Minggu, 26 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Saiful Anam, Tukang Jagal Sapi

Enam Jam Bisa Tuntaskan Penyembelihan 12 Ekor Sapi

26 Juli 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

30 TAHUN JADI JAGAL: Saiful Anam (kiri) dibantu dua ”asistennya” siap menuntaskan penyembelihan hewan kurban di Rogojampi kemarin.

30 TAHUN JADI JAGAL: Saiful Anam (kiri) dibantu dua ”asistennya” siap menuntaskan penyembelihan hewan kurban di Rogojampi kemarin. (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Share this          

RadarBanyuwangi.id – Menjadi tukang jagal sapi bukan sembarangan. Selain harus paham ilmu agama dan ketentuan penyembelihan ternak yang halal, seorang jagal harus bisa memastikan daging ternak yang dikonsumsi aman, sehat, utuh, dan halal.

Bau anyir darah segar menyeruak saat urat leher sapi bali berwarna cokelat itu putus. Bercak darah yang muncrat ke wajah menjadi hal biasa bagi  Saiful Anam, 53, jagal sapi asal Desa Kaotan, Kecamatan Blimbingsari.

Baca juga: Hijab dalam Kehidupan Masa Kini

Tangannya cekatan memainkan sebilah pisau di genggaman. Sementara tangan kirinya memegang bagian tubuh sapi yang hendak dikuliti. Tak lebih dari satu jam, hewan kurban yang sebelumnya berdiri sudah berubah menjadi onggokan daging yang siap dibagikan. ”Saya belajar menyembelih (ternak) dari kakek saya, Haji Misbah, kira-kira 35 tahun lalu,” ungkap Saiful.

Dia tak belajar langsung teknik menyembelih maupun cara menguliti ternak. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Saiful bertugas mencatat hewan yang disembelih. Baru ketika duduk di bangku SMP, dia memberanikan diri memotong hingga menguliti ternak yang disembelih. Dari situlah kebiasaan tersebut terbangun hingga saat ini.

Pria paro baya itu tak merasa ada perbedaan saat menyembelih hewan, baik di momen Idul Adha ataupun tidak. Dia menyembelih hewan sebagai bentuk penghormatan manusia kepada binatang. ”Pisau yang digunakan harus benar-benar tajam, tidak tumpul. Harus tahu tekniknya bagaimana hewan yang disembelih biar cepat mati tanpa menyiksa,” kata Saiful.

Meski terlihat sepele, memotong hewan tidak asal potong saja. Harus tahu bagian-bagian pada tubuh hewan serta mengetahui karakteristik hewan. Begitu pula saat menguliti. Meski terlihat cepat, harus pakai teknik bagaimana permukaan kulit tidak ada yang bolong karena terkena tajamnya guratan pisau.

Di sisi lain, kata Saiful, untuk menjadi jagal memang tak sembarangan. Selain harus mengikuti ketentuan syariat Islam, dia juga memiliki tata cara sendiri dalam menyembelih hewan kurban. Tak hanya ketajaman pisau, cara memegangnya pun tak boleh asal-asalan.

Sebelum menyembelih hewan ternak, Saiful lebih dulu membaca lafaz tertentu. Di antaranya surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Jika ternak disembelih untuk kepentingan akikah, ada lafaz khusus yang dibacakan. ”Jadi, tidak sekadar tahu teknik menyembelih, tapi bagaimana daging yang disembelih atau dipotong ini aman, sehat, utuh, dan halal sesuai ketentuan syar’i,” jelasnya.

Meski sudah menjadi rutinitas tahunan, masih banyak masyarakat tak tega dengan prosesi penyembelihan hewan kurban. Apalagi saat darah segar mengucur deras dari leher hewan yang disembelih, banyak yang tak tega melihatnya.

Namun bagi Saiful, menyembelih hewan, apalagi hewan kurban, bukan lagi dunia yang mengerikan ataupun keji. Dalam waktu setengah hari atau enam jam, Saiful mengaku dapat menyembelih hingga menguliti 12 ekor sapi dengan dibantu dua orang temannya.

Ada dua jenis pisau yang dibawa, yakni pisau untuk menyembelih dan pisau untuk menguliti. Ukuran pisau berbeda-beda. Parang khusus yang panjangnya 40 sentimeter lebih dulu diasahdan disandangkan di pinggang.

Sebelum menyembelih hewan kurban, Saiful harus memastikan bahwa fisik benar-benar sehat. Kedua, parangnya harus benar-benar tajam. Stamina yang fit harus dimiliki lelaki berusia 50-an tahun ini untuk menyembelih sapi yang memiliki tenaga yang besar.

Selama 30 tahun lebih menjadi jagal hewan, Saiful sudah tak ingat lagi berapa ratus hewan kurban yang telah disembelihnya. ”Kalau ada hewan yang matanya seperti berkaca-kaca atau menangis tidak boleh merasa sedih, kasihan, dan iba. Itu tidak boleh, memang begitu ketentuannya,” tegasnya.

Sehari-hari, Saiful bertugas menyembelih ternak di rumah potong hewan (RPH) Rogojampi. Maklum, ternak yang disembelih adalah sapi yang dijual di pasar Rogojampi. ”Kebetulan selain jagal, saya juga berjualan daging sapi di Pasar Rogojampi,” ujarnya. (ddy/aif/c1)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya