Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

22 Tahun tanpa Ampun

Oleh: Abdul Adim*

29 Juli 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

22 Tahun tanpa Ampun

Share this          

Heng ono tunggale..!

BENAR, memang tidak ada duanya. Hanya itu satu-satunya. Koran kebanggaan rakyat Bumi Blambangan. Sejak 1999 silam. Corong informasi paling ciamik dalam menyampaikan beragam berita seputar daerah berjuluk Sunrise of Java tersebut.

Selamat ulang tahun saya ucapkan terlebih dahulu kepada Radar Banyuwangi, di usianya yang ke-22 tahun. Usia yang matang, seumpama remaja yang lagi semangat-semangatnya, idealisme dan produktivitas masih terus menyala. Saya hanya bisa mengucapkan lewat kolom opini, mau bagaimana lagi. Pasalnya saya tidak seperti para stakeholder sebuah instansi yang bisa mengucapkan selamat secara khusus di beberapa sisi. Toh walaupun terlambat, tak masalah daripada tidak sama sekali.

Baca juga: Dirikan Pos Pengamanan Pengendalian Mobilitas Masyarakat

Saya teringat di awal Juli lalu, tepatnya 1 Juli 2021. Saat induk dari seluruh koran radar di beberapa daerah di Indonesia merayakan hari kelahirannya. Yang ke-72. Tentu di hari spesialnya, beberapa pengusaha, pejabat pemerintah, juga para politikus berlomba-lomba menggelindingkan ucapan selamat kepada Jawa Pos.

Tapi yang spesial lagi, tulisan tiga tokoh di sana membuat saya dan beberapa teman saya jadi tahu. Leak Kustiyo, Direktur Utama Jawa Pos Koran mengungkap resep umur panjang dari media tradisional di tengah derasnya arus digital. Resepnya sederhana: integritas, independensi, dan gaul terhadap zaman.

Kesungguhan dari para awak media mampu membuat eksistensi dari koran model fisik bertahan. Sebab begitu banyak koran yang tiba-tiba tidak terbit dan beralih ke media online. Berdiri dengan prinsip sendiri tanpa intervensi pihak mana pun, menjadi hal yang wajib bagi media. Karena koran memiliki sifat moderat, tidak memihak sana atau sini. Ikut serta meramaikan pasar online tentu tak boleh dilupakan, fungsinya sebagai penyeimbang dari berkembangnya zaman dan gaya hidup masyarakat sekarang.

Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh menyampaikan terkait perubahan peradaban. Soal teknologi yang tak bisa menghilangkan peran petani. Juga televisi yang tak menghapuskan peran radio. Meski televisi menyuguhkan dua hal sekaligus, audio dan gambar visual. Namun, studio siaran radio masih tetap tumbuh hingga saat ini. Yang paling menarik adalah tulisan Ravando Lie, calon doktor sejarah University of Melbourne, ia menyajikan sejarah perjalanan Jawa Pos. Dari awal diiklankan, diresmikan, hingga bahasa yang mengalami perubahan.

Lah, untuk Jawa Pos Radar Banyuwangi, saya sebenarnya berekspektasi sama. Jika perayaan ke dua-dua ini disertakan juga sejarah perjalanannya. Tapi yang terjadi hanya gambar koran edisi ultahnya dari masa ke masa, tanpa informasi bagaimana kronologinya. Saya kira juga akan ada tulisan khusus dari para reporter senior koran tersebut. Yang membuat para pembaca membuka mata, tentang gairah koran harian yang selalu menemani sarapan pagi.

Tapi tak apalah, meski didominasi wajah para tokoh beruntung yang mengucapkan selamat, saya tetap bahagia atas ulang tahun koran saya. Eh, koran rakyat Banyuwangi maksudnya.

JP-RaBa dilihat dari konten, cukup menarik. Merangkum seluruhnya, mulai dari budaya, politik, kriminalitas, hingga ekonomi dan pendidikan menjadi sasaran dalam pemberitaan. Namun, ada satu hal yang dirasa kurang dari JP-RaBa, saya mendukung opini dari dua kiai besar asal Banyuwangi yang berhasil dimintai komentar tentang JP-Raba tersebut; Kiai Hisyam Syafa’at dan Kiai Masykur Ali. Beliau-beliau mengatakan kalau peran media selain sebagai kontrol sosial masyarakat juga kontrol pemerintah. Jika hanya kontrol masyarakat, bagaimana dan siapa yang akan mengoreksi kinerja pemerintah. Masyarakat biasa tentu tak bisa seenaknya nyelonong masuk ruang rapat atau pertemuan penting lainnya, beda halnya para wartawan yang punya legalitas ”menonton” secara live di tempat acara.

Itulah yang menjadi keinginan bersama, saya dan masyarakat banyak di luar sana. Bahwa media, terutama koran lebih mengawasi dan lebih berani mengkritik pemerintahan yang keluar dari prosedur. Sebagaimana banyak koran zaman perjuangan. Bukan ditutup-tutupi atau malah melakukan konspirasi.

Pernah disampaikan oleh Wahyu Wibowo dalam jurnalnya ”Konspirasi Media Massa”, disebutkan bahwa salah satu fungsi dari media massa adalah sebagai wadah pendidikan politik bagi rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka, tak berlebihan jika koran turut menjadi pelopor dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di usianya yang sudah berkepala dua, harapan besar dari saya dan mungkin banyak orang lainnya, gedung dengan arsitektur indah sebagai markas insan pers JP-RaBa, harus selalu melahirkan inovasi demi kemajuan bersama. Terutama dalam mengingatkan tentang pentingnya membaca! Sekali lagi, saya, warga Banyuwangi, turut berduka cita, jika JP-Raba harus pamit pergi dan tak terbit lagi. Semoga tak terjadi, doa kami selalu menyertai. (*)

*) News Reader, asal Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya