Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Yuliana dan Sri Wartini, Dua Bersaudara Pedagang Bunga Tabur

13 September 2021, 13: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

KOMPAK: Yuliana dan Sri Wartini menjaga lapak bunga tabur, menunggu pembeli.

KOMPAK: Yuliana dan Sri Wartini menjaga lapak bunga tabur, menunggu pembeli. (Marjono/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Yuliana bertahan menjadi pedagang bunga tabur sudah puluhan tahun. Salah satu saudaranya, Sri Wartini mengikuti jejaknya. Keduanya mewarisi usaha tersebut dari nenek dan ibunya. Jika masuk Bulan Ramadan pendapatan bisa Rp 1-2 juta.

Di siang menjelang sore itu, Yuliana dan Sri Wartini tampak asik bercengkerama menunggui lapaknya di pinggir Taman Kota di Jalan Sucipto, Desa Talkandang. Kakak-beradik itu menunggu pembeli bunga taburnya. Keduanya memang menghabiskan waktunya dengan menunggu pembeli.

Yuliana berdagang bunga tabur sudah puluhan tahun. Dia menggeluti usaha itu menggantikan orang tuanya yang  sudah tak mungkin lagi berjualan karena usia. "Awalnya saya gak ada minat untuk jualan bunga tabur. Tapi secara terus-menerus saya diajak ibu, ya akhirnya bisa juga berjualan," tuturnya.

Baca juga: Diduga Tilep Dana Desa Rp 400 Juta, Kades dan Sekdes Paowan Ditahan

Dia menceritakan, usaha yang dijalani saat ini masih eksis, meski pendapatan setiap hari dari hasil dagangannya tak menentu. Kadang Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. "Kalau hari-hari biasa, kurang lebih pendapatannya segitu. Tapi, kalau Hari Kamis dan Jumat bisa mencapai Rp 500 ribu. Pembeli dipastikan ramai, karena banyak warga yang nyekar ke makam para leluhurnya," terangnya.

Diakui, pada saat menjelang Ramadan, kebutuhan bunga tabur sangat langka. Harganya pun relatif mahal. "Biasanya satu minggu sebelum puasa, warga sudah banyak pesananan untuk keperluan nyekar, dan pendapatan bisa tembus Rp 1 hingga 2 juta perhari," ujarnya.

Hal serupa, juga diakui Sri Wartini. Dia belajar pada Yuliana untuk berjualan bunga tabur. Meski dagangannya berdempetan, pendapatan setiap hari keduanya tak jauh beda. "Saya berjualan bunga tabur belajar sama kakak saya (Yuliana), dan usaha ini turun-temurun mulai dari nenek saya," terang Sri.

Sri menyampaikan, bunga tabur tak hanya dibutuhkan keperluan nyekar saja. Tapi juga dibutuhkan untuk hajatan lainnya. Seperti acara mantenan dan hajat lainnya. Yuliani dan Sri kulakan Bunga Mawar dari Kabupaten Jember. Sedangkan Bunga Melati kulakan di Desa Talkandang. "Yang dikhawatirkan jika musim juhan tiba, bunga tabur ini tak bisa bertahan lama," pungkasnya. (jon/pri)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya