Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Refleksi 22 Tahun JP-RaBa

Pembaca Beri Apresiasi, Masukan, hingga Kritik

26 Juli 2021, 10: 35: 38 WIB | editor : Ali Sodiqin

UCAPAN DARI MITRA: Manajer Iklan JP-RaBa HM Sidrotul Muntoha (dua dari kanan) menerima kue tart dari pimpinan Hotel Ketapang Indah Banyuwangi, Senin (26/7) pagi.

UCAPAN DARI MITRA: Manajer Iklan JP-RaBa HM Sidrotul Muntoha (dua dari kanan) menerima kue tart dari pimpinan Hotel Ketapang Indah Banyuwangi, Senin (26/7) pagi. (Fitri/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Hari ini (26/7) Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) genap berusia 22 tahun. Usia yang cukup matang bagi sebuah media cetak untuk menyajikan informasi kepada masyarakat. Di sela merayakan HUT, pembaca dari berbagai kalangan memberikan apresiasi, masukan, hingga kritik demi kemajuan koran lokal terbesar di Banyuwangi maupun Situbondo.

Perjalanan panjang JP-RaBa hadir di Banyuwangi dan Situbondo diakui atau tidak banyak memberikan kontribusi kepada kemajuan daerah. Sajian berita yang selalu mengedepankan cover both side, sangat dinanti-nanti pembaca.

Namun, di tengah badai pandemi seperti sekarang,  untuk mendapatkan berita di lapangan butuh perjuangan keras. Wartawan maupun  fotografer yang berada di garda terdepan ”perburuan” berita dituntut untuk selalu menaati Standar Operation Prosedure (SOP).  Mereka rentan tertular Covid-19 karena tugasnya yang tiap hari selalu berinteraksi dengan banyak orang.

Baca juga: Lima Toko Ditutup dan Puluhan Warung Disegel

Alhamdulilah, di tengah pandemi sekarang ini,  JP-RaBa tetap bisa menyajikan informasi yang menyejukkan bagi pembaca. Berita-berita yang bernuansa edukasi lebih kami tonjolkan daripada menyebarkan informasi yang membuat takut masyarakat. Berita human interest yang mengulas betapa beratnya perjuangan tenaga kesehatan berada di garda lebih kami tonjolkan daripada harus ”mengumbar” informasi-informasi kematian akibat Covid-19.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memberikan apresiasi dengan pola pemberitaan yang disgughkan JP-RaBa.  Dia berharap momen spesial HUT ke-22 JP-RaBa bisa memperkuat sinergitas untuk memajukan Banyuwangi.  Penyajian informasi JP-RaBa  diharapkan dapat menjadi bentuk nyata kontribusi media untuk bisa mencerdaskan bangsa.

“Kami berterima kasih sekali kepada JP-RaBa yang ikut mendorong kemajuan daerah, khususnya Banyuwangi lewat ragam pemberitaan,’’ kata Ipuk. 

Kolaborasi antara media dengan pemeritah daerah yang selama ini telah terjalin ke depan harus terus ditingkatkan. ”Media punya peran sangat penting untuk memajukan daerah.  Pandemi jangan sampai mengendorkan semangat untuk menyampaikan informasi yang berkualitas dan memberikan semangat optimisme,’’ kata Ipuk.

Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi Muhamad Rawi menilai peran media cukup signifikan.  "Di era yang serba digital  ini, kita harus pandai dalam memilah dan memilih informasi. Banyak informasi yang tidak berdasar/hoax yang tersebar dan disinformasi yang menyebabkan kegaduhan," katanya.

Sementara itu, bagi KH. Hisyam Syafaat (selaku pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Desa Karangdoro) JP-RaBa merupakan bacaan setiap ahri. Sejak koran ini mulai terbit tahun 1999, tokoh yang akrab disapa Kiai Hisyam itu mengaku selalu membacanya.

Saat ini JP-RaBa menjadi media yang cukup dikenal dan memiliki nilai manfaat yang tinggi di masyarat. Untuk itu pemberitaannya diharapkan bisa mendorong kesejahteraan masyarakat. Salah satunya melalui ulasan-ulasan UMKM. “Berita tentang UMKM itu bagus,” usulnya.  

Kiai Hisyam melihat karakter JP-RaBa cukup dinamis. Hanya saja, fungsi kontrol pada pemerintah dianggap kurang. Di sisi ini, perlu lebih berani memasang taring dalam mengkritisi kebijiakan umum, khususnya kebijakan pemerintah. Suara kalangan oposan harus diberi ruang yang sama besar dengan pemerintah. “Beritanya harus imbang, selama ini JP-RaBa belum pernah mengkritik pemerintah,” ujarnya.

Kiai Hisyam mencontohkan, polemik tapal batas kawah Ijen yang menjadi sengketa Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, ulasannya perlu diperbesar tanpa menitikberatkan kepada salah satu pihak. Sehingga masyarakat yang terlanjut menjadikan media ini sebagai acuan utama, bisa semakin tercerahkan. “Kawah Ijen tidak pernah diberitakan, itu perlu penjelasan kepada rakyat,” jelasnya.

Kiai Hisyam mengapresiasi pemberitaan JP-RaBa yang  berkaitan perkembangan pesantren. Menurutnya, di sisi ini hubungan JP-RaBa dengan dunia pendidikan termasuk pesantren, dinilai cukup bagus. “Saya terima kasih atas berita-berita pesantren,” katanya.

Di momen ulang tahun ke-22, Kiai Hisyam berharap JP-RaBa semakin jaya dan berkembang pesat Sehingga bisa mengawal perkembangan informasi, khususnya di Banyuwangi. “Selamat, semoga semakin jaya, berkembang, dan bermanfaat,” cetusnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina, KH. Masykur Ali mengatakan berbagai berita bisa dibaca melalui online. Tapi, mantan Ketua PCNU Banyuwangi tiga periode itu menganggap semua informasi itu belum dianggap sahih jika belum tertuang di harian pagi Jawa Pos Radar Banyuwangi. “Sekarang banyak online, saya belum cukup kalau belum baca Radar,” cetusnya.

Menurut Kiai Masykur, konten di harian cetak paling popular di Banyuwangi  selalu aktual dan dipercaya. Serta bisa menjadi bahan pencerahan bagi pembaca dan masyarakat. Sebagai salah satu newsmaker, perkembangan isu-isu politik dan kebijakan pemerintah daerah. “Berita- berita perkembangan Banyuwangi, politik itu bagus, saya ingin Banyuwangi semakin maju,” jelasnya.

Saat ini tantangan media cukup tinggi, kualitas berita dan sudut pandang pemberitaan, menjadi poin tersendiri. Dari sisi konten, menurutnya JP-RaBa harus meningkatkan fungsi kontrol kepada pemerintah.  “Fungsi kritiknya perlu ditingkatkan,” harapanya. (sli/abi)

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya