Minggu, 19 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis

PPKM Diperpanjang, Okupansi Hotel Terjun Bebas

28 Juli 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TERDAMPAK PANDEMI: Hotel Illira menghidupkan lampu hotel dengan simbol love. Sejak penerapan PPKM, tingkat hunian hotel di Jalan Yos Sudarso itu menurun drastis.

TERDAMPAK PANDEMI: Hotel Illira menghidupkan lampu hotel dengan simbol love. Sejak penerapan PPKM, tingkat hunian hotel di Jalan Yos Sudarso itu menurun drastis. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Imbas perpanjangan PPKM tampaknya semakin menekan bisnis sektor perhotelan di Banyuwangi. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPC Banyuwangi mencatat, okupansi hotel di Banyuwangi terjun bebas hingga di angka 10 persen.

Kondisi ini membuat para pengusaha dalam kondisi serba sulit. Di sisi lain, mereka harus tetap menjalankan kewajiban seperti membayar karyawan, pajak, dan biaya operasional lainnya. Akan tetapi, jumlah tamu yang menginap  menurun drastis akibat banyaknya pembatasan kegiatan. Sejumlah event yang selama ini menjadi daya tarik tamu ke Banyuwangi, 100 persen dibatalkan.

Akhirnya beberapa hotel pun membuat beberapa kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi mereka. Termasuk mematikan lampu sebagian besar kamar hotel untuk menekan biaya operasional.

Baca juga: Ambulans Diminta Tak Sering Nyalakan Sirene

”Padahal sebelum PPKM, kita sempat tersenyum. Okupansi rata-rata di angka 30 persen ke atas. Bahkan, ada beberapa hotel yang sampai 90 persen,” kata Ketua BPC PHRI Banyuwangi Zaenal Muttaqin.

Terus diperpanjangnya masa PPKM, menurut Zaenal, membuat bisnis hotel semakin tidak menentu. Para pengelola kebingungan harus mengambil tindakan apa. Yang paling buruk,  beberapa hotel dan restoran sudah mulai merumahkan karyawanya. Bahkan, ada restoran yang memilih tutup karena tak bisa mengimbangi biaya operasional.

”Kondisi saat ini sudah memprihatinkan. Hotel-hotel berbintang juga sama kondisinya, kita sedang berupaya menghitung. Berapa karyawan yang dirumahkan dan berapa perbandingan okupansi dengan tahun lalu,” jelas Zaenal.

Saat PPKM, hotel memang tidak diminta tutup. Namun, tidak ada tamu yang menginap. Kondisi ini membuat para pengusaha hotel nyaris menyerah. Sejak awal pandemi, PHRI sudah mengusulkan relaksasi kepada hotel dan restoran di Banyuwangi. Mulai pajak, listrik, sampai BPJS untuk karyawan. Tapi hingga kini tidak ada respons dari Pemkab Banyuwangi.

Dalam waktu dekat, PHRI akan melakukan pertemuan bersama para pelaku wisata untuk mencari solusi bersama. Termasuk mengedepankan dialog dengan pemerintah. ”Teman-teman sempat mengajak demonstrasi, tapi kami melihat ini tidak baik untuk Banyuwangi. Karena itu kita harap ada solusi kita bisa tetap berjalan beriringan selama pandemi dan masa pembatasan ini,” tegas Zaenal.

Terkait kalkulasi jumlah karyawan hotel dan restoran yang dirumahkan, Zaenal mengaku belum mendapat angka pasti. Tapi dari tiga titik lokasi yang dihitung, angkanya sudah mencapai 100 orang. ”Tempat hiburan juga sudah memilih tutup. Ashika, Grand Royal, dan D Heroes sejak awal PPKM sudah tutup. Kita juga akan minta hearing dengan DPRD terkait masalah ini,” tandasnya. (fre/aif/c1)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya