Senin, 20 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Sports
icon featured
Sports
Aditya Wahyono

Tak Bisa Lepas dari Raket, Tetap Jaga Performa di Tengah Pandemi

26 Juli 2021, 19: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PELATIH ANDAL: Aditya Wahyono tetap fokus melatih anak asuhnya di GOR Bulu Tangkis ABC, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri kemarin.

PELATIH ANDAL: Aditya Wahyono tetap fokus melatih anak asuhnya di GOR Bulu Tangkis ABC, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri kemarin. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id - Dua anak usia Sekolah Dasar (SD) tampak bersemangat sembari memukul shuttlecock di GOR Bulu Tangkis ABC, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, pagi kemarin. Keringat membasahi jersey yang bertuliskan nama keduanya, Ezya dan Rifki.

Kondisi pandemi tidak menyurutkan semangat anak-anak usia belia untuk berlatih bulu tangkis. Di bawah besutan Aditya Wahyono, anak-anak tersebut diproyeksikan menjadi atlet andal bulu tangkis Banyuwangi.

Nama Aditya bukan orang baru di jagat badminton Bumi Blambangan. Pada masa mudanya, Aditya kerap mengharumkan nama Banyuwangi di kancah bulu tangkis regional Jatim. Dia kerap mempersembahkan piala kejuaraan bulu tangkis untuk warga Banyuwangi.

Baca juga: 45 Putra Daerah Lulus Seleksi Anggota Polri

Setelah gantung raket, Aditya lebih fokus sebagai pelatih. Dia pun pernah mendapat tugas sebagai Binpres PBSI Banyuwangi. Di tangan Aditya, bibit-bibit muda pebulu tangkis dia orbitkan. Salah satu atlet binaannya adalah Dyajeng Tri Hayuingtyas. Tahun 2018 lalu, bocah berusia 12 tahun itu lolos ke fase final audisi Beasiswa Bulu Tangkis Djarum 2018. Prestasi ini memang belum sekondang Kevin Sanjaya. Namun, satu harapan baru Banyuwangi di dunia olahraga Banyuwangi kembali muncul.

Semangat menelurkan pebulu tangkis muda terus dikobarkan oleh Aditya. Di tengah pandemi Covid-19, Aditya tetap melatih meski dengan jumlah atlet yang terbatas. Anak asuhnya memilih tetap berolahraga meski dengan skala terbatas untuk tetap menjaga imunitas. Selain 3M, menjaga imunitas menjadi bagian penting yang tak terpisahkan untuk tetap sehat di saat pandemi.

”Latihan tetap kita siapkan. Berhubung kondisi PPKM, jumlahnya kita kurangi. Dari 60 atlet, dalam sehari maksimal yang berlatih hanya 8 sampai 10 anak saja, itu pun tetap kita batasi,” ujar Aditya yang juga Ketua Klub PB Pemda tersebut.

Selama masa PPKM, dirinya memang tidak memaksa atlet untuk tetap berlatih. Semua dikembalikan kepada tanggung jawab dari masing-masing atlet. Aditya sebenarnya tetap memiliki target untuk bisa menjaga performa atlet-atletnya di tengah pandemi. Semenjak PPKM, banyak atlet yang berhenti berlatih bulu tangkis. Mereka khawatir tertular virus korona yang menyebar di mana saja. Sebagian dari atlet tersebut memilih diam di rumah.

Ada juga yang mulai enggan berlatih karena melihat sepinya turnamen yang selama ini menjadi salah satu daya tarik para atlet untuk tetap berlatih. Tapi masih ada juga yang tetap bersemangat berlatih. Mereka tetap ingin menjaga performa sebagai seorang atlet bulu tangkis. Adit pun memfasilitasi mereka dengan menyediakan jam-jam khusus untuk berlatih.

Umumnya atlet diberi waktu latihan sejak pukul 14.00 sampai 18.00 di GOR ABC. Dengan pembatasan jumlah atlet agar tetap sesuai dengan protokol kesehatan. Selain itu ada juga jam-jam privat yang disediakan kepada atlet yang ingin tetap berlatih dengan fokus dan aman karena jumlah atlet yang berlatih benar-benar terbatas. ”Banyak wali atlet yang khawatir. Mereka memilih tidak mengizinkan anaknya berlatih. Ada juga yang memilih privat karena lebih aman. Yang terpenting mereka tetap berlatih,”kata pelatih bersertifikat BWF itu.

Agar tetap bersemangat Adit memberikan beberapa materi game selama latihan berlangsung. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerinduan para atlet dengan gelaran turnamen bulu tangkis yang sudah jarang digelar. ”Biasanya kalau tidak ada turnamen jadi malas. Makanya kita buat latihan dengan model game. Mereka bertanding dengan rekan latihanya,” imbuhnya.

Meski banyak keterbatasan, Adit masih optimistis beberapa atlet yang tetap bersemangat dalam berlatih bisa berkembang dengan baik. Sehingga siap untuk turun di ajang-ajang kompetisi. ”Materi kita sesuaikan dengan usia. Sementara kita fokus untuk bermain tunggal. Selama rutin latihan, saya yakin tetap bisa menyesuaikan kurikulum atlet,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya