Minggu, 19 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom
MAN NAHNU

Reputasi (Memang) Selalu Abadi

27 Juli 2021, 08: 13: 28 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Reputasi (Memang) Selalu Abadi

Share this          

”Pak, buku ttg Haka dari Rindar sdh saya taruh di meja direktur.”

PESAN itu saya terima Kamis pagi (22/7), pekan lalu. Dari Toha (Sidrotul Muntaha, manajer iklan Jawa Pos Radar Banyuwangi). Lewat WA.

Tak dinyana. Toha bisa mendapatkan buku Haka begitu cepat. Tidak sampai 24 jam. Sejak ia menerima pesan saya. Hebatnya, buku yang didapatkannya bukan hanya satu. Melainkan 10 buku!

Baca juga: Berita Lebih Akurat, Beri Ruang dan Edukasi Kalangan Melenial

Buku-buku itu langsung saya lahap. Dalam waktu singkat. Dengan teknik baca cepat, tentunya. Mengamati sampulnya. Memeriksa daftar isinya. Membaca judul, isi, dan pesan dari penulisnya. Kesimpulannya: buku-buku Haka bagus dan menarik.

Lebih dari itu. Seperti perkiraan saya. Haka sangat religius. Dan, seorang motivator jempolan. Motivasi yang ia tulis merujuk ke referensi agama. Mulai Alquran, hadis, sampai pendapat ulama. Kesan itu tergambar jelas. Dalam 10 bukunya yang saya terima: Mesra Bersama Al-Qur’an (100 Nasihat Populer Bekal Kehidupan Sehari-hari); Kelola Qolbu (Segalanya Bermula dari Hati); Menyingkap Fenomena Menangkap Makna; Menggali Hikmah Melalui Rahmah; Memaknai Haji & Umroh; Inspirasi Pagi (Tak Selamanya Jalan Berliku dan Berbatu); Kumpulan Nasihat Bijak Imam Syafi’i; Panduan Hidup Sejahtera; Jayabaya; dan Sebagian Pandangan Hidupku tentang Kehidupan.

Buku yang paling akhir disebut itu rupanya sangat spesial. Ditulis Haka sebagai kado ultah anaknya. Anak yang mana? Saya tidak tahu, persis. Rindar Suhardiansyah kah. Atau Arvy Rizaldy. Atawa Rinta Nur Armidha. Jangan-jangan, malah untuk ketiga-tiganya. Kelak, kalau bertemu dengan mereka, akan saya tanyakan. Asal tidak lupa saja. Hehehe....

Pastinya, buku berukuran mungil itu berisi pesan-pesan dan motivasi. Khusus untuk anaknya yang sedang ulang tahun. Juga anak-anaknya yang lain. Bahkan, cucu-cucunya. Orang lain pun boleh mengambil ”ilmu” tentang kehidupan dalam buku itu.

Dibuka dengan puisi panjang. Sisa halaman buku saku itu berisi penjelasan. Dari puisi tadi. Berikut petikan salah satu paragrafnya:

Terlalu cepat hidup ini

Jika kita tanpa mendesignnya

Dengan nilai-nilai prestatif

Hadapilah setiap persoalan

Dengan segala sikap positif

Itulah jati diri.

Pesan itu tidak hanya puitis. Tapi syarat dengan nilai-nilai moral. Yang bisa menjadi pegangan. Dalam mengarungi samudra kehidupan. Siapa pun bisa berlayar di laut lepas. Tapi, mereka yang menyiapkan strategi matanglah yang akan selamat. Dari amukan badai dan gulungan ombak supertinggi.

Haka ingin anak-anaknya tumbuh bukan sebagai generasi biasa-biasa saja. Ia ingin mereka berkembang dengan gemilang. Penuh prestasi. Sebab, hidup harus dihadapi sekaligus dijalani dengan perencanaan yang matang. Haka juga menginginkan, anak-anaknya punya jati diri yang kuat. Dan, yang terpenting, mereka menghadapi setiap persoalan dengan sikap positif.

Menurut informasi, Haka sudah menulis 20 buku. Materinya beragam. Mulai ekonomi, manajemen, kewirausahaan, dan keislaman. Tapi setelah membaca 10 bukunya saja, rasanya sudah cukup bagi saya. Untuk menjawab rasa penasaran. Yang terpendam selama bertahun-tahun. Buku-buku itu menyempurnakan rasa kagum saya. Kepada seorang Haka.

Terus terang, secara personal saya tidak kenal dengan Haka. Sampai beliau wafat pada 12 Juli 2021 lalu, saya hanya mengenal nama besarnya. Figur seorang akademisi, pebisnis sukses, dan berjiwa amal tinggi. Komplet. Sulit mencari sosok sehebat itu. Itulah alasan saya harus mengaguminya. Dan, bersemangat ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi, qadarullah berkata lain. Haka lebih dulu dari dipanggil Allah SWT.

Oh iya. Haka itu singkatan. Nama lengkapnya: H. Achmad Kusyairi. Sukses di berbagai bidang usaha. Ia membuat payung manajemen bernama Mahayasa Group. Juga PT Niaga Prospekta Group. Yang dirintisnya sejak 1993.

Haka aslinya seorang akademisi. Jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Begitu lulus pada 1977, ia tidak pulang ke Watukebo, Banyuwangi. Lelaki berparas ganteng itu memilih mengabdi kepada almamaternya.

Maka, sejak 1978 ia menjadi dosen di Unibraw. Kesibukannya makin bertambah saja. Setelah ia aktif di lembaga pendidikan tinggi serta peneliti pengembangan dunia usaha pada umumnya. Karirnya terus menanjak. Beberapa jabatan penting diembannya. Menjabat wakil direktur lembaga manajemen. Calon pembantu dekan Fakultas Ekonomi Unibraw. Puncaknya, pada 1985 terpilih sebagai dosen teladan.

Jiwa bisnis Haka sudah terasa sejak dalam kandungan ibunya: Hj Maskanah (alm). Ayahnya, H. Achmad Ridwan (alm) seorang pengusaha sukses. Dikenal sebagai Raja Beras. Usaha hulernya menggurita. Namanya cukup terkenal di seantero Bumi Blambangan. Namun, H Ridwan tetap menjadi menjadi orang sederhana. Alhamdulillah. Saya pernah bertemu dengannya. Meski hanya sekali. Tapi, meninggalkan kesan yang luar biasa. Ketika itu, saya menemuinya bersama owner CV Kayu Mas, H Umar Assegaf (alm). Di kantornya: di Watukebo. Membicarakan rencana acara amal bersama.

Haka menjadikan ayahnya role model. Bukan sekadar seorang ayah. Tapi, sekaligus komandan, guru, dan sahabat. Tiga status itu tertulis di halaman persembahan buku-buku karyanya. Maka, tidak begitu mengherankan, jika pada akhirnya Haka memilih meninggalkan profesi dosen dan peneliti. Ia memilih pulang kampung. Merintis bisnis. Bukan hanya melanjutkan bisnis beras orang tuanya. Melainkan lebih banyak lagi bisnis.

Tentu saja, Haka merancang bisnisnya sesuai dengan keilmuan yang digelutinya puluhan tahun di kampus. Baik saat jadi mahasiswa, maupun sebagai dosen dan peniliti. Ia terjemahkan teori ekonomi (terutama manajemen bisnis dan seluk-beluknya), ke dalam usaha nyata.

Itu bisa dilihat dari caranya memulai bisnis. Meski lahir di ”ranjang emas” yang memungkinkannya langsung membuat bisnis besar, Haka lebih memilih bisnis dengan penuh penghayatan. Ia ingin merasakan proses. Karena dari proseslah, seluk-beluk, kelemahan-keunggulan strategi bisnis bisa diketahuinya.

Haka merangkak dari bawah. Bahkan, ia memulainya sejak saat kuliah. Mulai dari makelaran mobil. Jual-beli sepeda motor dan mobil. Usaha abu gosok. Kapur tulis. Batik Madura. Sampai bengkel cat. Bahkan, ia sempat menjadi sopir angkutan sayur dari Kota Batu ke Malang.

Haka sadar betul. Hidup harus seimbang. Sukses bisnis saja belum cukup. Harus diimbangi dengan charity. Semangat berbagi. Kesadaran beramal. Ia pun sangat aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Melalui beberapa yayasan yang didirikannya. Masyarakat Banyuwangi sudah merasakan manfaatnya. Salah satunya, pesantren Tahfidzul Qur’an di Banyuwangi. Untuk santri putra dan putri. Yang ia dirikan bersama Ustad Yusuf Mansur. Haka juga tercatat sebagai donatur tetap. Beberapa yayasan Islam di kota the Sunrise of Java.

Wa ba’du. kepergian Haka meninggalkan duka mendalam. Bukan hanya bagi keluarga. Teman, mitra bisnis, dan orang yang pernah mengenalnya, juga merasa kehilangan yang luar biasa. Begitu pula dengan saya.

Tapi, ia pergi dengan tenang. Sebagai mentor dan motivator, Haka telah mengantarkan anak-anaknya sukses menjalankan sejumlah bisnis. Mulai kuliner, properti, sampai hotel. Rindar dan Arvy tercatat sebagai pengusaha muda sukses.

Sukses mereka tidak lepas dari keteguhannya memegang amanah Haka. Yakni, terus berkarya menjadi insan unggul. Bukan unggul untuk mengalahkan orang lain. Melainkan unggul menjadi manusia yang penuh manfaat. ”Beliau (Haka) berpesan bahwa hidup ini bukan perkara berapa lama hidup di dunia atau berapa panjang usia kita. Tapi seberapa besar bisa memberi manfaat kepada sekitarmu dan orang lain,” kata Rindar mengulang pesan ayahnya, seperti dikutip Jawa Pos Radar Banyuwangi (14/7).

Haka boleh pergi meninggalkan dunia. Untuk selamanya. Tapi tidak dengan ilmu dan teladannya. Dan, ilmu bisnis bernapaskan ajaran agama itu bisa ditimba oleh siapa saja. Karena Haka sudah mengikat ilmunya dengan tulisan. Dalam bentuk puluhan buku. Memang benar, nama orang baik tetap abadi, pahala amalnya tetap mengalir kepadanya. Sekalipun jasadnya sudah berkalang tanah. (Budayawan, Penulis Banyuwangi)

(bw/aif/ics/JPR)

 TOP