Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Banyuwangi, Toleransi dan Keberagaman Berbagi

Oleh: Najah Mustaghfiroh*

14 September 2021, 11: 45: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Banyuwangi, Toleransi dan Keberagaman Berbagi

Share this          

TOLERANSI merupakan masalah yang aktual sepanjang masa, terlebih lagi toleransi beragama. Islam memberikan perhatian yang tinggi terhadap perlunya toleransi beragama sejak awal perkembangan Islam, baik tersurat di dalam Alquran maupun tersirat dalam berbagai perilaku Nabi. Aktualisasi toleransi beragama di Banyuwangi dipandang sangat ideal karena itu sosialisasi dan pembinaan umat beragama di Banyuwangi sudah sangat baik.

Hal ini tidak terlepas dari manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa dilepaskan dari hubungan (interaksi sosial) dengan sesamanya. Agama sebagai pedoman perilaku yang suci mengarahkan penganutnya untuk saling menghargai dan menghormati, tetapi sering kali kenyataan menunjukkan sebaliknya, para penganut agama lebih tertarik kepada aspek-aspek yang bersifat emosional.

Saat ini di berbagai daerah interaksi sosial antaranggota maupun kelompok dalam masyarakat sering kali diwarnai dengan konflik yang dapat mengganggu terwujudnya harmoni tersebut disebabkan karena adanya persepsi, kepentingan, maupun tujuan yang berbeda di antara individu maupun kelompok dalam masyarakat. Maka, perlu penyadaran yang dilakukan seperti yang ada di Banyuwangi.

Baca juga: Bappeda Masuk Peminat Pertama

Meski agama sebagai pedoman perilaku yang suci mengarahkan penganutnya untuk saling menghargai dan menghormati, tetapi sering kali kenyataan menunjukkan sebaliknya, para penganut agama lebih tertarik kepada aspek-aspek yang bersifat emosional. Dalam hal ini Khami Zada, (2002) mengungkapkan bahwa agama bisa kehilangan makna substansialnya.

Ini jika agama digunakan dalam menjawab soal-soal kemanusiaan, yakni ketika agama tidak lagi berfungsi sebagai pedoman hidup yang mampu melahirkan kenyamanan spiritual dan objektif dalam segala aspek kehidupan umat manusia. Atau dalam istilah Karl Marx, ketika agama telah menjadi candu bagi masyarakat.

 

Dampak Kehidupan

Adanya konflik dan ketidakharmonisan antar-pemeluk agama akan sangat merugikan bagi bangsa dan negara termasuk bagi pemeluk agama itu sendiri. Ketidakharmonisan, apalagi konflik akan berdampak pada semua aspek kehidupan. Agama yang dipandang dan diamalkan semata-mata sebagai perangkat upacara dan hukum, tidaklah cukup.

Agama, khususnya Islam mendorong umatnya untuk melaksanakan ajaran secara utuh dan integral dalam bentuk hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, alam lingkungan, dan dengan Allah Sang Khalik. Penataan hubungan antar penganut agama dalam ajaran Islam berakar pada ”benih” yang telah ditanamkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ke dalam diri manusia.

Adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari bahwa manusia diciptakan-Nya senasib, secara kodrati ditempatkan di permukaan bumi ini, secara kodrati satu keturunan, secara kodrati diberi-Nya sifat-sifat dasar yang sama, ringkasnya banyak ”kebersamaan kodrati” sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan hubungan dan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material maupun spiritual.

Persaudaraan atau ukhuwah, merupakan salah satu ajaran yang mendapat perhatian penting dalam Islam. Alquran menyebutkan kata yang mengandung arti persaudaraan sebanyak 52 kali yang menyangkut berbagai persamaan, baik persamaan keturunan, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Esensi dari persaudaraan terletak pada kasih sayang yang ditampilkan dalam bentuk perhatian, kepedulian, hubungan yang akrab dan merasa senasib sepenanggungan.

Salah satu masalah yang dihadapi umat Islam di Indonesia saat ini adalah rendahnya rasa kesatuan dan persatuan sehingga kekuatan mereka menjadi lemah. Salah satu sebab rendahnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam adalah karena rendahnya penghayatan terhadap nilai-nilai Islam. Konsep kejamaahan yang tidak terpisahkan dari salat telah diabaikan dalam konteks kehidupan sosial.

Individualisme dan materialisme yang merupakan produk dari westernisasi telah menjadi pilihan sebagian umat Islam. Salat, puasa, dan haji hanya dipandang semata-mata ibadah ritual, sedangkan ruhnya tidak terbawa atau mewarnai kehidupan umat. Dalam hubungan sosial, Islam mengenalkan konsep ukhuwah dan jamaah.

Ukhuwah adalah persaudaraan yang berinti kebersamaan dan kesatuan antarsesama. Kebersamaan di kalangan muslim dikenal dengan istilah ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan yang diikat oleh kesamaan akidah. Persatuan di kalangan muslim tampaknya belum dapat diwujudkan secara nyata. Perbedaan kepentingan dan golongan sering kali menjadi sebab perpecahan umat.

Terakhir, Banyuwangi sebagai kabupaten dengan beragam pemeluk agama mengajarkan pada dunia pentingnya toleransi antar umat beragama. Pemandangan adanya gereja, yang dekat dengan wihara atau pun masjid dan pura di Banyuwangi menampilkan bahwa toleransi itu ada dan umat beragama di Banyuwangi paham akan hal tersebut. (*)

*) Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Jurusan Perbankan Syariah, IAI Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya