Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis
Ragam Keripik, Kerupuk, dan Rempeyek

Keripik Gadung; Kalau Tak Bersih Bisa Keracunan

13 September 2021, 14: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TELATEN: Rupi’ah mencuci gadung sampai bersih sebelum dimasak.

TELATEN: Rupi’ah mencuci gadung sampai bersih sebelum dimasak. (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Gadung banyak dimanfaatkan menjadi camilan keripik yang nikmat. Namun, di balik rasanya yang nikmat, proses memasaknya cukup rumit. Dibutuhkan keahlian khusus dalam mengolahnya.

Proses pengolahan umbi gadung menjadi keripik tidaklah mudah. Butuh ketelitian, kejelian, dan pengalaman. ”Salah sedikit saja cara mengolahnya berbahaya. Bisa mendem gadung (menderita keracunan), kepala pusing, perut mual,” jelas Husnul Hotimah, perajin keripik gadung di Desa/ Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Husnul mengaku, gadung memang banyak tumbuh di kebun warga setempat. Sebab itulah, warga memilih memanfaatkan tanaman tersebut menjadi produk olahan pangan berupa keripik. Untuk membuat gadung menjadi keripik, ubi harus dicuci bersih dan dikupas kulit arinya terlebih dahulu. Selanjutnya, gadung diiris tipis-tipis. Agar efisien dan tidak menyita waktu, warga mengiris dengan menggunakan alat iris dari papan kayu dan mata pisau. Hasilnya juga sama tipis dan lebih cepat.

BUANG GETAH: Pak Endah menjemur gadung yang telah diiris tipis dan diberi campuran abu.

BUANG GETAH: Pak Endah menjemur gadung yang telah diiris tipis dan diberi campuran abu. (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Baca juga: Bahan Baku Pisang Dipasok dari Songgon

Setelah diiris, gadung yang masih mengeluarkan getah harus dinetralkan dengan cara ditaburi abu dan garam. Jika tidak merata dan getahnya masih melekat, maka bisa berakibat fatal dan mengakibatkan keracunan. Oleh karena itu, pada tahap ini harus benar-benar teliti, sabar, dan tidak terburu-buru.

Setelah permukaan gadung ditaburi dengan abu, barulah dijemur dibawa terik matahari. Setelah benar-benar kering, irisan gadung kemudian diletakkan dalam karung dan direndam selama semalam untuk menghilangkan abu gosok dan getah yang masih menempel. ”Selama merendam semalam airnya harus mengalir, tidak boleh menggenang,” ujar ibu empat anak ini.

Usai direndam, irisan gadung ditiriskan dan dikukus hingga benar-benar matang dan empuk. Tidak berhenti di situ, gadung masih harus kembali dicuci bersih dan dijemur di bawah terik matahari hingga jadi seperti kerupuk. Khusus penjemuran kali kedua dilakukan di daerah pesisir. ”Kalau dijemur di dataran tinggi, panasnya kurang terik jadi harus dibawa ke daerah pesisir yang panasnya menyengat,” jelasnya

Proses pembuatan keripik gadung memang butuh waktu cukup lama. Dari proses awal kupas, iris, hingga penjemuran kali kedua, minimal butuh waktu tiga hari tiga malam baru siap dikemas dan digoreng. Tidak terlalu berlebihan jika saat ini harga keripik gadung setengah jadi harganya mencapai Rp 30 ribu per kilogram

Umbi dengan nama Latin Dioscorea hispida ini memang tidak seperti umbi lainnya. Selain bentuknya yang unik, gadung juga hanya dipanen sekali setahun. Bagian daun dan batang tanaman tersebut sejauh ini masih belum bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan apa pun. Beda dengan singkong yang daunnya bisa dimanfaatkan untuk sayuran.

(bw/ddy/rbs/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya