Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Membangun Infrastruktur Wisata Merak-Baluran Trintegrasi Ekosistem

Oleh: Rasyuhdi*

11 September 2021, 08: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Membangun Infrastruktur Wisata Merak-Baluran Trintegrasi Ekosistem

Share this          

INFRASTRUKTUR menjadi kunci utama membuka semua akses di segala bidang, terutama dalam pengembangan infrastruktur wisata yang menjadi salah satu aspek penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor pariwisata memiliki banyak kelebihan terkait penyerapan tenaga kerja, penerimaan devisa, serta pemberdayaan domestik yang mendukung kebijakan secara inklusif.

Pembangunan Infrastruktur di kawasan Merak-Baluran sesuai dengan RPJMN 2020-2024, dalam rangka percepatan kebangkitan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi nasional. Penguatan ekosistem pariwisata desa ini juga mendapatkan perhatian penuh dari Kemenparekraf/ Baparekraf.

Menurut menteri Parekraf RI Sandiaga Uno, pariwisata desa di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pendapatan negara.

Baca juga: Sushi Gaplek hingga Pasta Singkong Tersaji di Fepanora

Sementara itu, inovasi Pemkab Situbondo untuk membangun infrastruktur wisata Merak-Baluran merupakan strategi yang sangat progresif. Pemerintah daerah mampu melihat peluang nilai perekonomian dari sektor pariwisata yang begitu besar akan tetapi semua itu tidak lepas dari Manajemen Perusahaan daerah dalam mengelolanya sehingga mampu memanfaatkan peluang yang ada.

Potensi Ekonomi Daerah

Pada tahun 2017, berdasar laporan Badan Pusat Statistik (BPS), total transaksi yang terjadi akibat kegiatan pariwisata mampu mencapai Rp. 634 triliun, meningkat 8,4 persen dibandingkan tahun 2016 yang hanya Rp.584 triliun.

Hal tersebut juga berlaku bagi setiap daerah, khususnya Situbondo. Dalam pengembangan industri pariwisata, pemerintah daerah harus mampu melihat peluang yang ada. Pemerintah harus melihat peluang berkolaborasi dengan masyarakat sekitar. Sehingga mampu meningkatkan UMKM yang ada.

Berkaca pada Tiongkok, UMKM menjadi kekuatan utama pasar mereka. Sehingga mampu membangkitkan ekonomi secara pesat. Pertumbuhan UMKM di Tiongkok mencapai 73,28 juta pada Juli 2017. Sehingga kestabilan ekonomi secara nasional sangat mudah di kontrol.

Pada era saat ini, daerah harus mampu bersaing secara nasional atau pun global. Di era pasar bebas yang dituntut bersaing secara kompetitif dengan negara-negara dari segala penjuru dunia. Pengembangan produk daerah harus mampu menghasilkan produk yang mampu bersaing secara nasional atau pun internasional. Oleh karena itu, perlu integritas dari pemerintah daerah kepada pelaku UMKM.

Masyarakat harus diberikan arahan untuk mempunyai product differentiation, yang artinya produk tersebut mempunyai keunikan tersendiri. Sehingga sulit untuk ditiru pesaing lainnya. Sehingga dalam teori product differentiation di strategi Geric Porter mempunyai makna, bahwa produk itu memang harus dihasilkan dari daerah lokal tersebut sehingga memiliki ke unikan, kekhasan, dan perbedaan tersendiri, dibandingkan produk substitusinya. Sehingga nanti mampu mempunyai daya saing yang tinggi dengan kompetitor lainnya. Entah secara nasional atau pun internasional.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di Situbondo menurun drastis pada 2020. Laju pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) pada tahun 2020, mengalami kontraksi -2,33 persen. Hal tersebut menjadi poin penting bagi pemerintah daerah saat ini.

Pemanfaatan UMKM di sektor industri wisata diharapkan mampu untuk menstabilkan ekonomi daerah kembali. Tiongkok saat ini selalu berkomitmen menstabilkan hal tersebut, sehingga ekonomi yang mereka bangun memang dari akar. Sehingga tidak gampang mengalami penurunan secara drastis.

Pengembangan Infrastruktur desa wisata tersebut, nanti diharapkan mampu membuat ekosistem baru. Sehingga masyarakat sekitar dapat merasakan manfaatnya secara signifikan.

Walakin, pemerintah daerah juga harus memperhatikan wisata yang sudah berdiri sejak lama. Sehingga mampu bersinergi dengan wisata yang baru di kembangkan. Sehingga di harapkan tidak terjadi lagi kasus serupa dengan perusahaan daerah seperti objek wisata Pantai Pasir Putih yang terancam bangkrut.

Strategis dan Kolaboratif

Situbondo merupakan daerah yang sangat strategis dalam pengembangan sektor industri pariwisata. Secara geografis, Situbondo berdekatan dengan Bali, sehingga sangat memungkinkan jika wisatawan asing akan tertarik untuk berkunjung ke Situbondo. Jika pengelolaan wisata yang dimiliki ditekuni secara intens, jalur Pantura juga merupakan komponen penting. Karena merupakan jalan utama bagi wisatawan asing atau lokal yang akan ke Bali melewati jalur darat dari arah Surabaya. 

Wisata di Situbondo akan mempunyai daya tarik tersendiri, jika kita juga memfokuskan kepada budaya yang kita miliki. Perlunya pariwisata menggandeng secara intens para komunitas seni dan budaya daerah. Karena hal itu nanti yang akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari luar. Contoh saja Bali, dengan adat budaya tari kecak dan kekentalan budaya Hindu mereka. Hal itu merupakan suatu hal baru yang dirasakan oleh wisatawan luar, yang tidak dapat mereka jumpai di daerah mereka.

Situbondo mungkin bisa dengan adat tari Ojung atau budaya lainnya. Sehingga hal tersebut nanti yang dapat menarik wisatawan dari luar. Pegiat seni budaya di daerah harus sering dikumpulkan. Terutama juga para pemuda akademisi harus di berikan ruang untuk saling berdiskusi memberikan gagasan kepada kemajuan wisata daerah. Karena hanya kolaborasi kita bersama yang dapat memajukan Situbondo dengan kebersamaan dan keharmonisan.

Semua masyarakat harus mampu bersinergi begitupun dengan pemerintah daerah. Harus mampu mendengarkan aspirasi dari semua rakyat. Strategi ini yang nanti mampu membawa industri pariwisata di Situbondo menjadi makin baik. Sehingga dengan pariwisata tersebut juga mampu memberikan dorongan secara langsung kepada kemajuan ekonomi dan pembangunan di Situbondo. Karena tidak menutup kemungkinan, Situbondo akan menjadi daerah yang sangat pesat dalam perkembangan di sektor pariwisata dan ekonomi. (*)

*) Mahasiswa Chinese Business Najing University China.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya