Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Banyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Empati Mengalir kepada Korban Kekerasan Seksual

14 September 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DIJEBLOSKAN KE TAHANAN: Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi memeriksa SW, 60, pelaku kekerasan seksual terhadap anak bawah umur, kemarin.

DIJEBLOSKAN KE TAHANAN: Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi memeriksa SW, 60, pelaku kekerasan seksual terhadap anak bawah umur, kemarin. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Kasus kekerasan seksual  yang menimpa pelajar SMP mengundang empati dari berbagai kalangan. Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi langsung menerjunkan tim untuk memberikan pendampingan kepada Bunga, 14, korban dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh kakek berusia 60 tahun.

Dispendik langsung mengutus guru tempat belajar Bunga untuk menyemangati belajar. Meski tengah dirundung masalah, Dispendik berharap Bunga tetap melanjutkan belajarnya. ”Kami prihatin dengan kejadian ini. Sebagai bentuk empati, kami telah mengutus guru setempat untuk memberikan pendampingan kepada korban,’’ ujar Plt. kepala Dispendik Banyuwangi Suratno, kemarin.

Sejak terkuak kasus pembuangan bayi Jumat kemarin (11/9), Bunga masih syok. Dia belum berani keluar dari kamarnya. Guru-gurunya berusaha menemui, tapi khawatir tambah membuat syok. Untuk menemui korban, pihak guru masih memilih waktu yang tepat. ”Masa depan anak tersebut masih panjang. Dia harus tetap mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan meski  sedang mengalami masalah pribadi. Kita minta pihak sekolah terus melakukan pendampingan, untuk bisa memulihkan trauma korban,” kata Suratno.

Baca juga: Pakis Rowo Selalu Jadi Langganan Banjir

Suratno mengaku sudah menurunkan tim trauma healing untuk pemulihan psikologi korban. Pada prinsipnya pemerintah akan memberikan penampingan  agar anak tersebut tetap semangat belajar. “Kita sudah turunka tim trauma healing. Harapannya korban tetap bisa mengenyam pendidikan,’’ tegasnya.

Sekretaris Tetap P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Banyuwangi Farida Hanum mengaku cukup perihatin melihat kejadian tersebut.  Pihaknya akan berusaha mendampingi korban untuk mendapatkan pendampingan. ”Korban pastinya mengalami tekanan psikis akibat kejadian  yang menimpanya,” katanya.

Pendampingan tersrbut bisa melalui program Ruang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Ibu-Anak (Ruang Rindu). Langkah utama yang dilakukan lebih awal adalah memulihkan  psikis korban.  ”Kita akan berusaha memaksimalkan pendampingan pemulihan psikisnya,” cetusnya.

Diungkapkan Hanum, dengan kejadian tersebut sebua pihak harus aware dengan kondisi lingkungannya. Dia juga masih menyimpan pertanyaan, dalam kurun waktu 8 bulan korban hamil, tak satu pun ada yang mengetahui. Padahal di rumah korban ada dua orang tuanya dan kakaknya yang tinggal satu rumah. ”Kebanyakan orang tua tidak pernah mengetahui perubahan dalam anak. Harusnya memang orang tua berperan aktif dalam perkembangan anak, apalagi dalam kurun waktu tersebut proses belajar di sekolah secara daring,’’ katanya.

Terkait masih minimnya kepedulian orang tua terhadap anak, Hanum  berusaha memaksimalkan sosialisasi kepada masyarakat. Tujuannya, orang tua harus bisa  mengenali perubahan anak. Demikian halnya dengan masyarakat lain, harus lebih peka membaca gelagat buruk yang dialami oleh anak bawah umur.  ”Kalau melihat kasus seperti itu, masyarakat harus cepat melaporkan kepada dinas terkait. Kita ingin masyarakat lebih mengenali, bahkan bisa melaporkannya langsung agar, orang tua  lebih peduli kepada perkembangan anaknya,” tegas aktivis yang concern terhadap perlindungan kekerasan terhadap anak dan perempuan itu.

Sementara itu, Polresta Banyuwangi tetap memproses kasus pembuang janin ke dalam sumur.

Dalam menangani perkara ini, penyidik lebih ke arah pendekatan restorative justice, yaitu dengan mengepankan cara humanis dan perdamaian.  Pertimbangannya, ibu dari bayi laki-laki yang meninggal tersebut sebagai korban persetubuhan. ”Penanganan perkara untuk Bunga ini memang dilakukan spesial, karena perkara tersebut termasuk adanya anak berhadapan dengan hukum,” ujar Kapolresta Banyuwangi, AKBP Nasrun Pasaribu.

Nasrun mengatakan, proses hukum tetap lanjut. Di mana korban yang masih di bawah umur juga sebagai korban. ”Tetap harus dalam proses, meski nantinya prosesnya dilakukan diversi,” katanya.

(bw/rio/aif/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya