Minggu, 19 Sep 2021
radarbanyuwangi
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Antara Kurban Hewan dan Korban Perasaan di Masa PPKM

Oleh: M. Samsul Huda*

26 Juli 2021, 07: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Antara Kurban Hewan dan Korban Perasaan di Masa PPKM

Share this          

KATA qurban pada saat kita merayakan Idul Adha sudah tidak asing lagi. Mulai mereka yang mengatakan saatnya kita berkurban, sampai pada istilah guyonan, “ kita sementara hanya bisa berkorban perasaan.” Atau lebih parah lagi,  “kita adalah kelompok yang dikorbankan”.

Kata kurban dan korban sebenarnya berasal dari kata yang sama dari ba­hasa Arab, yaitu qoroba, yaqrobu, qurban, qurbanan, dan qirbanan yang berarti “dekat”.

Secara terminologi kurban berarti berjuang secara benar atas dasar takwa dan sabar, baik dengan harta, tenaga, maupun jiwa dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah serta memperoleh keridhaan-Nya. Sering kali harta, tenaga, dan jiwa menjadi 'korban', belum menjadi 'kurban.' Hal ini lantaran dikeluarkannya bukan atas dasar takwa, sabar, dan ikhlas karena Allah.

Baca juga: Deretan Warung di Kalibaru Manis Dilalap Api

Sebagaimana ada peristiwa pada suatu Hari Raya Adha salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Burdah menyembelih domba sebelum pelaksanaan salat Idul Adha. Sehingga, ia hanya disebut berkorban belum berkurban, karena melakukan amal perbuatan tanpa melalui perintah dan aturan Rasulullah SAW.

Ada juga peristiwa hijrahnya Muhajir Ummu Qeis--hijrah karena terpikat wanita ia bukan kurban tapi hanya korban, niatnya bukan karena Allah. Artinya dia meninggalkan harta benda, keluarga, dan kampung halaman, tidak menjadi dekat kepada Allah SWT dan mendapatkan pahala, walaupun berkorban meninggalkan harta dan keluarganya, karena belum bernilai pengorbanan kepada Allah SWT.

Memurnikan niat dalam setiap amal merupakan langkah awal dari penyucian jiwa dan persyaratan diterimanya ibadah kurban seseorang. “Daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan pernah sampai kepada Allah tetapi yang sampai kepadanya adalah ketakwaan kamu"(QS. Al-hajj:37).

Pada saat ini, di mana diberlakukan PPKM bersamaan hari raya Idul Adha, maka berkurban hewan, berkorban perasaan, atau jadi korban dan dikorbankan menjadi fenomena yang perlu kita cermati. Serta kita hindari salah satunya, dengan mengembangkan pemahaman kita tentang berkurban itu sendiri.

Berkurban sesuai syariat sudah sangat kita pahami baik syarat, rukun pelaksanaannya dan pembagiannya, yang mempunyai dua dimensi yakni:

Pertama yaitu vertikal dalam upaya meningkatkan ketakwaan. Karena taat melaksanakan perintah Allah SWT dengan merelakan sebagian harta, atau bahkan yang paling disenangi sebagai persembahan kepada Allah SWT.

Kedua adalah horizontal, yaitu rela berbagi kepada sesama terutama mereka yang membutuhkan. Sedangkan korban perasaan sebenarnya dibutuhkan dalam setiap hal agar kemaslahatan bisa dipelihara dalam kehidupan manusia. Karena setiap orang ingin merasakan kemenangan, kesenangan, kenikmatan, kebahagiaan, kenyamanan, ketenangan dan itulah esensi kebutuhan rohani / psikis setiap makhluk, terutama manusia yang dikatakan punya perasaan.

Dari sini mungkin perlu ada pemahaman, bahwa ketika kita menyembelih hewan ternak sebagai kurban kepada Allah SWT, ternyata perlu disinkronkan dengan keharusan mengorbankan pula perasaan-perasaan superior, super-ego, dan egosentris, yaitu pola pikir yang mengutamakan ego/ambisi/keinginan pribadi, demi kesenangan, kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan orang lain. Agar sempurna dan tercapai tujuan dan hakikat berkurban yang bisa mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan. “Tidak akan pernah tercapai olehmu suatu kebaikan sebelum kamu sanggup membelanjakan (menginfakkan) sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran ayat 92)

Sebagaimana sejarah adanya ibadah kurban itu sendiri, bahwa Nabi Ibrahim AS. diuji oleh Allah dengan perintah Allah SWT, untuk menyembelih / mengorbankan putra  (Nabi Ismail AS) yang sangat dicintainya. Beliau dapat mencapai kedudukan yang mulia bersama keluarga dan anak keturunannya hingga Rasulullah SAW, karena mampu mengalahkan segala perasaannya dan cintanya, beliau berkorban dengan harta yang dimiliki dan sekaligus perasaan cintanya kepada anak dan keluarga demi cinta kepada Dzat Yang mahamencintai Allah SWT.

Bukankah di saat takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil berkumandang menyertai ibadah qurban kita, semua perasaan super-ego kita harus juga kita lemahkan atau bahkan kita hancurkan agar tunduk, tawadlu, bersimpuh, dan berserah diri kepada Allah. Karena hanya Allah yang mahabesar, mahaterpuji, dan mahasegalanya, sebagaimana perasaan yang dialami oleh Nabi Ibrahim Khalilullah saat melaksanakan kurban terbesarnya.

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. . Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.  Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang. Selamat sejahtera bagi Ibrahim." (QS. As-Shoffat 106 – 109).

Oleh karena itu, saat ini di mana kita merayakan Idul Adha, bersamaan dengan pandemi covid-19, dan sedang melaksanakan PPKM Darurat. Maka benar-benar harus berjalan bersama antara berkurban hewan dengan berkorban perasaan. Ini agar tidak terjadi kondisi di mana justru banyak perasaan-perasaan saudara kita yang jadi korban. Karena kita tidak mau mengorbankan perasaan kita untuk perasaan mereka. Sehingga kita bertindak kurang empati, kurang adil, semena-mena, ditambah serakah, yang ujung-ujungnya banyak perasaan orang lain yang terluka bahkan juga dikorbankan. Naudzubillahi min dzalik.

Maka ungkapan berkorban jiwa raga dan harta sangatlah pas dalam pelaksanaan perjuangan untuk mencapai kejayaan dan kemuliaan. Ini pula yang sikap yang dipuji Allah terhadap kaum Anshor kepada saudaranya kaum Muhajirin. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr:9).

Dan hikmah dari uraian di atas, sangatlah tepat apabila semangat berkurban dijadikan sarana me-refresh jati diri bangsa kita Indonesia sebagai bangsa yang ber-Pancasila, yang sudah mengalami perjalanan panjang mencapai kemerdekaannya. Dan dengan semangat berkorban yang sesungguhnya pula, insya Allah PPKM dan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat pun akan dapat dilaksanakan dengan baik, yang pada gilirannya pandemi covid-19 ini pun dapat diatasi bersama. Aamiin. (*)

*) Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP