutkan, bahwa penyelenggaraan ”SKS” memungkinkan peserta didik mendapatkan kesempatan untuk memperoleh perlakuan sesuai dengan kapasitas belajar yang dimiliki dan prestasi belajar yang dicapainya secara perseorangan. Dengan kata kunci kapasitas belajar yang berarti daya tampung, daya serap ruang atau fasilitas yang tersedia kemampuan (maksimal), menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat dikawinkan dengan sekolah yang menerapkan program SKS.

Dengan program sistem SKS, maka upaya meningkatkan pemahaman guru terhadap penilaian melalui pembelajaran yang berdiferensiasi sangatlah jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu menjelaskan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya dengan latar belakangnya. Tujuan pembelajaran hanya dapat tercapai apabila seorang guru dapat memenuhi kebutuhan setiap muridnya.

Namun, bukan berarti guru memberikan perlakuan pembelajaran berbeda terhadap setiap muridnya. Atau dengan kata lain, guru harus mengajar dengan cara berbeda pada setiap muridnya. Untuk lebih mudahnya, lebih dulu guru harus membagi tiga level dari hasil pembelajaran.

Yaitu murid yang mana yang masih ketinggalan, murid yang mana yang mencapai tujuan pembelajaran tepat waktu, dan yang ketiga yaitu menentukan murid mana yang dapat menyelesaikan tujuan pembelajaran lebih awal. Istilah di sekolah, program SKS adalah tiga kelompok siswa yaitu siswa di bawah rata-rata, siswa rata-rata, dan siswa di atas rata-rata.

Sebagai contoh, dalam menerima pembelajaran masing-masing siswa tentunya mempunyai kesiapan belajar yang berbeda (readiness). Artinya, kalau siswa diberi suatu masalah (problem), maka akan ada tiga kelompok yaitu siswa yang sudah benar-benar dapat menemukan pemecahan (solving) dari masalah tersebut karena sudah tahu dan berpengalaman. Siswa yang tahu permasalahannya tetapi belum bisa menemukan pemecahannya. Dan yang ketiga, adalah siswa yang sama sekali tidak tahu permasalahannya dengan baik dan pemecahannya.

Selain readiness, yang kedua adalah minat siswa. Minat adalah sebagai salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Dan yang ketiga adalah profil belajar siswa. Seorang guru dalam memberikan penilaian harus juga memperhatikan profil siswanya, seperti bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarganya, dan kekhususan lainnya seperti bagaimana cara belajarnya apakah termasuk kepada pembelajar yang visual dengan melihat objek, atau pembelajar yang auditori dengan mendengarkan, membaca dengan keras atau pembelajar yang kinestetik belajar sambil melakukan pergerakan dan lain-lain.

Dengan kata lain, guru sebelum melakukan pembelajaran seharusnya sudah melakukan pemetaan lebih awal. Sehingga dari tulisan di atas penulis dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dan hal ini sangat sejalan dengan program sistem kredit semester di SMA. (*)

 *) Guru SMAN 1 Situbondo. Owner AUSEI English Institute, Alasmalang, Situbondo.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya