Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Media Cetak Partner Pembangunan Daerah

Oleh: Erna Agustina*

29 Juli 2021, 11: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Media Cetak Partner Pembangunan Daerah

Share this          

MESKI saat ini era digital dan siapa saja mudah mendapatkan informasi melalui gawai. Namun menurut saya pribadi, sebagai akademisi, media masa terutama koran masih menempati urutan pertama dalam penyajian berita yang baik dan tentu saja tanpa hoaks.

Saat ini, informasi begitu mudah kita dapatkan wara-wiri di berbagai media sosial. Informasi ini sekarang bukan hanya menjadi pengetahuan bagi kita namun juga bisa menjadikan racun bagi otak kita jika kita tidak pintar-pintar menyaringnya.

Jika dahulu Napoleon Bonaparte mengatakan, ‘’Saya lebih takut pada sebuah pena daripada seratus meriam." Mungkin saat ini bisa diganti dengan, ‘’Saya lebih takut dengan sebuah jempol daripada seratus meriam.’’  Meski demikian tetap peran media masa terutama koran tidak bisa dinomorduakan .

Baca juga: Gelar Lomba Baca Teks Proklamasi, PKS Ajak Masyarakat Ingat Sejarah

Peran media masa sejak dahulu hingga sekarang tidak pernah tergantikan dalam memuat informasi yang bermutu dan berimbang. Dengan media masa, kita bisa membangun citra baik untuk lembaga maupun diri kita sendiri. Media masa mampu dengan cepat membentuk opini publik. Baik opini buruk maupun opini yang baik tentang sesuatu. Media mempengaruhi masyarakat dengan cara yang rumit dan dengan cara yang sangat halus.

Sehingga tidak terbantahkan lagi, bahwa media masa masih menjadi jurus yang sangat ampuh untuk membangun sebuah citra. Diakui atau tidak media masa juga sangat berperan dalam pembangunan suatu daerah. Kehadiran media masa di suatu daerah seperti di kabupaten sangat mampu mendorong suatu daerah untuk maju. Pemikiran adanya media lokal merupakan suatu yang luar bisa, pemikiran ini datang dari seorang Dahlan Iskan, yang sejak tahun 1999 dia mulai membangun jaringan koran lokal di setiap kabupaten.

       Pemikiran hebat ini seperti tak tersentuh dan tak terpikirkan oleh media lain. Dengan cepat, jaringan Jawa Pos di kabupaten yang diberi nama Radar Banyuwangi atau Radar sesuai dengan kabupaten atau kota di tempatnya berada.

Diakui atau tidak, keberadaan koran di lokal kabupaten membuat percepatan pembangunan menjadi melesat. Pengawalan kasus korupsi maupun kriminal menjadi lebih baik. Pada intinya, dengan adanya media Jawa Pos Radar ikut membantu terbentuknya pemerintahan daerah yang Good Governance.

Bagaimana tidak, Jawa Pos Radar ikut mengawal semua yang dibutuhkan masyarakat mulai dari pelayanan publik, pembangunan, masalah pendidikan, kesehatan hingga masalah hukum. Dengan adanya media lokal ini masyarakat perlu bersyukur, karena melalui koran Jawa Pos Radar ini bisa menjadi cermin bagi para pelayan masyarakat di berbagai bidang, dan juga bagi para eksekutif serta legislatif. Sehingga mereka harus cepat berbenah jika ada yang kurang sesuai.

       Sebagai eks wartawan di media Jawa Pos Radar Banyuwangi, saya merasakan betul betapa kami sangat dihargai oleh para birokrat, politikus, dan masyarakat. Mereka menganggap bahwa kami adalah salah satu alat penggerak perubahan yang ada di masyarakat. Sehingga mereka harus berhati-hati bersikap di depan kami.

Saya ingat, pernah menulis tentang seorang yang terinfeksi HIV/AIDS. Setelah berita tersebut tayang, reaksi dari masyarakat luar biasa. Ada yang menawarkan bantuan memberi susu, uang, dan makanan sehat. Hal berbeda saya terima ketika saya menulis seorang pelajar pria yang nyambi menjadi pekerja seks. Setelah berita tayang, saya mendapat banyak telepon dari masyarakat maupun Dinas Pendidikan kala itu. Mereka merasa keberatan dengan berita yang berkesan negatif.

Itulah kehebatan media. Mampu menyihir pembacanya untuk berbuat baik maupun sebaliknya. Saya juga ingat kehebatan Jawa Pos Radar Banyuwangi yang mengupas tuntas tentang korupsi Kapal LCT Sritanjung yang menyeret banyak pejabat saat itu. Bukan hanya itu, kasus pengadaan lahan lapangan terbang (lapter) juga membawa tumbal yang tidak sedikit.

Dari sini kita bisa melihat, kehebatan koran yang mampu mengupas semua kasus hingga tuntas. Masuk pada pemerintahan Bupati Anas periode pertama, hubungan media dengan birokrat di Banyuwangi mulai membaik. Media ikut dilibatkan dalam pembangunan kabupaten, sehingga Bupati Anas sering menjadi media darling di berbagai media. Banyuwangi pun menjadi terkenal di kancah nasional maupun internasional. Hal ini terus berlanjut pada pemerintahan periode kedua Bupati Anas.

Keharmonisan media dengan pemerintahan sebenarnya sudah terjalin sejak masa Bupati Samsul Hadi. Di era pemerintahan Bupati Samsul, dengan gayanya yang sangat ramah dan membaur dengan media, alm Bupati Samsul saat itu sering sekali mengajak para awak media melakukan ritual coffee morning.

Bahkan pernah suatu pagi seperti biasa, kami para wartawan berkumpul di kantor Pemkab dan tidak lama Bupati Samsul datang, turun dari mobil dan menghampiri kami. Dengan gayanya yang kental Using beliau mengatakan ‘’Kelendai wes sarapan kabeh ?’’ dengan kompak kami pun menjawab dereng Pak.

Tanpa pikir panjang, Bupati Samsul pun saat itu langsung mengajak kami sarapan di warung di depan kantor pemkab. Kami menuju warung tersebut bersama-sama berjalan kaki. Selama sarapan bersama itu, banyak hal yang diceritakan oleh Bupati, yang memuat hubungan kami para wartawan semakin dekat.

Bukan hanya itu, keharmonisan seperti itu juga saya rasakan dengan Ibu Erna Samsul Hadi, istri Bupati Samsul. Beliau sangat dekat dengan kami terutama wartawan perempuan. Saya ingat pernah suatu siang saya mendapat telepon dari beliau dan menanyakan apakah saya sudah makan. Karena saya belum makan siang, maka saya jawab belum dan beliau langsung menawarkan makan siang di Pendapa yang saat itu juga menjadi rumah dinasnya. Siang itu, saya dan beberapa teman wartawan perempuan menikmati makan siang dengan menu sego cawuk.

Kedekatan emosional inilah yang sering kali membuat para pejabat disayang para wartawan. Sehingga kami pun, para kuli disket juga terkadang merasa terbebani jika terpaksa harus menulis sesuatu yang agak tajam tentang mereka. Namun demi profesionalisme, maka kami harus menulis sesuai dengan tuntutan profesi.

Perjalanan koran Jawa Pos Radar Banyuwangi sendiri sudah sangat lama dalam mendampingi jatuh bangun Kabupaten Banyuwangi. Tanpa adanya media Jawa Pos Radar Banyuwangi, masyarakat maupun para birokrat dan politikus tidak akan mempunyai cermin yang baik. Sebagai alat koreksi dari apa yang telah mereka lakukan.

Jawa Pos Radar Banyuwangi tahun ini telah memasuki usia 22 tahun. Secara manusia, di usia ini telah mencapai kematangan dan sudah dewasa. Jawa Pos Radar Banyuwangi yang telah menemani Banyuwangi selama 22 tahun. Kami masyarakat mendapat informasi yang sejuk, menggelitik, dan terkadang juga membuat kita semua berpikir.

Harapan kami tetaplah menjadi media yang independen. Media yang bisa menjadi penyejuk di tengah ramainya berita online yang terkadang membuat telinga kita panas. Dan tetap menjadi partner untuk kemajuan Banyuwangi. Selamat ulang tahun Jawa Pos Radar Banyuwangi yang ke 22 tahun. Sukses selalu untuk kita semua. (*)

*) Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Untag 1945 Banyuwangi. Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya