Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis

Ragam Keripik, Kerupuk, dan Rempeyek

13 September 2021, 13: 45: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

RENYAH: Kripik singkong digoreng di wajan besar. Agar renyah, singkong digoreng dua kali dalam wajan berbeda.

RENYAH: Kripik singkong digoreng di wajan besar. Agar renyah, singkong digoreng dua kali dalam wajan berbeda. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Sumber karbohidrat yang tipis dan digoreng. Biasanya renyah. Namun, tidak semua yang seperti itu disebut keripik. Masih ada yang setipe dengan itu, yakni kerupuk dan rempeyek.

Dari hasil berselancar di mesin pencarian, keripik yang masuk daftar paling atas adalah keripik kentang. Dari sana diketahui, keripik kentang ditemukan secara tidak sengaja pada musim panas 1853 oleh seorang koki bernama George Crum.

George Crum, bekerja di Moon Lake Lodge di Saratoga Springs New York, Amerika Serikat. Dia dikenal ahli membuat kentang goreng tebal yang dimakan menggunakan garpu. Suatu hari, seorang pelanggan mengeluhkan kentang goreng yang terlalu tebal.

LARIS MANIS: Kripik singkok, kripik pisang, kripik sukun, dan kripik ubi jalan dijual di rombong-rombong pinggir jalan.

LARIS MANIS: Kripik singkok, kripik pisang, kripik sukun, dan kripik ubi jalan dijual di rombong-rombong pinggir jalan. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Baca juga: Kisah Yuliana dan Sri Wartini, Dua Bersaudara Pedagang Bunga Tabur

Maka, Crum membuat potongan kentang yang lebih tipis. Namun, pelanggan masih berpikir potongan kentang itu terlalu tebal. Frustrasi, dia membuat setumpuk kentang dengan potongan begitu tipis. Sehingga tidak bisa dimakan dengan garpu. Crum tidak bermaksud menyenangkan pelanggan dengan kentang goreng setipis kertas itu. Anehnya, pelanggan justru menyukai kentang tipis. Para pelanggan segera menggemari kentang yang diiris tipis-tipis tersebut. Saat itulah keripik kentang lahir. Maka, Crum membuat potongan kentang yang lebih tipis.

Masih dari hasil berkelana di search engine, ternyata keripik jenisnya bermacam-macam. Jumlahnya kini sudah menembus angka sedikitnya 41 jenis. Belum lagi yang tidak tercatat di server mesin pencarian. Karena itu, kemungkinan akan terus bertambah jenis keripik di Nusantara.

Pun di Bumi Blambangam, jenis keripik tak kalah beragam. Mulai dari keripik bayam, belut, ceker ayam, gadung, jagung, sampai rumput laut. Jadi, keripik tak hanya seputar ubi-ubian seperti singkong, talas, kentang, ketela, dan serumpunnya. Bahan olahan seperti tahu dan tempe pun ada di Banyuwangi. Aneka buah-buahan pun semua bisa diolah menjadi keripik. Mulai dari keripik mangga, nangka, hingga durian sampai buah naga.

Selain itu, keripik biasanya digoreng secara manual. Irisan yang tipis dimasukkan dalam penggorengan berisi minyak yang panas. Bisa menggunakan kompor gas maupun tungku dapur berbahan bakar kayu. Namun, ada pula metode penggorengan yang tidak biasa. Untuk bahan baku dengan kadar air yang tinggi, biasanya produsen menggunakan metode penggorengan vakum.

Sementara itu, masih ada kerancuan antara keripik dengan kerupuk dan rempeyek. Yang jelas, yang membedakan keripik dengan ”gorengan renyah” lainnya adalah irisan bahan bakunya yang sangat tipis. Mengolah keripik pun tidak perlu proses penjemuran.

Sedangkan yang masuk kategori kerupuk adalah yang bahan bakunya dihancurkan. Selain itu, sebelum proses penggorengan, kerupuk harus melalui proses penjemuran.

Yang terakhir, rempeyek juga hasil proses penggorengan yang tipis dan rasanya gurih. Namun yang membedakan, bahan baku rempeyek adalah tepung dan ada taburan isinya. Isi rempeyek bisa berupa kacang-kacangan, biji-bijian, atau bahan isian berupa ikan kecil maupun udang.

Dari penjelasan itu, sudah jelas yang membedakan antara keripik, kerupuk, dan rempeyek. Silakan diklasifikasi sendiri sebelum menyantapnya.

(bw/rbs/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya